Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** Farewell **


__ADS_3

Derek membawa Amy kembali menuju rumah sakit. Keinginan istrinya untuk berpamitan tidak dapat di ubah. Ia ingin mengucapkan selamat tinggal dan berterima kasih pada Pablo atas bantuannya menampung Amy selama kabur. Tentu saja Derek sangat yakin istrinya itu akan mengatakan sampai jumpa lagi pada laki-laki itu. Membuat Derek merasa sedikit jengkel karena tidak suka Amy memberi perhatian pada lelaki lain.


"Jangan lama-lama, Sweety. Aku sudah menghubungi pilot kita untuk bersiap menjemput kita di bandara," ucap Derek.


Amy terkejut. Ia menimbang dan merasa ragu. Kekhawatirannya pada Reggie menyebabkan ia ingin cepat pulang. Tapi ia belum pamit pada nenek Pablo. Ia tidak mungkin langsung pulang dan hanya berpamitan pada Pablo saja. Tapi itu berarti mereka harus kembali ke perkebunan dulu untuk menemui nenek Pablo.


"Ada apa?" Derek melihat kening istrinya berkerut, ingin tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya itu.


"Aku ingin mengucapkan selamat tinggal dulu pada Grand Nanny, Derek. Tapi ... itu berarti kita harus kembali ke perkebunan dulu untuk menemuinya."


"Sebaiknya kita pergi ke sana dan pamit dulu. Jangan khawatir pada Reggie, Mike akan memberi kabar pada kita secepatnya. Lagipula pesawat kita juga bisa menunggu, Kita punya banyak waktu. Tidak perlu tergesa-gesa."


Ucapan Derek membuat Amy sedikit lega. Reggie pasti akan baik-baik saja. Mike dan anak buah mereka tengah mencari dan tinggal masalah waktu untuk mereka menemukannya. Tapi entah kenapa terselip rasa ragu di hati Amy. Reggie bukanlah Amy, Pengawalnya itu gesit, tangkas dan cerdas. Ia akan membuat dirinya menghilang jika memang tidak ingin ditemukan. Amy sangat berharap Mike dan kru mereka yang mencarinya lebih cerdas dan akhirnya bisa menemukannya.


Mereka sampai di rumah sakit dan langsung menemui Pablo. Pria itu masih duduk di ranjang dan menonton siaran televisi yang tersedia di kamarnya. Ia menatap tamunya yang masuk tanpa mengetuk pintu.


Suami istri ini cocok sekali. Yang satu Arogan, Sangat Bossy, yang satu lagi tukang perintah dan sangat cerewet. Masuk saja ... tidak usah mengetuk pintu dulu.


Pablo mengomel dan tentu saja hanya berani di dalam hati. Ia memberikan senyum manisnya menyambut pasangan itu.


"Kalian sudah kembali," ucap Pablo.


"Ya, Pablo. Namun aku harus minta maaf padamu. Aku tidak bisa tetap di sini merawatmu. Reggie hilang. Aku harus segera pulang. Aku sangat khawatir."


Pablo tidak merasa terkejut, karena di pertemuannya yang pertama dengan Tuan Langton dan Mike, ia mendengar tentang Reggie yang juga telah pergi melarikan diri.


Rencana yang bagus sekali Tuan Langton, membuat Amy mengetahui kejadian itu dan membuatnya khawatir sehingga ingin segera pulang. Aku senang ... cepatlah bawa istrimu pulang.

__ADS_1


"Aku akan baik-baik saja, Nyonya. Akan kembali bekerja seperti biasa beberapa hari lagi. Perawat di sini tadi bahkan mengatakan, mungkin besok aku akan diperbolehkan pulang dan hanya perlu memeriksakan diri kembali jika ada keluhan." Pablo tersenyum, meyakinkan Amy ia baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkannya.


"Aku juga berterimakasih padamu dan juga nenekmu, sudah mau menerimaku dan menjagaku selama aku di sini." Amy mendekati ranjang Pablo, menggenggam tangan pria itu. Membuat Pablo kembali tersenyum.


"Kami melakukannya dengan senang hati. Lagipula kami adalah pegawai ayahmu, sudah seharusnya kami menjaga putrinya yang ingin berlibur beberapa hari." Pablo tanpa sadar mengedipkan matanya. Lupa pada keberadaan Derek di ruangan itu.


