
Derek memandang titik merah pada layar monitor, menyentuh titik itu dengan ujung jarinya, memikirkan bentuk nyata sosok seorang gadis yang ditandai dengan titik itu.
"Semuanya berjalan lancar, Derek."
Ucapan Mike di sisi kirinya membuat Derek menoleh. Ia mengangguk pelan, memindai seluruh ruangan besar sebagai pusat kontrol rencana yang akan mereka jalankan. Memindahkan Amy ke mansion utama untuk menjadikannya umpan bagi Jack dan Jonathan adalah keputusan yang dibuatnya tanpa pikir panjang saat itu. Derek menekan keraguan yang muncul di sudut hatinya.
"Sebaiknya begitu, Mike." kembali bintik matanya memandang ke titik merah di layar monitor.
"Tekhnisi kita memasangnya dengan hati hati, tidak ada rasa sakit, sedikit goresan dan kemerahan yang tertinggal akan hilang dalam 1-2 hari."
"Aku tidak bertanya!" ucap Derek ketus.
"Dan aku memberitahumu tanpa diminta!" Mike terkekeh pelan.
"Pelacak itu bekerja seperti yang kita harapkan. Sekarang tinggal menjalankan tahap selanjutnya."
Derek memegang dua monitor kecil seukuran telapak tangannya. Salah satu nya ia berikan kepada Mike.
"Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana, Mike!"
Derek menepuk bahu mike pelan dan melangkah berlalu dari ruangan itu.
__ADS_1
"Derek ... belum terlambat bagi kita untuk mengubah rencana."
Ucapan yang dilontarkan Mike menghentikan langkah Derek. Tanpa berbalik ia menggelengkan kepalanya. "Tidak!" ucapnya tegas, lalu berlalu dengan tangan terkepal.
********
Amy memandang tanda kemerahan di bagian dalam lengan kirinya. Jejak pelacak yang di tanam di bawah kulitnya itu sekarang hanya menyisakan tanda merah kecil seperti gigitan nyamuk. Tekhnisi yang diperintahkan Derek memasang benda itu sangat hati-hati, bius lokal yang diberikannya membuat Amy tidak merasakan sakit sedikit pun. Mike yang mengawasi proses pemasangan tidak berkomentar apapun, hanya memastikan semuanya berjalan lancar dan segera berlalu setelahnya.
Pintu kamar yang terbuka membuat Amy menoleh, sosok Derek berdiri di sana dengan wajah dingin. Rambut lelaki itu lebih panjang dari saat terakhir Amy melihatnya di Mansion Garden dan rambut rambut yang tumbuh di pipi dan dagu pria itu memberitahunya berapa hari lelaki itu tidak bercukur. Amy merasakan Aura kejam terpancar dari tubuh lelaki itu.
Derek melangkah masuk, berhenti di hadapan Amy yang duduk di tepi ranjang dan melemparkan beberapa goody bag aneka warna ke atas ranjang.
Amy memandang Derek dengan wajah datar tanpa ekspresi, mengutuk rasa bahagia yang muncul dalam hatinya ketika melihat pria itu. Namun dengan sengaja ia mengabaikan pertanyaan Derek.
Amy berdiri, berjalan menjauh.
Dengan geram Derek menangkap lengan Amy. Dengan kasar menghela lengan kiri gadis itu ke atas, memindai kulit yang sebelumnya dipasang chip pelacak ... lalu menurunkan kembali lengan itu. Pandangannya menangkap bintik mata Amy agar fokus memandangnya.
"Jawab aku ketika aku bertanya padamu!"
Amy memandang kedua bintik mata Derek yang berkilat. Menekan kerinduan dan keinginannya memeluk dan dipeluk pria itu. Menutup rapat bibirnya, menjaga tampilan wajahnya tetap datar.
__ADS_1
"Ck ... masih tak mau bicara padaku, Sweetheart!? Baiklah kalau begitu! " Lengan Derek mengelilingi Amy dan menekan tubuh lembut itu ke dadanya. Dengan kasar meraup rambut Amy dalam genggamannya dan menarik paksa sehingga wajah terkejut Amy terpaksa mendongak ke arah Derek.
Derek menggesekkan wajahnya ke pipi Amy, mencium aroma harum yang ia rindukan, lalu mulai ******* bibir gadis itu, berusaha membuka bibir manis itu untuknya agar lidahnya yang merindu dapat menari dalam kelembutan yang menjadi candu bagi tubuhnya. Gairahnya dengan cepat terbakar ... perlahan tangannya mulai mencari cari, berusaha menyentuh kulit lembut dan halus dibalik kaus longgar gadis itu.
Suara erangan halus itu menyusup dalam telinga Derek. Makin menyulut gairahnya atas kehangatan dan tubuh lembut yang bergairah dan menyerah di pelukannya. Kedua lengan Amy melingkar di leher Derek ... bibirnya membalas ciuman Derek dengan sama bergairahnya, seolah olah gadis itu merasakan kerinduan yang sama. Derek memiringkan kepalanya menyesuaikan sudut memperdalam ciuman mereka.
Entah berapa lama waktu berlalu, ketika perlahan Derek melonggarkan lengannya, mengangkat kepalanya dari wajah Amy, napas keduanya memburu dengan tubuh yang terasa panas. Sekuat tenaga menahan keinginan, Derek menatap wajah dengan mata biru yang masih berkabut gairah, bibir Amy yang membengkak, dan pipi putih Amy yang terlihat kemerahan dengan beberapa goresan karna gesekan dengan janggut dan bakal cambangnya.
Derek mengawasi ketika kesadaran perlahan menyusup dalam kepala gadis itu. Amy mundur dengan mata syok... menutup bibirnya dengan kedua tangan.
"Kau menikmati ciuman itu bukan ... tubuhmu menyukainya!" ucap Derek arogan.
"Pakai pakaian dan perhiasan itu nanti malam! Pukul tujuh kau harus sudah siap!" Derek menunjuk ke arah goody bag yang ia lemparkan di atas ranjang.
"Aku akan mulai memamerkan mu di kalangan atas. Pastikan kau berdandan cantik dan memuaskan pandangan semua orang!"
Kata-kata Derek membuat Amy merasa seperti sebuah benda, bukan seorang manusia yang punya hati dan perasaan. Kesedihan membalut hatinya semakin kuat, membuat dadanya sesak dan matanya mulai basah. Secepat kilat Amy berbalik ke arah ranjang, mengambil satu goody bag dan pura pura melihat isi tas itu. Air mata meleleh di pipinya, menangis tanpa suara sedang tangannya berpura pura sibuk mengeluarkan isi tas.
Langkah kaki menjauh dari Derek membuat tubuh kaku Amy melemas. Ia berlari ke arah pintu yang telah di tutup, menguncinya dari dalam dan kemudian mulai sesengukan, menangis terisak isak.
**********
__ADS_1