
Amy memandang keluar, dari kaca jendela mobil yang membawanya. Sejak turun dari pesawat pribadi yang menerbangkan mereka selama satu jam dan meneruskan perjalanan dengan mobil selama lebih kurang dua jam, tidak ada satupun pertanyaan Amy yang dijawab oleh Derek. Sehingga ia memilih diam, menunggu entah kemana akhir dari perjalanan yang membawa mereka.
Sepanjang jalan besar yang mereka lewati dipenuhi dengan pohon-pohon besar di kiri kanannya. Suasana damai di sekitar tempat itu tidak membuat perasaan Amy lebih baik.
"Itu adalah pintu gerbang tempat tinggalmu sekarang."
Amy menoleh mendengar Derek bersuara. Memandang ke depan, ia melihat mobil mereka mendekati sebuah gerbang besi dan kemudian mulai memasuki halaman yang dipenuhi petak petak bunga aneka warna yang diatur sangat apik dan indah. Amy merasa taman yang dulu dibuat oleh ibunya hampir menyerupai taman ini, hanya saja disini merupakan versi yang lebih besar.
Mereka sampai di sebuah mansion yang sangat indah. Derek turun lebih dulu untuk kemudian membukakan pintu mobil untuk Amy.
Amy mengernyit, ia mengakui sikap Derek sangat gentleman. Apapun yang ia lakukan untuk memprovokasi Derek tidak pernah berhasil, malah Amy merasa takut sekarang. Karena setiap ia mulai memancing kemarahan lelaki itu, maka tiap itu pula Derek mengambil keuntungan dengan memberikan hukuman dengan menciumnya.
Sejauh ini ia masih bisa menghadapi setiap hukuman dengan bersikap marah dan memberikan perlawanan. Namun Amy tahu hatinya mulai goyah. Mengetahui dengan pasti bukan pria itu yang membunuh ayahnya, dan di dalam hatinya yang paling dalam, ia tau ia mulai menikmati ciuman-ciuman itu.
Barisan pelayan menyambut kedatangan mereka. Satu demi satu mereka memperkenalkan diri dan memberi hormat. Derek menggandeng tangan Amy sembari perlahan melewati setiap pelayan yang mereka lewati.
"Ini Jason. Kepala pelayan disini. Kau bisa mencarinya bila memerlukan sesuatu."
Amy memandang pria tua yang membungkuk memberi hormat padanya.
"Halo Jason ... panggil saja aku Amy."
Amy mencoba memberikan senyum bersahabat. Ia berharap kepala pelayan itu nanti mau berteman dan mau membantunya bila nanti ia berencana melarikan diri. Walaupun Amy pesimis pria tua itu mau mengkhianati tuannya, tak ada salahnya bila ia mencoba.
Wajah tua di hadapan Amy terpana. Matanya berkabut seolah tengah menatap orang lain. Pria itu terkenang masa lalu ketika seorang wanita yang sangat mirip dengan Amy masih tinggal di mansion ini. Seseorang yang ia layani bertahun-tahun lalu.
"Ehemmmm ... dan kau bisa memanggilnya Jason." Derek membalas perkataan Amy karena pria tua itu hanya diam.
Derek menepuk bahu Jason pelan dan pria itu terkejut lalu kembali membungkuk sambil memperkenalkan dirinya kembali.
__ADS_1
"Maafkan saya, Nona. Master Derek benar, Anda bisa memanggil saya kapan saja bila membutuhkan sesuatu." Jason tersenyum lembut.
Derek kembali melangkah, menarik Amy ke lantai atas, ke arah kamar yang akan Amy tempati. Amy merasa mansion indah ini adalah penjara yang disiapkan derek untuk mengurungnya.
Kamar berukuran besar yang mereka masuki sangat indah, dengan nuansa warna putih, abu abu dan hitam. Mata Amy terpaku pada tempat tidur king size di tengah ruangan dengan sprei berwarna dark grey , lalu ia menoleh, menatap kearah Derek.
"Berapa lama kau akan mengurungku di tempat ini?"
