Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 37 – PERLINDUNGAN DI BALIK MAKNA SENIORITAS bag. 1


__ADS_3

Sebuah bulan semerah darah tepat membayangi di belakang sebuah buah palapa.


Padi di kanan dan kapas di kiri, serta terdapat tiga bintang di atasnya yang melambangkan Ayahanda, Kakak, dan diriku, disertai dengan selendang sutra biru di bagian bawah.


Aku tidak mungkin salah mengingat itu.


Itu adalah logo keluarga kerajaan kami, Sunda Castle.


Tetapi mengapa organisasi kegelapan itu mempunyai logo tersebut?


Tidak!


Aku tidak ingin berpikir yang macam-macam dahulu sebelum semuanya jelas.


Akan tetapi, suatu organisasi rahasia yang bahkan tak dapat ditangani oleh skala internasional, aku tak bisa tidak membayangkan kecocokannya.


Keberadaan vampir tiba-tiba saja menghilang dari dunia selama aku terkurung selama seribu tahun di dalam dungeon.


Itu adalah waktu yang sangat lama bagi manusia untuk melupakan eksistensi kami, tetapi sebenarnya bukanlah waktu yang terlalu lama pula bagi kami ras vampir.


Bagaimana jika seandainya vampir tidak benar-benar menghilang dari dunia ini, hanya saja mereka menyembunyikan keberadaan mereka untuk suatu alasan?


Dan satu-satunya alasan yang dapat kupikirkan saat ini di kepalaku adalah keberadaan vampire hunter.


Mereka memegang kelemahan kami sehingga kami tidak berdaya melawan mereka.


Kami mutlak harus menyembunyikan keberadaan kami dari dunia jika ingin selamat dari mereka.


Tampaknya itu tidak terjadi di Pulau Java saja, tetapi terjadi pada kerajaan vampir di seluruh dunia, termasuk di wilayah bumi belahan barat.


Jika benar apa yang kupikirkan, bukankah itu berarti organisasi kegelapan itu lebih dekat sebagai sekutuku alih-alih musuhku?


Sial!


Walaupun itu benar, mengapa mereka harus menjadi penyebab kematian Arno?!


Pikiranku seketika kosong.


Jalan yang terbaik jika apa yang kupikirkan itu benar adalah bergabung bersama mereka untuk mengambil alih kembali kepemimpinan dunia di bawah ras kami, ras vampir, dengan menghancurkan peradaban umat manusia.


Akan tetapi…


Tidak!


Bagaimanapun, Arno adalah sahabatku yang berharga yang karena ulah mereka, aku sampai kehilangannya.


Mereka tak dapat kumaafkan!


***


Usai menemui Profesor Fritz, aku berniat kembali ke asrama yang khusus disediakan bagi para elit kelas S, tidak hanya bagi mahasiswa tahun pertama, tetapi juga tahun kedua dan seterusnya.


Akan tetapi untuk tahun ketiga dan di atasnya, kebanyakan dari mereka beraktivitas di luar berupa magang ke berbagai guild hunter di seluruh pelosok nusantara sehingga ruangan asrama mereka palingan mereka jadikan tempat singgah belaka jika harus berkunjung ke akademi.


Namun, pemandangan apa yang baru saja kusaksikan ini?


“Hei, bodoh! Jika kau tidak melakukan pekerjaanmu dengan benar, maka tentu saja kau harus menerima akibatnya!”

__ADS_1


Begitu aku hendak memasuki asrama melalui pintu masuk asrama tersebut, Jeremy Rudd yang angkuh malah dalam keadaan diam saja terus-terusan dihajar oleh salah seorang senior.


Siapa lagi ya dia?


Kalau tidak salah, dia adalah senior tahun kedua yang bernama emm…


Aku sedikit lupa nama senior itu, tapi kurasa namanya Sapi Mokamoka atau sejenisnya.


“Tolong, Senior! Jeremy sudah berusaha yang terbaik, tetapi dia hanya belum mendapatkan kesempatan saja. Kumohon, beri dia waktu lebih banyak lagi.”


Mahasiswa S9 Otto, tiba-tiba saja menggunakan badannya sebagai tameng di depan Jeremy Rudd demi menghalangi senior biadab itu melukai Jeremy Rudd lebih parah.


“Baiklah. Itu boleh saja. Tetapi kamu tahu kan bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini? Setiap kamu menerima sepuluh pukulanku, maka aku akan memberikan sampah itu waktu sehari lagi.”


Sembari tersenyum licik, senior itu menatap Otto dengan beringas.


Lalu dengan bodohnya Otto menerima itu begitu saja tanpa berniat melawan sedikit pun.


Apa yang lebih lucu adalah orang yang dilindunginya, Jeremy Rudd, hanya duduk diam tanpa berniat menolong Otto sama sekali yang sedang dihajar habis-habisan oleh senior biadab itu demi melindungi dirinya.


