Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** Chasing **


__ADS_3

Derek bertatapan dengan sepasang mata berwarna coklat yang menatapnya heran.


"Aku bukan Amy, Tuan. Tolong lepaskan tanganmu." Ucapan yang diucapkan dengan bibir cemberut itu membuat Derek menyadari kekeliruannya. Ia melepaskan pegangannya pada kedua bahu gadis itu. Gadis bertubuh kecil itu terlihat masih remaja dan mengenakan baju yang berbeda dengan yang Derek lihat Amy pakai saat melihatnya di trotoar di depan mall. Gadis itu berdiri dan membuka mantel yang tengah dia coba. Kembali meletakkannya di gantungan rak pajangan.


"Maafkan aku. Kukira kau seseorang yang kukenal." Derek meminta maaf . Gadis itu mengangguk.


"Tak apa. Kau harus berhati-hati. Jangan berlari di lorong-lorong ini, banyak orang yang tengah berkunjung dan berbelanja. Kau mengganggu aktivitas orang lain, Tuan."


Derek mengangguk, tersenyum masam mendengar gadis itu menceramahinya. Ia melangkah menjauh ketika melihat gadis itu mulai pergi meninggalkannya. Dengan langkah lesu ia kembali mencari di antara barang-barang yang di pamerkan di sana dan menelisik setiap wajah yang bertemu dengannya. Derek merasa sesak dan akhirnya memilih keluar dari area itu.


Dengan berkacak pinggang Derek menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Berusaha mengisi paru-parunya yang  terasa sempit. Ia mengedarkan pandangan sampai matanya menatap seseorang yang berada di eskalator . Laki-laki itu menuruni tangga  eskalator dengan tergesa. Setelah tiba di lantai bawah laki-laki itu mendongak dan pandangannya bersirobok dengan tatapan Derek. Secepat kilat laki-laki itu berlari.


Derek reflek mengejarnya. Berlari sambil mengumandangkan permintaan maaf pada orang -orang yang bersenggolan bahkan tertabrak olehnya. Mata Derek fokus pada laki-laki yang terus berlari. Ingin kabur dari tempat itu secepatnya. Derek mengenali wajah itu sedetik setelah pandangan mereka bertemu. Pablo ....


"Ya Tuhan ... tamat sudah riwayatku, dia mengejarku!" Pablo tak henti mendesis dan mempercepat larinya. Ia sudah sampai ke eskalator dan melompati undakan untuk sampai ke lantai dasar. Napasnya sudah terengah, ia menoleh dan melihat Derek sudah semakin dekat. Tuannya itu berteriak kencang.


"Berhenti, Pablo! Atau aku benar-benar akan membunuhmu!" Namun Pablo yang terbelit kengerian tidak mau mendengar ucapan Derek. Ia hanya ingin cepat-cepat kabur dari sana.


Terlalu fokus mengejar Pablo membuat Derek tidak menyadari Amy yang telah keluar dari tempatnya bersembunyi dan ikut berlari mengejar kedua pria itu. Niatnya untuk membelikan nenek Pablo Syal dan baju hangat untuk musim dingin terpaksa ia tunda. Derek terlihat sangat marah dan ia khawatir Pablo akan menerima luapan kemarahan  suaminya itu. Tapi kedua laki-laki itu terlalu kencang berlari. Amy kesulitan mengejar. Ia tertinggal jauh di belakang.


Pablo sampai di lobi mall dengan napas memburu. Ia semakin kencang berlari ke pintu keluar mall. Tapi matanya kemudian melotot melihat seseorang yang ia kenali telah berdiri tak jauh dari pintu mall. Tuan bermata abu-abu telah melihatnya dan mengenalinya dengan segera.

__ADS_1


"Tangkap dia, Mike!" teriak Derek lantang.


Dengan ngeri Pablo menyadari dia sudah tertangkap. Ia terperangkap di antara dua pria bertubuh besar yang sangat bernafsu menangkapnya dan tidak akan membiarkannya lari lebih jauh.


