Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 67 – PERTEMUAN KEMBALI DI BAWAH GELAPNYA DUNGEON bag. 9


__ADS_3

Jeanne menangkis serangan Lone begitu saja yang hendak akan melukai Arnoria Rosechild.


Sebagai sesama rekan seperjuangan, Lone menjadi bingung akan sikap Jeanne tersebut.


“Hei, Jeanne, apa yang baru saja kau lakukan sialan!”


Lone pun berteriak kesal kepada Jeanne.


Namun justru Jeanne balik menatap tatapan yang ditujukan Lone kepadanya itu dengan ekspresi yang tidak kalah bingungnya.


Melebihi Lone, Jeanne-lah yang justru lebih kaget atas tindakan di luar nalar yang baru saja dilakukannya itu.


Jelas itu bukanlah keinginan Jeanne untuk melakukannya.


Tanpa dia sadari, tubuhnya telah bergerak dengan sendirinya.


Tiada afeksi apalagi kasih sayang yang cukup berarti bagi Jeanne kepada Arnoria Rosechild sampai-sampai dia akan mengorbankan nyawanya.


Itu benar-benar hanya merupakan refleks dari tubuhnya yang Jeanne pun tidak tahu sebabnya.


“Tidak, Lone. Dengar dulu. Ini bukan keinginanku. Tubuhku bergerak dengan sendirinya.”


“Hah?! Apa kamu sudah gila?!”


-Prak.


-Puakk.


Namun sekali lagi Jeanne tetap tak menghentikan aksinya untuk menghadang Lone.


Tidak, tepatnya wanita vampir itu tidak bisa.


Seakan wayang yang dikendalikan oleh dalang, tubuhnya bergerak secara otomatis untuk melindungi bocah yang bernama Arnoria Rosechild tersebut.


Padahal Jeanne telah punya sedikit petunjuk akannya setelah beberapa saat berinteraksi dengan Arnoria Rosechild.


Jeanne telah merasakan bahwa Arnoria Rosechild yang di hadapannya sangat mirip dengan seseorang.


Seorang teman baik yang dikenalnya selama lima tahun lamanya.


Teman sepermainannya di kala suka maupun duka yang tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun.


Selalu menghiburnya di kala hati Jeanne gundah.


Sekaligus sahabat yang telah dikhianatinya tersebut ketika Jeanne mengetahui rahasia tergelap sahabatnya itu.


Ya, Jeanne yang berdiri di hadapan Arnoria Rosechild, tidak, Laviar Viettto Mechbach saat ini tidak lain adalah sahabat masa kecil dari kenangan seribu tahun silam yang telah mengkhianatinya.


Untuk alasan yang tidak diketahui Laviar, Jeanne telah berubah menjadi sosok vampir, sama seperti dirinya, suatu eksistensi yang sangat dibenci oleh Jeanne yang menjadi alasan utama mengapa Jeanne mengkhianati Laviar kala itu.


Sayangnya sampai saat itu, Jeanne belum mengetahui fakta tersebut.


Tubuhnya bergerak refleks dengan sendirinya tidak lain adalah karena pengaruh ikatan darah.

__ADS_1


Jeanne adalah pelayan Selena, sementara Selena adalah pelayan Laviar.


Itu secara tidak langsung juga menjadikan Jeanne salah satu pelayan Laviar.


Jalinan ikatan tuan dan pelayan pada ras vampir sangatlah kuat yang membelenggu para pelayan untuk tidak pernah mengkhianati sang tuan yang berdiri di puncak kebangsawan para vampir.


Hal itulah yang menjadi penyebab solidnya sistem kekuasaan ras vampir jauh melebihi ras manusia yang selalu diwarnai oleh pengkhianatan.


Bukannya mereka yang berada di posisi pelayan itu tidak punya ambisi sama sekali, hanya saja ambisi itu telah dimatikan oleh kuatnya kekangan jalinan kontrak penghambaan itu.


Ada satu yang pasti yang tertanam pada insting sang pelayan yakni bahwa apapun yang terjadi, dia takkan pernah membiarkan sang tuan mati di hadapannya, walaupun itu mesti mengrbankan nyawanya sendiri.


Dan itulah yang kini terjadi oleh Jeanne.


Tiada afeksi atau kasih sayang sama sekali Jeanne pada pemuda asing yang sempat sedikit membuatnya tertarik oleh sifatnya yang unik tersebut, itu benar-benar hanya karena pengaruh mantra.


-Pruak, trak, tak, tak.


Lone semakin intens menyerang Jeanne dan Jeanne berusaha bertahan sekuat tenaga.


Bagaimanapun walau sesama vampir, tingkat kemampuan mereka sedari awal telah sangat berbeda.


Sebagai vampir yang terlahir dua ratus tahun lebih awal ketimbang Jeanne, Lone telah mengakumulasi energi yang jauh lebih besar darinya.


Tidak butuh waktu lama bagi Lone untuk mengalahkan Jeanne.


“Cih, merepotkan saja! Jangan kira kalau aksimu ini hanya akan berakhir dengan luka parah segini. Aku akan melaporkan hal ini pada Nona Rarina. Aku hanya mengampunimu kali ini mengingat kita berasal dari ras yang sama yang jumlahnya tinggal sedikit.”


