Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
Extra Part 03


__ADS_3

--- Arthur Sky Langton ---


"Sudah waktunya ...." Amy bergumam sendiri sambil mengelus perutnya yang mulai terasa sakit. Berulang kali kontraksi melandanya dan ia menahan diri agar tidak mengernyit. Ia tidak mau seisi mansion menjadi heboh. Bila sudah dekat waktunya, baru ia akan memberitahu Derek.


Suara langkah kaki kecil yang berlari menghampirinya membuat Amy menoleh. Erland kecil tampak berlari ke arahnya, sebuah topeng baru tampak di genggaman tangan kanannya. Ia mengulurkannya pada Amy.


"Mom ... pakaikan ini," pintanya.


"Sebuah topeng? Topeng siapakah ini, Sayang?"


"Punyaku."


Amy tersenyum. Mike sering memanggil putranya dengan sebutan My knight. Seorang kesatria yang rupanya menjadi obsesi baru Erland untuk bermain sebagai kesatria.


Ia melilitkan topeng itu ke kepala Erland, lalu bocah itu mulai memanjat ingin duduk di pangkuan Amy. Amy mengernyit ketika kontraksi kembali melandanya.


"Mommy?" Erland kecil memandang ibunya dengan mata bulat besar berwarna biru. Heran karena ibunya tidak mengangkatnya segera ke pangkuan.


Evangeline yang memasuki dapur melihat kernyitan Amy dan yakin sesuatu telah terjadi. Ia segera mengangkat Erland kecil dan menggelitikinya.


"Di sini kau rupanya. Kau membuka hadiahmu tanpa menungguku." Erland tertawa geli dan meliuk-liuk ingin turun dari gendongan Eve.


"Hahahaha ... maafkan aku, Bibi!" teriak bocah itu cepat, berharap Eve berhenti menggelitikinya. Eve berhenti dan tetap menggendong Erland. Ia melihat ke arah Amy.


"Ada apa?" tanyanya dengan raut serius. Amy tersenyum, ia tak dapat membohongi mata tajam Eve.


"Sepertinya mulai sakit, Eve," ucap Amy pelan. Eve melotot dan segera memanggil Nanny pengasuh Erland. Wanita itu datang dengan cepat karena ia memang mengiringi bocah kecil itu di dekat sana.


"Kau pegang Erland, lalu tunggu di sini. Aku akan menyiapkan perlengkapan Amy untuk ke rumah sakit dan menyiapkan mobil." Nanny itu mengangguk, ia menyadari kalau Nonyanya sepertinya akan segera melahirkan. Eve lalu melangkah akan pergi meninggalkan dapur ketika suara Amy memanggilnya.


"Eve ... jangan beritahu Derek dulu. Kita akan pergi ke rumah sakit dan baru akan memanggilnya ketika bayinya akan lahir. Dia akan mengganggu pekerjaan para dokter dan perawat di sana bila ia memaksa masuk ke kamar bersalin."


Eve terdiam sejenak, lalu mengangguk dan kembali melangkah meninggalkan Amy. Dia mengambil tas peralatan bayi dan kebutuhan Amy untuk bersalin yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Kemudian ia menyuruh pelayan menyiapkan mobil. Eve mengecek sendiri kendaraan tersebut dan memasukkan tas peralatan bayi yang ia bawa.


Setelah selesai dan siap semuanya, barulah Eve kembali ke dapur. Ia membantu Amy berdiri dari kursinya.


"Apakah jaraknya sudah dekat?" Amy menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Eve.


Melihat ibunya dan Eve akan pergi, Erland mulai menangis dalam gendongan Nanny.


"Mommy ... Aunt Eve, take me with you." Tangis bocah itu makin menjadi. Amy dan Eve berpandangan.


"Sebaiknya bawa saja, Eve. Nanny akan menjaganya," ujar Amy sambil memandang Nanny yang mengerti lalu segera mengangguk.


Mereka melaju ke rumah sakit tempat dokter Amy sudah menunggu. Amy langsung di arahkan ke kamar bersalin, Eve menunggu bersama Erland dan pengasuhnya sambil mencoba menghubungi Derek. Ponsel laki-laki itu sangat sibuk. Beberapa kali Eve menelepon selalu saja nada sibuk yang terdengar. Akhirnya Eve menghubungi Alex.


"Ya?" Hanya jawaban singkat dari Alex.


"Kau tahu dimana Derek? Aku tak dapat menghubunginya," tanya Eve langsung.


"Ada apa? Kenapa kau mencarinya?"


"Amy di rumah sakit. Akan melahirkan sebentar lagi. Katakan padaku dimana dia? " Keheningan panjang menyambut pertanyaan Eve, hingga ia mengernyit.


