
Lisanna pada akhirnya mengikuti keinginanku dengan terlihat secara terpaksa mengambil pedang kayu yang kulemparkan padanya.
“Majulah kapan saja kamu mau.”
Sikapnya yang biasanya lembut di hadapan Anoria Rosechild mendadak berubah dingin.
Ini pernah terjadi sebelumnya, yakni ketika terjadinya dungeon break di ujian kelulusan SMUT kami.
Ini adalah mode bertarung Lisanna.
Lisanna tidak terlihat sama sekali mengaktifkan aura pedangnya dan itu sangat membuatku kesal seolah aku adalah lawan yang mudah baginya untuk dikalahkan bahkan tanpa aura pedangnya.
Namun dia telah salah.
Aku mengaktifkan aura pedangku yang memercikkan petir lalu aku diam-diam menggunakan skill yang telah lama tidak aku gunakan, skill ‘cut’, pada tubuh Arnoria Rosechild.
Pengaktifan skill bukanlah sesuatu yang bisa diketahui oleh orang lain kecuali efeknya terasa jelas, jadi kurasa akan aman saja untuk tetap menyembunyikan identitasku.
Terlihat ekspresi kaget Lisanna seolah seranganku rupanya lebih berat dari yang diprediksikannya.
Walau demikian, Lisanna mampu bertahan dengan baik dan balas memberikan serangan.
Aku menghindar lantas mengaktifkan skill ‘stealth’-ku sekitar 80 % untuk menghapus sebagian besar hawa keberadaanku dengan tetap mempertahankan sekitar 20 %-nya.
Terlihat Lisanna kebingungan.
Arnoria Rosechild yang biasanya dia dengan mudah baca serangannya karena pola serangan yang begitu lurus, kini bergerak dengan pola yang acak yang sulit untuk diprediksi, ditambah hawa keberadaan yang berkurang sehingga sulit untuk menentukan dengan pasti di mana aku akan menyerangnya.
Dengan cara itu, aku pun berhasil membuka lebar-lebar celah pertahanan Lisanna lantas melukainya.
Petirku sedikit demi sedikit merobek kulit luarnya yang seputih salju itu, namun dia tetap gagal untuk menangkap seranganku.
Tetapi ada akhirnya, Lisanna mengaktifkan aura-nya yang sepanas matahari.
Seketika dentumannya membuat pergerakanku menjadi sulit.
Dan di tengah pergerakanku yang sulit itu, Lisanna balik melakukan counter attack.
Posisi dengan cepat berbalik di mana kali ini aku yang bertahan terhadap serangannya.
-Truk tak tak.
Pedang kayu kami beradu berkali-kali.
Perihal impak serangan yang berat, meski aku sudah menerapkan perlindungan aura, aku terpukul mundur olehnya lantas kehilangan keseimbangan tubuh.
Tanpa kusadari, ujung pedang kayu Lisanna telah tepat berada di bawah tenggorokanku.
“Jika ini pertarungan asli, kamu sudah kehilangan satu nyawa.”
“Hah, aku mengaku kalah.”
Lisanna Annexia berkata dingin.
Inikah yang namanya perbedaan besar antara seorang jenius dan orang biasa?
Sanggupkah aku suatu saat melampaui level Lisanna dengan tubuh manusia lemah ini?
Aku mulai meragukan diriku sendiri.
Tapi apa ini?
Mengapa aku merasakan tubuhku tiba-tiba begitu panas.
Peringatan! Peringatan! Poin kepopuleran Anda menurun lebih dari threshold yang diizinkan.
Memulai penalti Sistem.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang terjadi lagi karena pandanganku mendadak kabur.
Namun tiba-tiba aku bisa merasakan sesuatu yang manis dan empuk berada di mulutku sehingga aku tak tahan untuk menikmati dan merasakan lebih intens rasanya yang enak.
Namun begitu pandanganku kembali jelas, aku bisa melihat wajah Lisanna yang memerah begitu dekat denganku.
Bibirnya dan bibirku saling bersentuhan.
Tidak, aku bisa merasakan lidahku menyentuh lidahnya.
Apa yang baru saja kulakukan?
***
Di hari itu juga, aku bergegas menemui Nenek Litana di ruang kepala akademi.
“Kak Arno sudah baikan?”
Arcia-lah di ruang kesehatan yang membantu mengobati luka-lukaku pasca kelas berakhir, lalu kami sekali lagi dipertemukan di halaman di mana pintu gedung yang menghubungkan dengan ruang kepala akademi berada.
