
“Kak Laviar! Kak Laviar! Tidak! Tidaaaaak!”
Suara sang Selena kecil menggema di tengah malam yang tiba-tiba menjadi gelap di dalam gua itu begitu perut bumi berhasil menelan Laviar.
Wanita itu dipenuhi amarah kepada para hunter yang memburu mereka yang menjadi penyebab orang yang paling disayanginya itu menghilang untuk selamanya dari dunia.
Tidak, sama halnya dengan Laviar kala itu, Selena dendam kepada seluruh umat manusia.
Selena yang terombang-ambing tanpa tujuan setelahnya akhirnya mengetahui fakta bahwa identitas Laviar bisa ketahuan oleh kekaisaran perihal mulut ember dari teman masa kecil Laviar sendiri, Jeanne.
Selena pun memutuskan untuk membunuh Jeanne sebagai perwujudan pembalasan rasa sakit hatinya tersebut.
Namun seketika gadis kecil yang dipenuhi dendam itu berubah pikiran.
Kematian terlalu mudah bagi seorang pengkhianat.
Selena akhirnya memikirkan suatu hukuman yang lebih kejam dari kematian.
Tiada hukuman yang lebih kejam dari membuat seseorang menjadi sesuatu yang paling dibencinya, direndahkannya, bahkan sampai dikhianatinya.
Selena pun mengubah Jeanne menjadi salah satu rasnya, ras vampir.
Tidak sembarangan vampir bisa menciptakan sesama vampir.
Jika itu dilakukan oleh vampir budak seperti Jeanne, maka yang tercipta justru hanyalah monster tanpa pikiran dan perasaan.
Namun Selena bisa melakukan hal tersebut karena sejatinya Selena adalah keturunan langsung dari ayah Laviar.
***
“Jadi itulah yang terjadi.”
Laviar dalam wujud Arno mengangguk-angguk atas cerita yang disampaikan melalui mulut Jeanne sendiri.
Akhirnya, Laviar pun mengetahui tentang identitas sebenarnya dari seseorang yang dilihatnya begitu mirip dengan wajah teman masa kecil yang mengkhiantinya di masa lalu itu.
Ternyata, orang yang dikira mirip itu benar-benar adalah teman masa kecilnya yang telah diubah menjadi vampir yang setengah abadi oleh adiknya sendiri.
Jeanne pun seketika bersujud di hadapan Laviar memohonkan pengampunan.
“Atas sikap ketidakdewasaanku kala itu, aku meminta maaf padamu, Laviar.”
Jikalau itu adalah Laviar di masa lalu, mungkin dia akan segera memenggal kepala Jeanne tanpa mempertimbangakan lagi ucapan rasa bersalahnya.
Namun kini Laviar telah berubah.
Laviar telah memutuskan untuk melupakan segala dendam yang dimilikinya kepada umat manusia.
“Kau! Dasar wanita hina!”
Laviar segera menepuk pundak Selena yang akan terbakar oleh rasa amarahnya sendiri.
__ADS_1
Laviar menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sebagai isyarat bahwa Selena tak perlu bersikap sejauh itu.
Laviar yang pemarah itu hanya tersenyum.
Laviar yang di masa lalu mengutuk Jeanne, kini justru merasa simpatik terhadap apa yang telah dilalui oleh Jeanne selama ini.
Itu tidak terlepas dari pengaruh Arno beserta kawan-kawannya yang lain di Akademi AHNI yang tanpa Laviar sadari telah melembutkan hatinya dengan pertemanan masa muda.
“Akan munafik jikalau kubilang sudah memaafkanmu, Jeanne. Namun setidaknya kau harus tahu bahwa aku tidak menyalahkanmu lagi atas kejadian itu.”
Itu bukanlah kalimat pengampunan.
Namun justru karena itulah perasaan Jeanne menjadi lebih lega karenanya.
Teman polos di masa lalunya, tetap seperti apa adanya tanpa berubah sedikit pun.
Laviar tetaplah Laviar yang naif.
Walau demikian, itulah yang justru membuat Jeanne senang berteman dengan Laviar di masa lalu.
“Hmm”
Wanita itu turut tersenyum.
Namun senyum yang ditunjukkannya adalah senyum kecut.
Itu karena dia mengutuk dirinya sendiri di masa lalu tentang bagaimana Jeanne muda bisa sampai tega mengkhianati seorang teman yang sepolos itu.
Reuni ketiga teman dan keluarga itu pun berlangsung dengan penuh kelembutan.
Namun itu tidak bertahan lama.
“Yayang Arno! Yayang Arno!”
Seorang wanita berambut lurus panjang seketika berhasil menerobos penghalang angin yang dibentuk oleh Selena.
-Slash.
Wanita itu segera mengayunkan pedangnya kepada Jeanne sang vampir yang didapatinya mendekati Arno.
-Trash.