"Hei! Kau dengar aku kan!?"

__ADS_1


"Aku akan mengatakannya pada Derek, Ivy! Kau jagalah Amy dengan baik. Pastikan semuanya berjalan lancar. Oke?" Nada suara Alex sungguh aneh, membuat Eve menjadi waspada. Sesuatu telah terjadi.


"Alex ... ada apa? Dimana Derek?"


"Oh, Derek bersama kami. Jangan khawatir, Ivy. Dia baik-baik saja. Hanya saja ... terjadi sesuatu pada Reggie."


"Reggie?Apa? Kenapa? Ada apa dengannya?" Eve tidak bisa membayangkan sesuatu yang buruk menimpa wanita itu, mengingat kondisi Reggie saat ini.


"Seseorang menculiknya dan memberikan surat ancaman akan membunuhnya."


"Apa!" Eve berteriak tanpa sengaja. Membuat Erland dan Nanny menoleh kearahnya.


"Sekarang tenanglah, Eve. Amy membutuhkanmu. Aku akan memastikan Derek pulang. Sebenarnya Mike membutuhkannya. Tapi keadaan belum menemui titik terang saat ini. Jadi sebaiknya Derek mendampingi istrinya dulu."


"Baiklah ... katakan kami baik-baik saja. Dia tidak perlu khawatir. Sejauh ini semuanya lancar."


"Bagus. Aku akan mengatakan padanya sekarang," ucap Alex mengakhiri pembicaraan.


"Ya ...." Eve mematikan ponselnya. Siapa yang berani berbuat nekad dengan menculik anggota keluarga Sanchez.


Ia melirik Erland yang duduk dalam pelukan Nanny. Bocah itu tampak mengantuk, matanya redup dan tubuhnya nampak mulai rileks.


Tak jauh dari sana dua orang pria yang Eve kenali sebagai bodyguard Erland telah duduk berjaga. Sikap tubuh mereka santai, namun Eve tahu mereka dengan seksama akan mengawasi dan menjaga Erland.


"Nanny ... dia tertidur. Aku akan menemani Amy. Jangan kemana-mana. Tunggulah di sini. Derek juga sebentar lagi akan datang." Eve memandang Erland yang sudah benar-benar lelap di pelukan Nanny.


"Baik, Nona." Setelah mendengar jawaban itu, Eve mengetuk pintu yang dibukakan oleh seorang perawat. Ia menyelinap masuk dan memberikan senyuman penuh semangat pada Amy yang membalas dengan tersenyum dibalik kernyitan kesakitan di keningnya.


"Aku sudah menghubungi Derek. Dia akan kemari. Ayo ... kita harus semangat dan membuat si kecil keluar sebelum ayahnya datang kemari membuat heboh."


Ucapan Eve disambut tawa renyah para perawat dan dokter di ruangan itu. Amy menahan jeritannya dengan mengatupkan bibir. Bayinya akan segera lahir.


Proses kelahiran tidak berlangsung lama. Bayi laki-laki Amy dan Derek lahir dengan suara tangisannya yang keras. Membuat Eve dan Amy tertawa bahagia melihat bayi mungil yang kemudian bergelung di selimut lembut yang membalutnya.


"Ah ... dia mirip Derek, tapi rambutnya berwarna pirang." Eve membelai pipi bayi mungil di pelukan Amy.


"Rambut ayahku. Kakeknya ...," ucap Amy pelan, tanpa sadar air mata Amy mengalir ketika mengingat ayahnya. Eve tersenyum dan menggenggam tangan Amy.


"Mereka pasti tengah melihatmu sekarang. Kau dengan cucu-cucu mereka yang sangat tampan ... karena itu berbahagialah selalu, Amy."


Eve mengulurkan tisu untuk menghapus air mata Amy yang mengalir deras karena teringat ayahnya.


"Terimakasih, Eve. Terimakasih karena selalu ada untuk kami."


Eve mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Sungguh ia merasakan kedekatan yang sangat erat dengan Amy dan putranya, keluarga yang sangat ia cintai.


Suara pintu yang terdorong membuka membuat keduanya menoleh. Derek memandang dua wanita yang sepertinya tengah menangis, jantungnya jadi berdetak lebih cepat.


"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis?" Suara serak penuh rasa khawatir itu membuat Eve dan Amy tersenyum.


"Tidak apa-apa, Daddy. Semuanya baik-baik saja. Putramu sehat dan istrimu pun begitu. Ia hanya perlu memulihkan diri." Eve menghapus cepat air mata yang kembali hampir mengalir melihat Derek yang datang dengan wajah khawatir. Tuhan sungguh berbaik hati menggantikan kepergian kakaknya dengan seorang Derek yang menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri.