Mike menyambut Pablo dengan kepalan tinjunya yang mendarat di wajah laki-laki itu. Kuatnya hentakan tinju itu membuat Pablo terlempar dan terhempas ke lantai mall beberapa meter jauhnya. Tak cukup sampai disitu, Derek yang telah tiba di area itu segera menduduki tubuh Pablo agar tidak bisa lagi bangun berdiri. Ia meraup baju Pablo dan manariknya. Dengan napas memburu kembali ia mendaratkan tinjunya ke wajah laki-laki itu.


"Katakan di mana istriku!" Teriakan itu hanya disambut suara rintihan. Pablo menahan rasa sakit di wajahnya. Kepalanya terasa berputar, darah mengalir dari bibirnya yang pecah.


Derek kembali mengangkat  tinjunya, melayangkannya sekali lagi ke wajah Pablo. Membuat laki-laki malang itu pingsan seketika. Namun Derek belum puas, ia kembali akan melayangkan tinjunya ketika teriakan dari sebuah suara yang sangat ia kenali  memasuki pendengarannya.


"Hentikan Derek!" Amy yang tiba di lobi memandang ngeri ke arah wajah Pablo yang berdarah. Ia berlari terengah mendekati kedua pria itu, segera berlutut ke lantai dan mendorong tubuh Derek sekuat tenaga, hingga membuat laki-laki itu terpaksa menggeser posisi tubuhnya dari atas tubuh Pablo.


"Amy!" Derek meraup dan memeluk Amy ke dalam pelukan. Membuat Amy sesak dengan kuatnya pelukan itu. Namun suaminya itu tidak peduli, ia malah mendekatkan Amy ke dadanya semakin rapat, Membuat Pablo yang terbaring terjepit di antara mereka berdua.


"Derek, lepaskan aku, aku tak bisa bernafas." Amy mencoba mendorong dada suaminya yang sekeras tembok.


Ucapan itu membuat Derek melepaskan pelukannya. Memandang istrinya dari atas ke bawah, Memastikan istrinya itu baik-baik saja. Amy melepaskan diri dari Derek . Kembali memeriksa dan memanggil nama Pablo yang telah pingsan. Rasa khawatir yang tersirat di wajah cantik itu membuat Derek kembali menarik tubuh istrinya menjauhi Pablo.


"Tinggalkan saja dia! Dia pantas mendapatkannya!" ujar Derek marah.


Mendengar ucapan suaminya itu, kejengkelan Amy membubung. Ditatapnya wajah tampan itu dengan wajah penuh tantangan. Ekspresi keras kepala dan dagu mungilnya yang terangkat membuat Derek terkenang saat pertama kali ia bertemu istrinya itu.

__ADS_1


"Sekarang dengarkan aku, Derek! Kau bawa segera Pablo ke rumah sakit. Kau harus memastikan dia sembuh dan sehat seperti sediakala. Atau aku tidak akan pernah mau pulang ke rumah bersamamu!"


Derek hanya menatap ke arah istrinya dengan wajah sendu. Dirinya seperti tidak mendengar ucapan istrinya barusan. Mike yang melihat situasi itu menggelengkan kepalanya. Ia segera menepuk bahu Derek, membawa laki-laki itu kembali ke alam nyata.


"Ayo ... kita bawa dia ke rumah sakit," ucap Mike.


Kenapa kau jadi linglung bila berurusan dengan istrimu? pria yang jatuh cinta memang merepotkan. 


Mike mendengus ketika kata-kata itu melintas di pikirannya.


**********


From Author


Tinggalkan komentar, like, fav, rating bintang 5 nya ya. Buat penyemangat Author menulis kisah selanjutnya


Kritik dan saran untuk perbaikan juga Author tunggu.


Thank's semuanya udah mampir.


Salam, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2