"Sampai kau sepakat denganku untuk beberapa hal." Derek berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di depan dadanya.
"Beberapa ... berarti kau punya lebih dari satu hal yang harus aku sepakati."
Derek hanya diam. Keningnya berkerut memikirkan cara terbaik menyampaikan keinginannya pada Amy. Mengurus bisnis dan para musuh mereka dirasakan Derek lebih mudah dibandingkan situasi yang ia hadapi saat ini.
"kau tahu, kau tak punya pilihan selain menyetujui apapun yang jadi keputusanku." Derek berhenti bersuara ketika mendengar Amy tertawa miris.
Derek tahu duka gadis itu masih memayungi hatinya, dan sekarang Derek terpaksa menahannya di tempat ini. Menjauhkan Amy dari pengawalnya, dari mansion Sky tempat ia dibesarkan. Namun semuanya hanyalah demi keamanan gadis itu.
"Kau tak mau bertemu Reggie?" Derek memutuskan memancing kemarahan gadis itu. Merasa lebih baik mendengar amarah Amy daripada mendengar nada pedih di suaranya.
Amy mengernyit marah, lelaki di hadapannya tersenyum miring dan berjalan mendekat.
"Kabar yang kudengar dari Mike, Reggie sangat ingin bertemu denganmu, sehingga ia saat ini mulai bersikap manis dan menurut pada apapun perintah Mike." Derek menyeringai menjijikkan.
Amy merasa sangat marah, emosinya terpancing naik. Ia mengangkat kakinya dan menendang tulang kering Derek sekuat tenaga.
Derek meringis dan memegangi kakinya yang terasa sakit. Ia membungkuk sehingga tidak melihat tinju Amy yang melayang ke arah wajah, seketika rasa perih menyebar di pipi kanan Derek. Ia berteriak memperingatkan ke arah Amy yang melarikan diri.
"Amy!!"
__ADS_1
Suara Derek menggelegar di telinga Amy. Dengan dua langkah panjang Derek sudah sampai mengejar Amy yang telah lari mencapai pintu. Amy terkesiap ketika lengan Derek melingkar di seputar tubuhnya dan memaku punggungnya bersandar ke dada pria itu.
"Lepaskan tanganmu dariku!!"
Amy berteriak panik, ia meronta dan menggeliat untuk melepaskan diri.
"Kau harus belajar jadi penurut, Sweetheart . Atau aku dengan senang hati akan mengajarimu lagi."
Dengan satu tangan Derek menjepit lengan Amy di seputaran tubuhnya, dan menarik dagu Amy sampai kepalanya harus berputar hingga bibir mereka bertemu, lalu menciumnya.
Amy terus meronta sampai akhirnya Derek merasakan gerakan Amy perlahan menghilang. Tubuh gadis itu lemas dan melembut. Derek membalikkan tubuh Amy kearahnya sepenuhnya. Lalu kembali memberikan ciuman penuh gairah. Pelukannya semakin erat, mencengkeram tubuh mungil Amy, mengangkat dan meraup Amy kedadanya, seolah jarak di antara mereka belum cukup dekat.
Rasa lapar Derek sejak pertama bertemu gadis itu semakin menyala. Perlahan tangannya bergerak ke bawah kamisol Amy. Meraba, mencari kehalusan kulit lembut sehalus sutra yang sangat ingin ia sentuh.
Sentuhan seringan kupu- kupu itu membuat kabut gairah di otak Amy memudar. Membawanya kembali ke alam nyata, sadar bahwa ia terjepit di dada keras Derek dan tak bisa melepaskan diri, Amy hanya bisa mengangkat sebelah kakinya lalu menghantamkan lututnya ke arah ************ Derek.
Serangan tiba-tiba itu membuat Derek melepaskan ciumannya. Ia berteriak, lalu mundur sambil membungkuk kesakitan.
"Amy Sky!" teriakan Derek kembali menggema.
**********
From Author,
Wkwkkwkwk ... Rasain noh, Derek๐๐
Jangan lupa klik like, love, bintang lima dan komentar ya my readers
Terima kasih,
__ADS_1
Salam, DIANAZ.