Perihal luka-luka yang kuderita dan sang dosen menganggap pikiranku masih belum jernih sehabis kepalaku terbentur di tanah, ditambah testimoni dari Lisanna bahwa aku melakukannya tanpa kesengajaan, aku bisa terbebas dari hukuman atas pelecehan wanita yang baru saja kulakukan.
Aku juga tak percaya bisa melakukan hal memalukan tersebut di depan umum, terlebih bukan di sembarang tempat, melainkan di kelas luar ruangan di mana banyak mata dari seluruh kelas mahasiswa baru di akademi bisa menyaksikannya hanya karena Sistem meningkatkan rangsangan sistem reproduksiku.
Lidah dengan lidah jelas itu salah, wajar saja jika Lisanna jadi menghindariku.
Pastinya ini akan menjadi berita besar di akademi yang seketika akan melekatkan image pria bajingan pada seorang pria baik hati seperti Arno yang sama sekali tidak bersalah.
Tetapi untuk diriku sendiri, melebihi perkataan orang-orang di sekitarku, aku lebih memperdulikan poin kepopuleranku.
Lantas akankah aku pada akhirnya kena penalti mati Sistem hanya karena merasakan lidah seseorang?
Namun syukurlah, berkat penjelasan Lisanna sebagai korban kebejatanku, hal yang terburuk bisa dihindari dan aku masih bisa mempertahankan poin kepopuleranku di taraf minimal, setidaknya untuk sekarang, sehingga aku akan aman dari penalti Sistem misi tingkat XXX tersebut.
Tak kuduga bahkan setelah seribu tahun lamanya hidup, aku masih seorang pria rupanya.
Tapi melakukan itu kepada Lisanna yang sama sekali aku tidak menaruh perasaan apa-apa padanya, aku juga tak mengerti insting priaku.
Walaupun selama ini Arno bersikap polos, siapa yang tahu dia diam-diam mencintai Lisanna.
Bagaimanapun Arno juga seorang pria.
“Ya, sudah sehat kok. Hahaha.”
“Duh, Kak Arno makin dewasa kok malah makin ceroboh? Kok bisa-bisanya menantang orang yang jelas-jelas kekuatannya berbeda jauh dari Kakak sih? Aku benar-benar tidak mengerti pikiran seseorang yang memilih jalan hunter.”
“Hahahahaha.”
Setelah berbicara dengan Arcia sebentar di muka, aku pun segera memasuki ruang kepala akademi.
-Tok tok.
“Selamat siang.”
“Oh, kamu sudah datang rupanya, siswa Arnoria Rosechild. Waktu yang tepat. Selamat. Keinginanmu terkabul. Guild Lephirum telah menyetujui permohonanmu mewakili akademi sebagai calon pelatihan mahasiswa hunter di sana. Selama magangmu di sana, kau akan didampingi oleh Profesor Fritz. Kuharap kau dapat menemui profesor bertugas yang ditunjuk sesegera mungkin.”
“Baik, Profesor Litana.”
Setelah menerima informasi itu, aku pun meninggalkan ruang kepala akademi.
Namun sebelum aku membuka pintu, Nenek Litana kembali berucap padaku.
“Jangan biarkan dendam membakar hatimu, Nak. Kuyakin teman yang kau cintai itu juga tak mengharapkan dirimu dihancurkan oleh dendam kematiannya. Pikirkan juga perasaan orang-orang yang akan sedih jika terjadi apa-apa terhadapmu seperti Arcia.”
Aku diam sesaat mendengar ucapan Nenek Litana tersebut.
Itu tidak bisa kusangkal sejak aku juga tak ingin melihat Arcia bersedih untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Memang memalukan, tetapi tampaknya aku benar-benar telah menganggap Arcia sebagai sosok pengganti Selena, adikku yang berharga.
Namun kemudian, aku membalas ucapannya.
“Aku paham, Nenek Litana. Lagipula, aku melakukan ini bukan lantaran dendam akan kematian Viar, tetapi lebih kepada diriku sendiri yang mesti melangkah maju ke depan.”
Nenek Litana mungkin berpikir bahwa aku mengejar organisasi berbahaya itu semata-mata demi membalaskan dendam kematian Viar.
Tetapi Nenek Litana telah salah.
