Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 69 – MENEMPELIMU bag. 1


__ADS_3

Pada akhirnya aku berhasil menyelamatkan diri keluar dungeon yang akan runtuh tersebut.


“Arnoria!”


Tak kusangka wajah yang pertama kali kutemui begitu keluar adalah wajah sang Ayah.


“Ayah? Kenapa ada di sini?”


“Tentu saja Ayah datang karena khawatir setelah mendengar berita tentangmu yang dalam bahaya, putraku.”


Setelah menelisik keadaan putranya dari ujung kaki sampai ujung rambut dan memastikan bahwa aku baik-baik saja, Ayah pun kembali berucap,


“Tidak terjadi sesuatu apa-apa padamu kan?”


“Tenang saja, Ayah. Aku baik-baik saja.”


“Organisasi laknat itu telah hampir membunuh putraku dua kali! Kali ini aku takkan membiarkannya lagi!”


Terlihat raut amarah yang jelas pada wajah sang mantan aktor yang biasanya datar itu.


Entah dia serius akan ucapannya atau hanya sekadar akting belaka untuk memperlihatkan image seorang ayah yang baik di depan publik, aku sama sekali tak tahu.


Lehman Rosechild telah terlanjur mengecewakan aku tentang bagaimana dia menangani masalah Kak Dahlia dan bagaimana dia merusak mental Arnoria Rosechild yang asli.


Jujur, aku tak mampu lagi bersimpati akan kasih sayangnya yang tak jelas apakah sekadar akting atau sungguh-sungguh itu.


Baik aku maupun Profesor Fritz merahasiakan sampai akhir tentang kami yang memang secara sengaja mengejar jejak organisasi rahasia tersebut sehingga Lehman Rosechild pastinya hanya berpikir bahwa pertemuanku dengan organisasi penjahat itu di dalam dungeon sekali lagi hanya berupa kesialan yang datang untuk kedua kalinya.


***


“Puas kamu melakukannya?”


Namun itu tidak untuk Litana Magus yang entah mengapa justru memiliki jaringan mata-mata yang lebih luas daripada tiga keluarga terbesar di Indonesista.


“Ya. Itu adalah tangkapan yang besar. Kini kami punya petunjuk kecil tentang keberadaan organisasi penjahat tersebut. Zerick Lampharge, hunter rank A, beserta Jenny, hunter baru rank D guild Lephirum rupanya adalah samaran mereka.”


“Alat pelacak yang kupasangkan pada Zerick Lampharge berhasil terungkap di tengah jalan sehingga mereka bisa kabur tepat waktu, namun kami telah menemukan markas utama di mana mereka dulu pernah bersembunyi.”


“Terlebih berkat kenekatanku, kini lima dari keenam anggota mereka telah terungkap identitasnya. Dan yang lebih penting lagi, kita berhasil mencium keterlibatan kaum imperialis barat dalam masalah organisasi kegelapan ini.”


“Jadi itu tidak sepenuhnya sia-sia, bukan, Nek?”


Pandangan sendu seketika terpancar dari wajah wanita tua yang tampak lebih muda dari usia aslinya itu.


“Nak Arno, kamu tahu kan bahwa jikalau terjadi sesuatu apa-apa padamu, orang-orang terdekatmu pasti akan merasa sedih?”


“Pengorbanan diperlukan untuk mengakhiri segalanya.”


Jawabku dengan tegas terhadap perkataan Nenek Litana tersebut.

__ADS_1


Usai perjuangan hidup matiku di dalam dungeon, secara luar biasa aku sanggup menikmati kembali kehidupan biasa sebagai anak kuliahan ini.


Jika bukan karena kekuatan penerawangan takdir dari Rarina, kurasa saat ini aku pasti sudah tidak akan ada lagi di dunia dan harus mati menyedihkan di tangan seseorang yang paling aku sayangi.


‘Selena, apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu selama seribu tahun ini?’


Gumamku dalam benakku yang masih merasa tak percaya pada perubahan drastis adik masa kecilku dari ingatan masa laluku tersebut.


Namun begitu sampai di kelas, suasana apa ini?


“Hmph. Minggir kau, sampah!”


“Ouch!”


Tahu-tahu aku disambut oleh tatapan seakan melihat kecoak oleh sang anak gubernur Irian, Rohana Macbell.


Dia mencoba menabrakku, tetapi berakhir dengan lucu di mana dirinya sendiri yang oleng karena tak mampu menggoyahkan tubuhku yang lebih besar dari miliknya.


“Oi, kamu baik-baik saja, anak jenius?”


“Hah, kau barusan meledekku ya?”


“Bagaimana bisa aku meledek anak sejenius dirimu yang bisa menciptakan tas pengawet serba-guna.”


