
Tiap malam setelah hari itu sebelum tibanya hari kompetisi, aku berlatih aura pedang bersama Lisanna.
Selama 3 hari awal, itu hanya berakhir dalam kekalahan sepihak dariku karena aura pedang Lisanna yang terlalu kuat bahkan bagiku untuk berdiri di hadapannya walaupun tubuhku telah diperkuat oleh aura pedangku sendiri.
Lalu tiba di malam kamis, aku sudah mampu berdiri di hadapan aura yang panas membara itu.
Seiring aura pedang kami saling berbenturan, itu saling mengevolusi satu sama lain.
Berkatnya, kini tingkat toleransiku terhadap panas semakin meningkat dan aku tidak lagi kesusahan bernafas dalam pengap dan panasnya dengan hanya berada beberapa inci dari aura pedang Lisanna.
Di hari jumat, aku mulai mampu melancarkan serangan balasan yang dapat menembus pertahanan Lisanna secara langsung.
Akan tetapi,
-Bruak.
-Prak.
-Truk, tuk, tak, tak.
Lisanna senantiasa mampu memprediksi gerakanku secara akurat, tetapi di lain pihak aku malah selalu terjebak dalam tiap gerakan feintnya.
Walau aku pada akhirnya telah dapat bertahan dengan baik terhadap aura pedangnya, gerakanku yang terlalu amatir dengan mudah dipatahkannya dan aku tetap selalu berakhir dengan kekalahan.
Di hari sabtu dan minggu aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
Di sana, sesuai dengan permintaanku, Ayah telah menyiapkanku lawan untuk latih tanding.
Awalnya aku kecewa karena lawan yang disediakan oleh Ayah hanyalah seorang hunter swordsman biasa berlevel D.
Namun, justru aku yang sudah berada di ranah magic swordsman walaupun masih di level E tidak pernah sekalipun menang terhadapnya.
“Bagaimana ya mengatakannya. Gerakan Tuan Muda Arno itu terlalu simpel sehingga mudah dibaca. Di lain pihak, Tuan Muda Arno terlalu emosional dalam bertarung hingga sangat mudah dijebak.”
“Jika dibandingkan dulu sewaktu Tuan Muda masih menggunakan style pedang besar, momentum yang kuat dari pedang besar itu sendiri menjadi tameng yang baik bagi Tuan Muda Arno sehingga walau dengan gerakan yang simpel pun, akan sulit untuk mematahkan pertahanan Tuan Muda.”
“Tetapi sekarang dengan bastard swords, itu bukan hal yang sulit lagi.”
Aku merenungi baik-baik perkataan dari hunter tersebut.
__ADS_1
Di senin malamnya, ketika aku berlatih tanding kembali bersama Lisanna, aku mengungkapkan kebingunganku terhadap perkataan hunter tersebut.
“Bagaimana menurut Yayang Arno pergerakan tangan seseorang jika kaki kanannya yang melangkah duluan?”
“Eh? Itu… karena simetritas antara tangan dan kaki saling berkebalikan, kemungkinan besar orang tersebut akan meninju dengan tangan kirinya.”
“Itu benar. Lantas, apa yang akan terjadi kemudian jika seseorang menurunkan sedikit bahu kanannya?”
“Eh? Entahlah. Memangnya itu bisa ditebak?”
“Rata-rata pemula jika melakukan gerakan yang seperti itu, besar kemungkinan dia akan menendang menggunakan kaki kirinya. Beberapa peluang cengkeraman tangan kiri juga tidak kecil.”
“Tiap aksi tertentu akan selalu ada reaksi spesifik tertentu pula. Sama halnya dalam gerakan pertarungan, tiap orang memiliki ciri-ciri dan karakteristik tertentu dalam tiap serangannya, namun ada beberapa yang dapat diklasifikasikan ke dalam ranah yang mirip.”
“Tentu saja semakin expert kamu dalam bertarung, kamu semakin bisa menutupi monotonitas gerakanmu dengan berbagai trik semisal dengan mencegah timbulnya reaksi umum dalam suatu aksi tertentu yang kamu lancarkan, dalam artian gerakan feint yang sealami mungkin.”
“Itu terdengar mudah dibicarakan, tetapi pastinya akan sulit untuk diterapkan pada praktiknya, bukan?”
“Apa yang Yayang Arno ragukan? Di hadapanmu saat ini bukankah telah hadir seorang master feint yang sempurna?”
Lisanna yang selalu berekspresi dingin di hadapan orang lain itu, baru saja tersenyum ala rubah di hadapanku.
