Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 23 – DUNGEON TERSEMBUNYI bag. 3


__ADS_3

Abyss.


Kegelapan terdalam yang menjadi asal-muasal dari terlahirnya dungeon.


Tidak banyak pula informasi yang kuketahui darinya.


Seribu tahun lalu aku sempat tertangkap di dalamnya dan tahu-tahu aku sudah terkurung menjadi boss di dalam suatu dungeon.


Dan aku takkan pernah membiarkan sahabatku satu-satunya itu menderita nasib yang sama denganku.


Terkurung dalam kehampaan, kesendirian, kedinginan, ketakutan, kesuraman, dan teror mencekam hingga seluruh dagingmu rasanya dikuliti dan tulang-tulangmu remuk.


Aku dengan sekuat tenaga berlari demi menggapai tangannya sebelum Arno terjatuh ke dalam jurang abyss.


Aku di detik-detik terakhir sanggup meraih tangan Arno namun tarikan abyss amatlah sangat kuat yang membuatku ikut tertarik ke dalamnya.


Lalu anomali itu pun terjadi.


Entah karena pengaruh Sistem terhalang oleh abyss, namun seluruh kekuatanku yang sempat tersegel oleh Sistem tiba-tiba telah kembali.


“Skill: Embrace the light!”


Aku menggunakan salah satu skill yang sempat kurebut dari salah satu penyintas dungeon-ku, bangsa peri cahaya, berupa kekuatan cahaya yang menelan kegelapan.


Namun kegelapan abyss bahkan terlalu dalam sehingga kekuatan yang kukumpulkan hingga seribu tahun itu belum cukup untuk mengenyahkannya.


Nafasku rasanya sesak.


Kegelapan rasanya mulai merasuk ke dalam kerongkongan dan tenggorokanku yang membuat aku segera lemas kehabisan nafas.


Dalam perjuangan terakhir, aku sekali lagi mencoba mengaktifkan skill-ku.


“Skill: death trap!”


Skill yang aku peroleh dari penyintas ras setengah naga yang sempat membuat aku sangat kesulitan untuk mengalahkannya.


Suatu skill yang membuat ikatan spiritual sehingga takdirmu terhubung dengan target dan tak bisa terlepaskan dengan pemutus ikatan apapun.


Namun, itu pun dengan mudah diputuskan oleh abyss.


“Arno! Sadarlah!”


Tanganku seketika terlepas darinya.


Aku bisa melihat bagaimana Arno perlahan tertarik masuk ke dalam abyss.


Aku ingin menggapainya, namun tekanan abyss begitu kuat.


Dan tahu-tahu, abyss secara tiba-tiba menghempaskanku keluar dari dalam perutnya seakan dia tidak butuh diriku yang sudah pernah dikontaminasinya.


Arno menghilang dalam kegelapan.


Namun, aku masih bisa merasakannya.


Jalinan tuan dan familiar yang kami bentuk syukurlah masih terhubung.

__ADS_1


Selama aku bisa keluar dari dungeon tersembunyi ini, maka Arno juga bisa selamat.


Itu karena skill death trap yang aku terapkan sebelumnya tidak sepenuhnya terputus.


Sayangnya, begitu keluar dari abyss, seluruh kemampuanku yang aku kumpulkan selama seribu tahun itu, telah kembali terkunci oleh Sistem.


[Master! Syukurlah Anda baik-baik saja! Betapa khawatirnya aku tadi. Memang sungguh disayangkan pemuda itu harus mati. Tapi syukurlah Master masih selamat.]


“Arno belum mati! Jalinan familiarku dengannya masih terhubung dengan baik.”


[Jadi? Jangan bilang Master akan berupaya menyelamatkannya lagi?! Itu abyss, Master! Bahkan makhluk terkuat di dimensi tidak ada yang berani menyentuhnya!]


“Tidak. Kita akan fokus menyelesaikan misi dari dungeon tersembunyi ini. Bahkan abyss sekalipun takkan sanggup menentang hukum dunia luar. Selama misi terselesaikan, baik aku maupun Arno, akan sama-sama bisa keluar dari dungeon tersembunyi ini.”


Kumelirik ke arah waktu yang tersisa dari kutukan banshee tersebut.


19 menit 18 detik.


Dan itu terus bergerak mundur.


Tidak banyak waktu lagi yang bisa disia-siakan.


“Cepat temukan shinigami sialan itu!”


[Baik, Master.]


.


.


.


Begitu Anto menunjukkan arahnya, aku pula segera mengaktifkan skill detection-ku, lalu dengan kecepatan tinggi aku dalam sekejap berada di depan sang shinigami kecil itu.


[Wow, Master! Mengapa Anda bisa tiba-tiba sangat cepat?]