“Hmph. Jangan kira karena kau memujiku lantas aku sudi berteman dengan sampah sepertimu. Hmph.”


‘Ada apa lagi dengan sikap anak idiot itu?’


Namun tidak hanya sikap Rohana Macbell yang aneh.


Hampir semua orang yang berada di ruangan ini, kecuali Jeremy Rudd yang tetap dengan senyum lebarnya begitu melihatku, bersikap aneh padaku.


Dan itu termasuk Lisanna, Julian, dan bahkan Abel Lundoln yang selalu bersamaku.


Ah, sialan!


Aku baru ingat.


Saking disibukkannnya aku dengan urusan dungeon, aku sampai lupa tentang insiden di mana aku mencium Lisanna dengan panas selama latihan berpedang di kelas.


Itu semua karena ulah si Sistem sialan itu!


Mengingatnya saja ingin rasanya kucabik-cabik makhluk sialan itu andai saja dia punya tubuh.


“Maafkan aku, Lisanna, atas sikap kekurangajaranku beberapa waktu lalu!”


Aku tak punya pilihan lain lagi selain meminta maaf dengan tulus sambil bersujud meniru apa yang pernah dilakukan oleh Jeremy Rudd ketika meminta maaf padaku di hadapan Lisanna.


Lantas dengan muka yang memerah, Lisanna yang awalnya terlihat hesitasi mendeklarasikan juga pernyataan penerimaan maafnya.

__ADS_1


“Aku paham, Yayang Arno. Asal jangan ulangi itu lagi jika di depan umum.”


Masalahnya pun seketika selesai dengan permintamaafan.


Eh?


Tapi apa maksudnya jika di depan umum?


Bukannya itu memang perbuatan yang tak pantas dilakukan di mana pun kita berada?


***


Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa kini sudah memasuki masa-masa semester akhir.


Cukup banyak yang terjadi, namun semuanya bukanlah peristiwa yang cukup penting untuk diceritakan.


Semuanya hanya berupa kisah seorang anak mahasiswa taruna biasa yang menjalani pendidikannya yang biasa di akademi.


Kini sebagai penutup semester, aku bersama-sama teman-teman sekelasku yang lain akan mengikuti ujian akhir.


Untuk ujian praktik bagi mahasiswa tingkat pertama dan kedua yakni menghadapi monster di area bekas dungeon terkutuk di dalam hutan.


Ini adalah tempat yang sama di mana Sarpian Mucahantas dulunya menculik Otto.


Apa yang lebih anehnya lagi, dalam ujian praktik kali ini, aku harus sekelompok sama senior Sarpian Mucahantas tersebut.


Aku tahu bahwa ini bukan karena rekayasa siapa-siapa dan hanya murni karena kesialanku belaka yang menarik nomor undian yang tak tepat, hanya saja memikirkan kembali apa yang pernah diperbuatnya padaku beberapa waktu silam, ingin rasanya aku menguliti wajahnya.


Ujian praktik Akademi AHNI dilaksanakan dengan dua tahap.


Pertama, tiap dua orang mahasiswa tahun pertama akan dipasangkan terhadap dua orang mahasiswa tahun kedua untuk bekerjasama dalam mengalahkan monster di tengah hutan.


Kami harus mencapai peringkat tengah ke atas di antara kelompok taruna lain untuk melaju ke tahap dua ujian tersebut.


Itu pun ketika mencapai peringkat atas grup tersebut, hanya dua orang di antara kami berempat dengan pon kontribusi tertinggi yang dapat melaju ke tahap selanjutnya tersebut.


Jadi ini benar-benar pertandingan individu yang berkedok sebagai ujian kelompok.


Selain Sarpian Mucahantas, ada juga senior Vivian Cassandra yang sempat mengalahkanku di pertandingan umum swordsmanship di timku.


Senior yang menurutku telah begitu hebat namun tetap saja tersingkir di putaran keduanya oleh seorang senior lain bernomor urut 2S1, Sigried Abraham, yang akhirnya juga kalah di delapan besar oleh si bajingan Alexander Rachelxia yang merupakan salah satu bajingan yang terlibat dalam pembulian Kak Dahlia di sekolah dasarnya tersebut, sang runner up pertandingan.


Memikirkan bagaimana nanti aku bisa melampauinya lantas mematahkan kaki bocah angkuh itu, aku jadi semakin bersemangat untuk berlatih menjadi lebih kuat.


Namun apa yang tak pernah kuduga tiba-tiba saja terjadi selama ujian praktik itu berlangsung.


'Selena, mengapa kamu ada di tempat ini?’


Tanda tanya besar seketika melayang di kepalaku.

__ADS_1


__ADS_2