
"Dasar lelaki!" Makian pelan tercetus tanpa sengaja dari bibir Reggie. Matanya menatap pasangan Derek dan wanita berambut merah di lantai dansa. Kedekatan dan gerakan-gerakan mesra yang mereka buat membuat Reggie merasa kesal. Berulang kali ia melirik ke arah Nonanya yang duduk bersama Alex. Reggie menangkap wajah pucat Amy sesaat sebelum ia menguasai dirinya dan berpura-pura gembira.
"Dia Evangeline ... Eve. Dia salah satu orang terbaik Derek. Mereka hanya dekat sebagai teman, seperti saudara, tidak lebih." Mike menjelaskan siapa Eve setelah mendengar makian Reggie.
Reggie mendengus.
"Yah ... teman yang terlihat sangat bernafsu. Kau lihat dada wanita itu? Kenapa ia memilih gaun yang sangat terbuka seperti itu kalau bukan dengan maksud untuk menggoda? Dada nya seperti mau tumpah!" Reggie bersungut-sungut.
Mike terkekeh. "Kupastikan kalau ia bermaksud untuk menggoda, maka targetnya bukanlah Derek, Regina."
Reggie menoleh mendengar penuturan Mike.
"Kurasa targetnya adalah semua makhluk berjenis kelamin pria dengan mata yang masih berfungsi!" sungut Reggie.
"Jadi kau mengakui dia memang terlihat menggiurkan bukan? Bahkan olehmu yang berjenis kelamin perempuan."
Reggie melotot marah pada Mike. "Aku tidak pernah berkata begitu. Kau yang bilang kalau dia menggiurkan!"
Mike menarik lengan Reggie. Melingkari pinggang gadis itu. "Tahan emosimu Regina, ada banyak orang di sini. Tunggu kita pulang dan kau bisa kembali mengajakku bertengkar."
Semu merah menjalar di pipi Reggie. Teringat pertengkarannya dengan Mike saat pulang dan mendapati pintu kamarnya yang terkunci. Reggie terbangun karena Mike mendobrak dan merusak pintu. Mike sangat marah karena Reggie tidak mengindahkan perintahnya agar tidak lagi mengunci pintu kamar. Mereka bertengkar, Reggie tidak terima Mike menginvasi kamar tidurnya. Mike yang arogan mengatakan Itu adalah kamarnya, apartemennya. Dan Reggie menumpang, sehingga apapun perintahnya haruslah dituruti.
Mimpi buruk yang menghiasi malamnya masih berlanjut. Namun selama Mike mulai menemaninya, mimpi itu tidak lagi berlangsung lama, dan frekuensinya sudah jauh berkurang. Mike akan segera membangunkannya bila Reggie mulai merintih atau berteriak.
"Lepaskan tanganmu, Mike. Aku tidak akan bertengkar denganmu."
Mike menjentikkan jarinya di hidung Reggie.
"Nah ... begitu. Gadis baik."
*********
Melodi yang mengiringi dansa berakhir. Derek membimbing Eve menuju sofa tempat Alex masih menunggu bersama Amy. Menyerahkan tangan Eve pada Alex yang telah berdiri menunggu.
"Kemana lagi kau akan berkeliling?" tanya Alex pada Eve
"Jangan merasa kesal Alex. Untuk membayar kekalahanmu di zona tembak tempo hari, kau harus menuruti semua keinginanku. Ayo kita cari udara segar di luar."
Derek menaikkan alisnya. "Kau kalah lagi?" tanyanya pada Alex.
"Dia hanya beruntung beberapa centi saja."
Jawaban yang dilontarkan Alex membuat Eve mendengus. "Kau selalu kalah, Alex!"
__ADS_1
Eve mengalihkan perhatiannya pada Amy, tersenyum dan mengedipkan matanya menggoda.
"Hati-hati gadis kecil ... calon suamimu seekor singa yang kelaparan. Jangan percaya pada sikap baiknya."
"Pergilah Eve." Derek mendesis.
"Ia akan memakanmu dan mencabik mu." Jari jari Eve menirukan cakar yang mencengkeram.
Alex menyeret Eve meninggalkan tempat itu, tidak menghiraukan teriakan protes dan makian Eve. Menghentikan provokasi Eve yang sengaja ingin membuat Derek kesal.
"Jangan dengarkan wanita itu."
Derek memandangi Amy yang melihat kepergian pasangan yang menjauh ke arah pintu keluar balkon.
Seketika Amy memandangi dirinya sendiri.
Gadis kecil, wanita itu pun memanggilnya gadis kecil.
"Sweety ... ada apa?"
Pertanyaan yang membuat Amy tergagap. Berusaha menampilkan sikap normal kembali dan rasa percaya dirinya.
"Ti ... tidak, tidak ada," sahutnya pendek.
"Jangan bilang kau mengalami kegugupan sebelum pernikahan."