Itu wajar sejak ini pertama kalinya aku mengisap darah setelah sekian lama, ditambah itu adalah darah manusia yang paling bernutrisi di antara ras lainnya.


Tetapi tentu saja aku tak punya waktu saat itu untuk menjelaskannya kepada Anto.


Kulayangkan pedangku ke arah sang shinigami kecil.


Namun dia begitu lihai dalam menghindar.


Tapi kini aku telah memperoleh staminaku kembali setelah sekian lamanya berkat mengisap darah Arno.


“Anto! Support!”


[Baik, Master.]


Berkat kerjasamaku yang sinkron dengan familiar andalanku itu, aku akhirnya berhasil melayangkan tebasan kepada sang shinigami kecil.


Anto segera menyelinap lantas mencuri kunci yang dibawa sang shinigami kecil.


Setelah kunci direbut, vitalitas sang shinigami kecil pun berkurang drastis.

__ADS_1


Lalu dalam serangan penghabisan yang mudah, aku menyingkirkan sang shinigami kecil itu.


Tersisa langkah terakhir.


Aku mengambil kunci dari Anto, lalu segera kuhancurkan.


Kutukan banshee berhasil dihilangkan.


Player Viar dan Arno berhasil menyelesaikan trial banshee.


Segera cari jalan keluar untuk selamat dari dalam dungeon tersembunyi.


Begitulah pemberitahuan Sistem muncul dan secara tiba-tiba saja Arno termuntahkan kembali dari dalam abyss.


Aku segera menggapainya lantas menggendongnya untuk keluar dari dalam dungeon tersembunyi itu bersama-sama.


Akan tetapi kemudian, si Sistem sialan itu lagi-lagi berulah.


***


“Mengapa mesti anak itu selalu memperhatikan teman-temannya? Mengapa di dalam situasi ini dia masih bisa-bisanya mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan yang lain? Kumohon selamatlah, Arno.”


Profesor Adeleine berharap dengan penuh pengharapan di balik layar monitor yang gelap dengan sedikit sinyal yang tersisa yang dengan mati-matian berusaha diperjuangkan oleh Danill.


“Diamlah! Tidak ada gunanya meratap sekarang. Kuyakin mereka berdua akan baik-baik saja.”


Namun ucapan Profesor Fritz itu justru membuat Porfesor Adeleine semakin frustasi.


Perkara penyebab Arno sampai turut terkurung di dalam dungeon tersembunyi yang tidak bisa terakses di luar dunia nyata tidak lain adalah Viar, murid bimbingan Profesor Fritz.


“Kamu berkata seperi itu padahal muridmulah…”


“Apa?”


“Hah! Bukan apa-apa.”


Akhirnya Profesor Adeleine memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya yang dia tahu justru akan memperkeruh suasana.


Di dalam ruangan itu, tidak lagi banyak pengajar yang tersisa.


Beberapa harus memberikan keterangan terkait keterlibatan salah satu pengajar di sekolah mereka, Profesor Luvien, dalam bencana dungeon break di tempat pelaksanaan ujian kelulusan siswa angkatan ke-19 SMUT tersebut.


Beberapa di antaranya terlalu frustasi dan hampir pingsan sehingga memilih untuk beristirahat di ruang asrama pengajar masing-masing.


Ada juga yang seperti Profesor Catchilaoz yang melebihi keadaan siswa lain, dia lebih mengkhawatirkan keadaan keponakannya sendiri sehingga dia pun bergegas ke kediaman keluarga Rosechild, tempat di mana kesepuluh peserta ujian berhasil tertransferkan kembali ke dunia nyata tanpa menyelesaikan dungeon-nya berkat artifak yang dibawa oleh sang tuan muda Arnoria Rosechild.


Dalam keadaan lunglai kedua profesor wanita itu, cahaya harapan tersebut pun tiba.


Sekali lagi terlihat tanda-tanda bahwa seorang siswa berhasil tertransferkan ke dunia nyata yang sekaligus menutup sinyal kecil pada layar monitor Danill untuk selamanya pertanda bahwa dungeon tersembunyi telah terselesaikan.


Semua mata tiba-tiba tertuju pada seorang siswa itu, tidak terkecuali Profesor Adeleine, serta ketiga murid yang berhasil menyelesaikan dungeon bersama murid tersebut.


Profesor Adeleine dan ketiga murid itu pun, Lisanna, Leonardo, dan Tika, segera menghampirinya, terkhusus Lisanna yang tanpa hesitasi segera memeluknya.


“Syukurlah kamu selamat, Arno!”

__ADS_1


Hanya Profesor Fritz-lah yang tetap membatu di tempat tersebut dengan ekspresi yang sangat menunjukkan keputusasaan.


Itu karena Viar tidak ikut keluar dari tempat itu.


__ADS_2