Seiring waktu kami berlatih bersama, bisa kurasakan bahwa aku semakin dekat dengan Lisanna.
Apapun permintaanku, dia akan senantiasa berusaha sebisa mungkin untuk membantuku.
Dia tulus dan betul-betul memberikan effort terbaiknya untukku.
Namun seiring ketulusannya yang murni itu, rasa bersalah yang tak terjelaskan kian terpatri di dadaku.
Dia membantuku dengan tulus karena selama ini mengira bahwa aku adalah Arno yang masih dalam keadaan terpuruk karena belum bisa lepas sepenuhnya dari trauma.
Tanpa Lisanna sadari, dia sejatinya telah membantu musuh umat manusia untuk berkembang menjadi lebih kuat.
Akankah jika hari itu tiba di mana aku bisa mendapatkan kekuatanku kembali dari Sistem lantas berdiri di hadapan umat manusia sebagai musuh terbesar mereka, hubunganku dengan Lisanna masih bisa seperti ini?
Seorang vampir dan keturunan vampire hunter, hubungan kami benar-benar suatu kombinasi yang terburuk.
Suatu saat, Lisanna dengan bakat cemerlangnya pastinya akan berdiri di depan sebagai kekuatan utama umat manusia dalam menyingkirkan musuh-musuh kemanusiaan, termasuk diriku.
__ADS_1
Takkan terhindarkan di masa depan, kami akan berdiri sebagai musuh satu sama lain.
***
Berkat pencerahan Lisanna, aku sedikit mengerti akan kekuranganku.
Aku mencoba melatih gaya berpedangku untuk bisa semakin menutupi kelemahan itu, walaupun nyatanya kebiasaan dan style dalam berpedang adalah hal yang sangat sulit untuk disembunyikan seutuhnya.
“Kamu merasakannya juga sebelumnya kan ketika melawan Alvin Hermes? Dia adalah satu dari pemula yang cukup licik mampu menyembunyikan niat serangannya.”
Lisanna di hari itu kemudian menjelaskan padaku bahwa daripada memprediksi gerakan lawan secara gamblang melalui visual saja, kita harus mampu menangkap niat terselubung dalam setiap gerakan lawan.
Semakin expert lawannya, semakin sulit untuk memprediksi secara visual gerakan selanjutnya, namun tidak dengan niat.
Asalkan kita bisa tahu intensi lawan melalui kebiasaan dan pola pikirnya yang tercermin dari gerakannya, menurut Lisanna sebenarnya sangat mudah untuk mengendalikan alur pertarungan semaumu.
Tentu saja hal itu masih jauh dari bayanganku.
Namun demikian, Lisanna telah memberikanku klu yang sangat bermanfaat.
Tidak hanya indera penglihatan, indera pendengaran untuk mendeteksi kecepatan denyut jantung lawan untuk memprediksi ritme serangannya, termasuk untuk mendeteksi tiap senjata tersembunyi di sekujur tubuhnya, juga merupakan kekuatan penting yang harus dimiliki.
Kemudian, indera penglihatan tak sebatas memperhatikan bagian tubuh yang bergerak dan menyerang saja, tetapi kita harus melihat keseluruhan tubuh lawan itu sebagai satu kesatuan, mempertimbangkan aksi reaksinya melalui sifat lawan, termasuk tatapan mata, gerak bahu, kuda-kuda dan sebagainya, untuk memprediksi pikiran lawan dalam rencana serangannya.
Dengan demikian, kita bisa balik mengendalikan alur permainan lawan.
***
Tanpa terasa, hari kompetisi pun tiba.
Perihal kelas S diberikan hak istimewa untuk bisa lolos ke turnamen inti tanpa perlu mengikuti babak kualifikasi, aku semakin memiliki banyak waktu untuk berlatih mempersiapkan diriku demi kompetisi ini.
Sebanyak 6 perwakilan swordsman berasal dari kelas S, yang itu berarti ada sebanyak 26 lawan yang berasal dari kelas lain yang lolos setelah mengikuti babak kualifikasi.
Namun ada seorang di antara mereka yang sangat menarik perhatianku.
Tentu saja itu bukanlah Mulyadi Murhahan yang sempat membuat keributan denganku di awal-awal masa perkuliahan, melainkan Erna Silverwood, salah satu teman lamaku yang berharga.
Namun hal yang tak kuduga adalah bahwa Erna-lah yang akan menjadi lawan pertamaku di ajang swordsmanship battle mahasiswa baru tersebut.
__ADS_1