"Apa yang membuat mu gugup? Segala sesuatunya akan berjalan sesuai rencana."
"Aku tahu, hanya saja ... mungkin akan terasa berbeda jika orang tuaku masih ada"
Derek menarik napas panjang, mendekat dan menarik Amy dalam pelukannya.
"Kemarilah, Sweety."
"Akan sangat menyenangkan membicarakan segala sesuatunya bersama mereka."
"Sweety, aku akan melakukan apapun untukmu, aku akan menjaga dan melindungimu. Arthur dan Margaretha bisa tenang di alam sana, karena aku akan memegang janjiku."
Bisakah kau mengatakan kalau kau mencintaiku? Bisakah kau melakukannya sekarang? Amy menjeritkan pertanyaannya di dalam hati.
"Kita akan menikah dan mengucapkan janji di hadapan Tuhan, hanya beberapa orang saja yang akan menghadirinya. Lalu setelahnya, barulah kita menjamu seluruh tamu pesta pernikahan . Kau tak perlu gugup, bukankah yang akan menjalani seluruh prosesnya bukan hanya dirimu sendiri? Kau akan menjalani semuanya bersamaku."
Tersenyum menggoda Derek menarik dagu Amy, mencium gadisnya tanpa peduli banyaknya mata yang memandang mereka dan bahkan terkikik terang terangan.
__ADS_1
Amy yang menarik napas dengan rakus setelah ciuman itu berakhir memberengut kesal. " Bisakah kau hentikan tindakan tiba-tiba memeluk atau menciumku di hadapan orang lain ini!? Kau membuat semua orang menonton kita."
"Jangan memarahiku, Sweety ... kau tahu betapa sulitnya aku menahan diri agar tidak lagi menyentuhmu sebelum kita menikah. Jadi kasihanilah aku dan biarkan aku hanya memeluk atau menciummu saja."
"Aku menantikan saat di mana kau menyerahkan dirimu. Tanpa paksaan, berbagi gairah bersamaku , menikmati setiap sentuhan di kulitmu yang tidak tertutup sehelai benangpun."
"Derek!" Amy mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka, memastikan tidak ada orang yang mendengar ucapan Derek yang terkekeh melihat gadisnya yang bersemu merah.
"Kau tahu ... Eve benar ... aku sudah tidak sabar lagi ingin memakanmu."
Amy mendongak memandang ke arah Derek yang masih tertawa. Kembali merasa resah mendengar nama Eve disebut.
Sebenarnya sedekat apa hubungan kalian? Mengapa ia bisa memeluk bahkan bersandar di bahumu begitu alami seperti bernapas. Kau tertawa, berdansa dan bahkan memeluknya . Aku gelisah Derek ... wanita itu sexy dan sensual. Apa alasan kau mau menikahi ku Derek? Kau tak pernah mengatakan kalau kau mencintaiku. Jangan katakan ini karena kau ingin aku segera menikah, sehingga seluruh aset dan kerajaan bisnis ayahku bisa kuwarisi dan kemudian kau kuasai ....
Begitu banyak pertanyaan berlompatan dalam pikiran Amy dan tidak ada satupun jawabannya. Hingga pilihannya adalah menunggu , menjalaninya setiap hari dan berharap segala sesuatunya punya jawaban terbaik sesuai keinginannya.
**********
Amy menghirup udara segar di balkon, melodi indah musik yang mengiringi orang-orang berdansa tetap mengalun sampai ke tempatnya sekarang berdiri. Menarik nafas panjang ia memandang ke arah langit yang penuh taburan bintang. Mematri wajah Derek yang sebentar lagi akan menjadi suaminya namun tak mampu mengusir keraguan yang bercokol di hati tentang perasaan Derek yang sesungguhnya .
"Indah bukan?"
Suara merdu menegurnya membuat Amy menoleh. Mendapati wanita berambut merah yang mengusik hatinya sejak pertemuan mereka telah berdiri dengan segelas minuman di tangan.
Amy mencoba tersenyum, lalu mengangguk.
"Kau terlihat khawatir."
Amy menggeleng, tetap memandangi langit tanpa mengindahkan ucapan Eve.
"Cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan bukan."
Amy menoleh cepat, memandang Eve yang menatap langit dengan senyum pahit.
"Tidak bisa bersama pria yang kau cintai sepenuh hati. Membiarkannya memilih apa yang dia inginkan."
Amy menelan ludah, merasa terhubung dengan setiap ucapan Eve.
Apakah Derek pria yang dia maksud?
"Tapi percayalah ... aku takkan pernah menyerah, sekalipun dia nantinya memilih bersama seseorang."
Eve tersenyum cerah pada Amy, kembali menyesap pelan minumannya.
__ADS_1
Keduanya menatap kerlip bintang di langit dengan pikiran masing-masing yang mengembara. Membiarkan keheningan menyebar bersama angin yang dingin yang mulai terasa menusuk bahkan sampai ke hati keduanya.
**********