"Kemarilah ... lihat putramu," ujar Eve sambil tersenyum melihat Derek yang memandangi istrinya lekat-lekat. Ia melangkah mundur, membiarkan Derek mendekati istrinya dan melihat putranya. Memberikan waktu bagi keluarga itu saling memeluk anugerah yang kembali Tuhan percayakan dalam pelukan mereka. Eve keluar dan kembali duduk di kursi panjang, tempat Nanny yang masih duduk dalam posisi yang sama sambil memeluk Erland yang tertidur.


"Berikan dia padaku, Nanny. Kau pasti pegal memeluknya dari tadi. Aku akan memegangnya." Eve mengulurkan tangan menyambut Erland yang masih tertidur nyenyak. Menggantikan Nanny agar wanita itu bisa beristirahat.

__ADS_1


**********


"Hahahaha ... Aunty, kau curang!" Tawa Erland menggema dalam ruang perawatan. Eve tampak menggelitiki bocah itu di sofa. Amy yang menggendong putra keduanya di ranjang tersenyum melihat mereka. Ciuman tiba-tiba di keningnya membuat ia menoleh, menatap Derek yang memandangnya.


"Katakan padaku nama yang telah kau siapkan untuknya," ucap Derek .


"Arthur, Daddy. Panggil aku Arthur. Arthur Sky Langton." Amy mengucapkannya dengan bangga sambil mengulurkan putranya untuk di gendong Derek.


Derek menyambut dan mencium pipi putranya.


"Selamat datang, Sayang. Kau kebahagiaan yang melengkapi kami." Ia berbisik pelan di telinga putranya.


Suara ponsel yang berdering di atas meja membuat Derek melangkah dan melirik. Nama Alex yang tertera di sana membuat ia menelan ludah. Eve yang sempat melihat siapa yang menelepon segera berinisiatif menggendong Arthur.


"Terima itu di luar, Derek." Ia berbisik pelan agar Amy tidak mendengarnya.


Derek memandangi Eve yang mengangguk untuk memberikan tanda bahwa ia tahu. Setidaknya ia tahu sesuatu yang berkaitan dengan Reggie itu jangan sampai diketahui oleh Amy. Jangan sekarang.


Derek mengangguk berterimakasih pada Eve dan segera keluar dari kamar perawatan. Amy yang berbaring di ranjang memulihkan tenaganya terlihat memejamkan mata.


Beberapa saat telah berlalu. Arthur telah tertidur dan Eve meletakkan bayi itu pada box di samping ranjang Amy. Ia segera menggendong Erland lalu keluar dari kamar untuk menemui Derek.


"Ada apa? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Eve cepat. Ia melihat Derek yang termangu memandang jauh keluar jendela kaca rumah sakit.


Derek menoleh terkejut, lalu menarik napas panjang.


"Seseorang telah menyakiti Reggie, Eve. Ia hilang. Sopir yang membawanya ditemukan mati. Reggie tidak ada di sana. Kursi belakang mobil telah penuh dengan noda darah ...." Eve terhenyak sambil menggeleng. Membuat Erland dalam gendongannya mengelus pipinya dan berucap penuh tanya.


"Aunty?"


Eve memegang tangan kecil yang mengelusnya. Seolah mencari kekuatan dari sana.


"Katakan padaku kalian telah mengetahui siapa orangnya!"


Gelengan Derek membuat Eve sangat ketakutan.


"Pergilah, Derek! Pergilah kesana dan temukan dia. Cepatlah bertindak ... atau Mike akan menjadi gila karenanya ...." Suara Eve menjadi serak, ia perlu berkali-kali menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya.


Derek memegang tangan Eve.


"Ya ... aku akan ke sana sekarang. Alex telah menemukan sesuatu. Kuharap kami tidak terlambat. Aku serahkan Amy dan anak-anakku dalam penjagaanmu, Eve. Aku mengandalkanmu."


Eve berulangkali menganggukkan kepalanya. Erland meniru gerakan itu, menganggukkan kepalanya berulang kali. Membuat Derek tersenyum dan mencium kening putranya.


"Anak baik, jangan nakal dan dengarkan kata-kata, Aunty ... oke?"


Sebuah anggukan lagi dari bocah itu.


"Yes, Daddy," ucap Erland patuh.


*********


Vote, like ,koment, fav, coin, bintang 5 nya jangan lupa ya para pembaca ..... trimakasih...


Tungguin update extra part berikutnya ya....semoga cepat lolos review....

__ADS_1


Trimakasih


Salam, DIANAZ.


__ADS_2