Termakan amarah, tanpa pikir panjang, aku lewat di belakang si senior lalu menendang pantatnya.


-Puak.


-Truduk.


Si senior jatuh sembari mengeluarkan suara yang lucu.


“Minggir, aku mau lewat!”


Oh, tidak. Aku baru saja kelepasan dari karakter Arnoria Rosechild yang baik hati.


***


Si senior bangun dari jatuhnya lantas seketika bertemu tatapan mata denganku.


“Kamu! Arnoria Rosechild! Sialan…”


Namun, dia seketika menahan kesalnya.


Tentu saja dia tidak akan berani berbuat macam-macam padaku sejak dia adalah salah satu pengikut keluargaku.


Dia hanya bergegas hendak pergi.


Namun kemudian, dia menatapku setelah menatap Jeremy Rudd dan Otto baik-baik.


Dia menggumamkan sesuatu yang dia pikir mungkin aku tidak bisa mendengarkannya atau bisa saja pula memang dia sengaja memperdengarkannya padaku.


“Jangan kira keluargamu bisa menindas keluarga kami selamanya.”


Kurang lebih itulah yang dikatakan oleh sang senior, Sapi Mokamoka, dalam gumamannya yang ditujukan kepadaku sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.


Aku lantas ikut berlalu di hadapan Jeremy Rudd.


“Dasar pecundang! Selama ini berlagak galak di luar, nyatanya hanya diam saja ketika ditindas.”


Aku mengucapkan kalimat itu sebelum akan turut beranjak dari tempat tersebut.

__ADS_1


Jelas kepada siapa kalimat itu kutujukan.


Siapa lagi jikalau bukan kepada Jeremy Rudd.


“Jangan banyak omong jikalau kau tidak tahu apa-apa, lagipula aku tidak butuh belas kasihanmu!”


“Apaan. Ternyata kamu masih punya mulut untuk berbicara rupanya. Mengapa kamu tadi diam saja saat ditindas sama si senior Sapi Mokamoka itu.


“Sarpian Mucahantas.”


Otto seketika mengoreksi kesalahan pengucapan namaku pada sang senior.


“Enak ya, dirimu, Arno. Apapun yang kamu lakukan, kamu bebas, sejak ada keluargamu yang akan meng-back-up tiap kesalahanmu.”


“Eh? Apa yang sedang kamu bicarakan?”


“Tidak ada. Anggap saja aku bicara sendiri. Aku tidak punya kuasa soalnya mencari perkara pada keluarga sekuat Rosechild.”


Hanya itulah yang dikatakan oleh Jeremy Rudd sebelum dirinya yang sudah babak-belur ikut masuk ke dalam asrama menyusul sang senior sembari menyeret dirinya dengan tertatih-tatih perihal luka-luka di sekujur tubuh yang dideritanya.


Tetapi bukankah gawat kalau di dalam dia akan disergap lagi oleh senior barusan?


Aku bergegas hendak menyusulnya agar kekhawatiranku tidak terjadi.


Bukannya juga aku peduli sama si Jeremy Rudd itu, aku hanya tidak ingin kami mahasiswa baru jadi diremehkan oleh senior karena kelakuannya yang membiarkan dirinya dipukuli begitu saja tanpa sebab yang jelas.


Namun kemudian, Otto menepuk pundakku.


“Arno, apa kamu berniat akan melindungi kami selamanya?”


“Apa baik di asrama, di luar asrama, atau bahkan di luar kota yang jauh dari akademi sekalipun, kamu tetap akan selalu ada demi melindungi kami?”


“Apa yang…”


“Aku tahu kamu itu baik, Arno.”


“Tetapi kamu takkan mungkin sanggup untuk melindungi kami kapan saja dan di mana saja.”


“Itulah sebaiknya jika sedari awal kamu tidak ikut campur.”


“Karena jika kamu ikut campur, Senior Pian hanya akan tambah melampiaskan amarahnya ketika kamu tidak berada di dekat kami.”


“Jeremy hanya akan makin tersiksa.”


“Jadi kumohon, Arno, uruslah urusanmu sendiri.”


Demikianlah Otto berucap.


Setelahnya, dia pun menundukkan badan 45 derajat untuk memberi salam lantas turut meninggalkanku sendirian di pintu masuk asrama.


Ucapannya benar-benar menyebalkan.


Namun bukannya aku tak mengerti perasaannya itu sejak aku pun pernah berada di posisinya sewaktu aku masih menempati tubuh Viar di mana Arno selalu melindungiku selama berada di sekolah menengah sehingga kehidupanku selama tiga tahun di sana benar-benar tenang dari gangguan.


Namun aku bukanlah orang yang semurah hati Arno yang asli.


Itulah sebabnya aku membenarkan ucapan Otto bahwa jikalau demikian, aku sedari awal seharusnya tidak pernah terlibat urusan mereka.

__ADS_1


Hanya saja, ada apa dengan rasa kesal di dadaku ini?


__ADS_2