Bukanlah Viar yang meninggal pada kejadian tragis itu, melainkan Arnoria Rosechild, dan aku telah mengambil tubuh Arnoria Rosechild tersebut dengan meninggalkan identitasku sebelumnya.
Jika itu Arno yang asli, kuyakin dia tidak akan pernah menaruh dendam kepada siapapun, sekalipun itu terhadap orang-orang yang telah menyebabkan kematiannya.
Sesuai dengan perkataanku, aku semata-mata melakukan ini demi diriku sendiri yang tak rela sesuatu yang berharga bagi diriku tersebut direnggut begitu saja oleh mereka.
Ditambah, aku takkan mungkin lagi bisa mengabaikan mereka dengan organisasi kejahatan itu mempunyai lambang keluargaku, Sunda Castle, di tangan mereka di mana ada peluang bahwa mereka terkait dengan keluargaku di masa lalu.
Jika apa yang kupikirkan benar, mungkin justru aku akan balik bersekutu dengan mereka untuk menghancurkan umat manusia.
***
Di lain tempat, terlihat mayat berserakan di mana-mana.
Di antara tumpukan mayat berserakan itu, tiba-tiba muncul seorang wanita bermata merah yang berjalan menggunakan sepatu high heels.
Rambut peraknya menjuntai panjang dan mengeriting.
“Duh, hobimu membunuh ternak hanya untuk menghisap darah mereka makin menjadi-jadi saja. Apa perlu untuk membunuh para ternak itu untuk mendapatkan darahnya?”
“Lagipula mereka hanyalah sekumpulan sampah. Nyawa mereka sama sekali tidak berarti di luar darah mereka yang lezat. Ngomong-ngomong, Jeanne. Bagaimana persiapanmu menuju dungeon di wilayah Pulau Batam itu?”
“Tentu saja persiapanku sudah siap. Akar mandrake itu pasti akan menjadi milik kita.”
Ucap wanita berambut keriting perak itu sembari tertawa sinis penuh makna menatap wajah lawan bicaranya.
“Aku suka semangatmu itu. Lakukan tugasmu dengan baik, Jeanne. Jangan pernah mengecewakanku lagi.”
Mendengar ucapan lawan bicaranya itu, ekspresi sang wanita berambut perak keriting tiba-tiba mengusut, namun pada akhirnya dia tak berucap apa-apa lagi.
Dia hanya meninggalkan ruangan membiarkan sang lawan bicara kembali menikmati rasa darah segar yang nikmat dari puluhan orang-orang sekarat yang nyawanya masih tersisa di dalam ruangannya.
***
“Hmm? Jadi kamu Arnoria Rosechild, anak bungsu sekaligus pewaris utama dari keluarga Rosechild yang terkenal itu?”
“Benar.”
Aku menjawab dengan senyum yang dipaksakan di hadapan seorang wanita paruh baya yang menguncirkan rambut hitam panjang ikalnya menyerupai ekor kuda.
“Kamu tampak lemah. Apa kamu bisa menjalankan tugasmu dengan baik? Kamu tidak salah sangka kan kalau tugas porter itu adalah tugas yang mudah?”
“Tentu saja. Semua pekerjaan hunter telah dijelaskan dengan baik di akademi…”
Namun tanpa peringatan sebelumnya, wanita gila itu tiba-tiba saja melayangkan tinjunya padaku.
Aku hampir saja terkena bogeman mentah darinya, untung saja aku bisa menghindar dengan cepat.
Tidak sampai di situ, dia kali ini melayangkan tendangannya padaku lantas perjuangan menghindari serangannya pun terjadi beberapa saat.
“Nona Lakina Smirk, apa yang Anda lakukan?”
Itu sampai Profesor Fritz menghentikannya.
“Ah, maaf. Aku hanya mencoba kekuatan pemuda ini karena dia tampak begitu lemah. Tapi di luar dugaan dia gesit juga, jadi aku tak punya keluhan lagi mempercayakannya barang jarahan kami.”
Si wanita gila tiba-tiba menatap ke arahku.
__ADS_1
“Ah, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri tampaknya ya, anak muda. Perkenalkan, namaku Lakina Smirk, tapi kamu cukup panggil aku saja dengan Kak Kina. Ngomong-ngomong, aku pemimpin guild Lephirum ini dan aku kenal baik sewaktu muda dulu dengan Fritz, dosenmu.”
Ucap si wanita gila seraya tersenyum kepadaku.