"Tetap saja aku berterimakasih. Jika saja Reggie tidak menghilang, aku pasti akan tetap di sini sampai kau sembuh."


"Aku tahu. Tapi Reggie butuh perhatianmu. Apa yang mungkin terjadi padanya karena sendirian di luar sana bukan? Pulanglah. Lalu bawa kabar gembira padaku bahwa Reggie telah pulang dan baik-baik saja." Pablo balas menggenggam tangan Amy yang menggenggam tangannya.


"Tentu saja. Aku akan memastikan itu!"Jawab Amy bersemangat. Derek melihat interaksi keduanya dan entah kenapa ia tidak merasa marah. Walau bagaimanapun Pablo dan neneknya telah menjaga istrinya dengan baik. Ia merasa perlu minta maaf sekali lagi dan berterima kasih sebelum pergi.


"Aku juga mengucapkan terima kasih. Kau juga nenekmu telah menjaga istriku dengan sangat baik. Aku minta maaf sudah memukulmu sampai masuk rumah sakit." Pablo dan Amy saling berpandangan mendengar ucapan Derek lalu serentak keduanya tersenyum lebar.


"Tidak masalah,Tuan. Aku tahu anda melakukannya karena aku berbohong," ucap Pablo.


"Aku akan menaikkan gajimu sebagai ucapan terima kasih." Derek memberikan senyum tipis.


"Berapa kali lipat kau akan menaikkan gajinya? Aku harap berkali-kali lipat!" Amy memandang suaminya menantang.


Derek melipat tangannya di depan dada, Memandang tajam istrinya dan berkata tegas. "Jangan memancingku, Manis. Biarkan aku mengaturnya sendiri. Sekarang ayo kita pulang, atau kau mau menerima hukuman karena kembali tidak menurutiku?"


Amy terdiam dan teringat jenis hukuman yang dulu Derek berikan bila ia tidak menurut. Ia cemberut, membuat Derek terkekeh geli memandanginya.


"Kurasa kau sangat mengerti arti ucapanku, Sweety."


**********

__ADS_1


Derek melajukan mobilnya ke rumah Nenek Pablo di perkebunan. Mereka akan berpamitan pada pengasuh Amy itu dan mengucapkan terima kasih.


Awan hitam terlihat mulai berkumpul di langit yang mendung. Udara terasa sangat dingin dengan angin yang bertiup kencang. Derek memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Lalu turun dan membukakan pintu untuk istrinya.


Kedatangan dua orang itu disambut dengan senyum lebar dari nenek Pablo. Wanita itu merasa sangat senang karena tahu pasangan itu pasti sudah berbaikan. Amy memeluk pengasuhnya itu dan mencium pipinya.


"Grand Nanny, Aku kesini ingin berpamitan. Aku akan pulang bersama Derek," ucap Amy yang disambut anggukan oleh pengasuhnya itu.


"Aku senang akhirnya kau memutuskan untuk pulang, Sayang." Nenek Pablo mengelus pipi anak asuhnya itu dengan lembut.


"Aku sangat berterima kasih kau telah menjaganya selama dia di sini, Nek. Sekali lagi maafkan aku atas apa yang terjadi pada cucumu." Derek mengucapkan kata-katanya sepenuh hati. Membuat wanita tua itu tersenyum ke arahnya.


"Itu sudah sepatutnya, Derek. Kumohon jagalah anak asuhku ini dengan baik." Lalu Nenek Pablo mengalihkan wajahnya pada Amy, berbisik pelan di telinganya.


"Apa kau sudah memberitahunya?" Amy membelalakkan mata ke arah pengasuhnya itu. Mengerti apa maksud pertanyaan itu setelah memandang mata tuanya.


Grand Nanny tahu aku hamil ....


Amy segera menggeleng. Membuat Wanita itu tersenyum.


"Beritahu dia, Sayang. Dia berhak tahu."


Amy cepat-cepat mengangguk agar pengasuhnya tidak melanjutkan percakapan itu di depan Derek yang heran melihat mereka.


"Ada apa? Apa yang harus dia beritahu, Nek?" tanya Derek.


Nenek Pablo tersenyum lalu menggeleng perlahan.

__ADS_1


"Tanyakan saja pada istri cantikmu ini nanti." Ia memberikan tepukan sayang pada anak asuhnya yang merona dan tengah mengalihkan matanya agar tidak memandang ke arah suami yang menatapnya meminta penjelasan.


**********


__ADS_2