Jeanne segera menahan serangan itu dengan kuku-kuku jarinya yang diperkuat mengalahkan kekerasan logam pada umumnya.
Laviar yang melihat kejadian itu hanya terpaku.
Itu karena dia tidak bisa menentukan akan mendukung siapa.
Sama seperti dia menganggap Jeanne berharga, Lisanna bagi Laviar adalah teman berharga dari seorang teman yang sangat berharga baginya yang keberadaannya tidak kalah berharganya.
Ya, yang datang dengan tujuan hendak menyelamatkan Arno tidak lain adalah Lisanna Annexia.
__ADS_1
Dalam keadaan bingung itu, Laviar memberikan isyarat tatapan mata kepada Selena.
Selena yang telah terhubung ikatan tuan dan pelayan kepada Laviar bisa segera mengerti apa maksud dari tatapan tersebut.
Selena segera meraih leher Laviar.
“Hei, manusia. Diam di sana jika kau tak ingin melihat leher pria tampan ini sampai patah.”
Selena pada akhirnya menggunakan Laviar dalam wujud Arno sebagai ancaman kepada wanita yang tanpa ekspresi itu agar tak lagi menyerang Jeanne.
“Lepaskan dia, dasar vampir!”
“Oho. Tak kusangka bahwa masih ada manusia yang tahu perihal identitas kami di dunia modern ini.”
“Mana mungkin aku tak mengenal nafas bau kalian!”
Selena seketika bergidik oleh aura membunuh yang kuat yang datang dari Lisanna itu.
Tidak biasanya aura membunuh dimiliki oleh seorang manusia sampai sekuat itu, terlebih bisa dibilang bahwa usia Lisanna masih sangat muda.
Keluarga Annexia, tempat di mana Lisanna Annexia tumbuh dan dibesarkan, tidak lain adalah salah satu keluarga kuno dari empat keluarga kuno pemburu vampir sejak zaman Sunda Empire.
Satu-satunya keluarga kuno pemburu vampir yang masih tetap hidup di zaman modern itu perihal mereka adalah satu-satunya keluarga kuno yang memilih untuk berkompromi terhadap perubahan zaman yang begitu drastis jika dibandingkan dengan keadaan seribu tahun silam.
Lisanna semula mengira bahwa kedua vampir itu akan segera merencanakan taktik serangan balasan.
Namun berbeda dari kemungkinan terburuk yang dibayangkannya, kedua vampir justru memanfaatkan Lisanna yang tidak bisa lagi bergerak perihal penyanderaan Arno untuk segera kabur dari tempat itu.
Tanpa diketahui oleh Lisanna, Selena dan Laviar dalam wujud Arno saling bertukar pandangan dan kedipan sebagai isyarat penundaan pembicaraan lebih lanjut di antara mereka berdua untuk sementara.
Ya, tanpa Lisanna tahu apa-apa, Arno yang disayanginya sudah lama menghilang dari dunia yang digantikan oleh Laviar yang menyamar melalui skill ikatan darahnya.
Walau demikian,
“Yayang Arno! Hiks… Hiks… Syukurlah kau baik-baik saja. Hiks… Hiks…”
Tanpa tahu apa yang telah terjadi tahun lalu pada ujian kelulusan mereka di SMUT, Lisanna memeluk sang palsu dengan berlinangkan air mata.
Lisanna lega bahwa berbeda pada saat ujian kelulusan di SMUT itu di mana dirinya tak mampu berbuat apa-apa dalam menyelamatkan Arno yang terjerembab jebakan dungeon perihal organisasi kejahatan tersebut, kali ini wanita itu bisa menyelamatkannya.
Sayangnya sedari awal kesempatan itu tiada lagi bagi Lisanna sejak Arnoria yang asli telah lama mengembuskan nafas terakhirnya terjerembab ke dalam jurang abyss yang sangat dingin nan kelam.
“Aku kembali. Maaf telah membuatmu khawatir, Lisanna.”
Walau demikian, Laviar memutuskan untuk bertanggung jawab sampai akhir perihal dirinyalah penyebab kematian sia-sia pemuda yang seharusnya dipenuhi dengan masa depan cemerlang itu.
Apa yang tidak bisa diraih oleh Arno perihal terputus oleh kematian, semuanya akan diraih oleh Laviar yang mengggunakan tubuh sahabat baiknya yang telah tiada itu.
*Pemberitahuan*
Perihal view novel ini yang selalu 0, jadi author berpikir mungkin tidak ada lagi yang membaca novel ini, jadi author memutuskan untuk hiatus dulu sampai mood author kuat kembali menghadapi kenyataan sepinya peminat novel ini, hehehehe ^_^.
__ADS_1
Tetapi jika ternyata ada masih yang meminati novel ini, notice aja author ya di kolom komentar agar menjadi penyemangat kembali bagi author untuk melanjutkan cerita di novel ini sampai tamat.😊😊😊🥺🙏