Namun begitu Lone memastikan jejak kedua orang itu melalui indera penciuman vampirnya yang tajam, dia dapat merasakan bahwa Lakina Smirk telah berada di luar dungeon yang itu berarti entah dengan cara apa, mereka berdua telah berhasil kabur dari dalam dungeon tersebut.


Dia tidak turut merasakan hawa keberadaan Arnoria Rosechild di luar, tetapi sebagai gantinya, dia bisa merasakan keberadaan sang ayah, Lehman Rosechild, beserta para hunter guild Rosechild pengikutnya.


Misi benar-benar telah gagal.


Tidak butuh waktu lama bagi Lone untuk menarik kesimpulan bahwa identitasnya sebagai Zerick Lampharge tidak lagi akan aman begitu kedua orang tersebut berhasil kabur dari dalam dungeon.


Lone pun hanya kabur dengan tenang sembari membawa Jeanne yang terluka parah oleh perbuatannya sendiri bersamanya.


***


Tak kuduga bahwa skill ‘stealth’ yang selama ini kupandang sebelah mata benar-benar membantuku selamat menghadapi krisis ini.


Aku berhasil mengirimkan Kak Kina keluar dari dungeon dengan selamat melalui return stone yang selama ini aku bawa bersamaku.


Aku dulu begitu membenci Arno yang memilih menyelamatkan teman-temannya ketimbang dirinya sendiri melalui return stone yang dibawanya waktu itu.


Aku benar-benar membenci sifat altruisme Arno kala itu yang kunilai sangat hipokrit.


Namun tak kusangka kini aku melakukan hal yang sama dengannya.


Aku memilih untuk tetap tinggal di dalam dungeon karena ada satu hal yang sangat mengangguku yakni apa yang tersembunyi di balik ujung jalan ruang rahasia tersebut.


Apapun yang berada di dalam, itulah true boss yang selama ini Kak Kina dan yang lain incar sampai mengorbankan nyawa mereka sendiri.

__ADS_1


Anto telah memberikan laporannya padaku bahwa terdapat semacam buah yang sebentar lagi akan matang yang mengandung aliran mana abyss.


Itu bukan hal yang baik jika itu berhasil matang lantas aromanya menyebar ke dunia luar.


Ini tidak akan lagi berada di taraf yang sama seperti epidemic yang disebabkan oleh jamur yang ranah cakupannya hanya sekian ratus meter saja dari titik kejadian.


Itu adalah skala regional yang seketika bisa membunuh semua makhluk yang menghuni Pulau Batam ini.


Tidak, yang terburuknya, itu bisa saja menyeberangi lautan lantas turut menginfeksi pulau-pulau lainnya.


Berdasarkan laporan dari Anto, itu sebentar lagi akan matang, jadi aku tidak bisa menunggu bantuan untuk datang terlebih dahulu lantas menanganinya.


Tak ada lagi waktu untuk dibuang-buang.


Rencana awalnya adalah aku diam-diam akan menghancurkan buah itu dan setelahnya kembali mengumpat dari Lone dan rekannya sampai bantuan dari luar datang untuk menyelamatkanku.


Aku percaya bahwa dunia luar telah me-notice apa yang terjadi di dalam dungeon sejak melihat keadaan Kak Kina yang sekarat.


Namun rupanya semua menjadi lebih mudah karena Lone justru berpikir aku telah turut kabur bersama Kak Kina lantas turut meninggalkan tempat ini bersama rekannya.


Namun aku tidak boleh lengah dengan kemungkinan dia juga menyembunyikan dirinya dengan skill yang sejenis stealth sembari menunggu aku lengah untuk memunculkan diriku sendiri.


Itulah sebabnya, aku memilih untuk bergerak secepat kilat menuju lokasi buah di ujung jalan rahasia.


“Anto, segera bawa aku ke tempat itu.”


[Siap, Master.]


Dalam sekejap, aku menyeberangi bayangan lantas sudah berada di ujung jalan rahasia tersebut di mana aku bisa menyaksikan buah yang mengandung energi menjijikkan abyss yang sebentar lagi akan matang.


Aku mengeluarkan Kurumi dan Kusagi yang segera kualirkan dengan auraku untuk menebas buah itu agar menghilang selamanya dari dunia.


Namun sebelum aku akan melakukannya, seseorang tiba-tiba saja melakukannya duluan.


Lagi-lagi, itu adalah orang yang aku kenal dengan baik.


Mana mungkin aku melupakan rambut peraknya yang halus itu.


Dia adalah Rarina, sang pelayan setia Kak Lavier.


“Jadi kamu orang yang sudah membuat Jeanne jadi gila?”


Seseorang lantas tiba-tiba menyapaku dari belakang.


Aku tak bisa menyembunyikan mataku yang terbelalak kaget ketika menatapnya.


Melebihi Rarina, sosok wanita berambut merah itu jauh lebih penting untukku.


Walaupun dia kini telah tumbuh dewasa dan menunjukkan ciri-ciri kematangan seorang wanita yang sehat, aku tidak akan mungkin melupakan perawakan wajahnya yang sayu itu.


Terlebih dengan potongan rambut pendek lurus khasnya yang tetap dia pertahankan semenjak aku memujinya sewaktu kecil.


Dialah Selena, sang pelayan setiaku, tidak, adikku yang berharga.

__ADS_1


__ADS_2