
"Ayo masuk, Sayang. Kau harus beristirahat."
Nenek Pablo membimbing Amy masuk ke dalam rumah.
"Kau mau istirahat di sini atau tiduran di kamarmu?" tanyanya kemudian. Amy menggeleng. Ia menunjuk sebuah kursi santai di teras samping rumah.
"Tidak, Grand Nanny. Aku mau istirahat di sana saja." Amy melangkah ke arah kursi santai, lalu membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Semilir angin pagi berhembus membelai wajah Amy. Membuat perasaannya lebih baik, dan rasa mualnya berkurang.
Nenek Pablo segera pergi ke dapur. Ia menyiapkan sepiring biskuit dan teh hangat, lalu mengambil sebuah handuk kecil dan membasahinya dengan air mengalir. Setelahnya ia berjalan meninggalkan dapur menuju teras tempat Amy beristirahat. Namun sosok Pablo yang masih diam berdiri di ruang tamu membuatnya berhenti dan menegur.
"Bukankan kau harus pergi bekerja, Anak Muda?"
"Yes, Grandma. Apakah dia baik-baik saja? Perlukah kita membawanya ke dokter?"
Pablo memandang khawatir ke arah Amy yang berbaring di kursi santai . Neneknya segera menggeleng mendengar kata-kata Pablo.
"Itu tidak perlu, Pablo. Dia akan baik-baik saja. Sebentar lagi ia akan bersemangat lagi seperti semula."
"Nenek yakin?"
Sebuah anggukan dari neneknya membuat Pablo menarik nafas lega. Kemudian neneknya mencondongkan tubuh ke arahnya, berbisik pelan di telinga Pablo.
"Kurasa ia tidak mengatakan pada kita kalau ia sedang hamil."
Pablo membelalakkan mata. Memandang neneknya tak percaya.
"Itu memang baru dugaanku. Tapi kita harus merawatnya dengan baik."
"Astaga. Singa Langton akan benar-benar mengamuk, Nek. Bayangkan saja. Istrinya hamil dan melarikan diri membawa calon bayi mereka dan ia berlindung, bersembunyi di rumah kita!"
"Sttttt ... pelankan suaramu, Pablo!" Neneknya menegur Pablo yang kelepasan bicara.
"Tapi aku bersyukur ia datang kemari, Pablo. Bayangkan jika ia memilih untuk tidur di hotel dan tinggal seorang diri di luar sana. Aku bersyukur dia datang kesini sehingga kita bisa menjaganya. Sampai ia tenang dan mau kembali pulang ke suaminya."
Ucapan neneknya benar. Pablo mengangguk.
"Nenek benar, tapi kurasa suaminya akan menemukannya lebih dulu, Nek."
Neneknya tersenyum. "Akan lebih baik jika laki-laki itu yang menjemputnya. Dia akan merasa bahwa suaminya peduli. Ayo, pergilah bekerja. Hari akan menjelang siang, Anak muda!"
Pablo mengangguk. Pergi meninggalkan neneknya yang juga mulai melangkah ke arah Amy. Mendengar suara kaki mendekat, Amy membuka mata. Memandang nenek Pablo yang datang dengan sebuah nampan. Ia segera berdiri, mengernyit tidak setuju ke arah wanita tua itu.
"Grand Nanny. Kau tak perlu melayaniku. Aku akan mengambilnya sendiri di dapur!"
__ADS_1
Amy menyambut nampan dan meletakkannya di atas meja kecil. Nenek Pablo tertawa, memandang dengan bangga putri tuannya yang dulu sempat ia asuh.
"Kau memang gadis yang baik, Sayang. Suamimu lebih baik bergerak cepat untuk mencarimu. Dia menyia-nyiakan sesuatu yang sangat berharga."
Amy tersipu, lalu mengambil teh dan meminumnya. Rasa hangat yang mengisi lambungnya membuat mual yang ia rasakan kembali berkurang.
"Terima kasih, Grand Nanny."
"Berbaringlah, Sayang." Nenek Pablo memerintah. Yang segera di ikuti oleh Amy. Segera setelah tubuhnya berbaring, Ia merasakan handuk basah yang di kompreskan di keningnya. Membuat perasaannya sungguh-sungguh menjadi lebih baik.
"Ah ... Itu terasa enak, Grand Nanny."
Nenek Pablo tersenyum.
Seharusnya kau bisa berbagi keluhanmu dan gejala kehamilanmu dengan suamimu, Sayang. Aku yakin itu akan membuatmu bahagia dan menikmati keluhan kehamilanmu ini dengan rasa lega.
**********
Derek kembali ke rumah besar di atas bukit. Membuat pengurus rumahnya sibuk. Ia menyiapkan penganan dan bahkan makan siang. Ia tidak tahu sampai kapan tuannya akan berada di sana. Namun ia ingin semuanya siap jika tuannya tiba-tiba menginginkan sesuatu.
Derek mengelilingi rumah itu. Mencari jejak Amy di setiap ruangan. Memandangi foto kecil Amy yang tergantung di dinding. Bersama ayah dan Mammanya. Ia benar-benar merasa tidak menentu. Serba salah dan gelisah, ingin pulang tapi tidak ada kabar yang menunjukkan keberadaan istrinya selain di tempat ini. Tujuan terakhir istrinya yang bisa mereka periksa.
Suara Mike yang berdiri sambil memandang keluar jendela membuat Derek menoleh.
Derek mendekat. Memandang keluar jendela. Melihat dua orang anak kecil yang tengah bermain.
"Aku jadi mengingat saat-saat kau baru datang ke mansion. Saat itu kau seumuran dengan anak yang lebih besar itu, 9 tahunan."
Derek tidak berkomentar. Memandang keluar jendela kaca, Ketika anak yang lebih kecil memanggil pengurus rumah dengan suara kencang.
"Sooofiiieeeee ... hei Sofieeeee!" serunya lantang. Berulang kali ia mengulang karena yang ia panggil belum juga menampakkan diri.
"Hei, Tommy! Berapa kali harus aku katakan! Panggil aku Bibi! Bibi Sofie!" Pengurus rumah Derek keluar sambil membawa spatula di tangannya.
"Dan kau, Evan! Mengapa kau ajak dia berkeliaran di sini!"
Anak yang lebih besar bernama Evan mengendikkan bahunya.
"Ia mencari seseorang, Bibi. Ia sangat ribut dan tidak mau diam sebelum aku membawanya kemari."
"Memangnya siapa yang kau cari, Bocah!" Sofie berkacak pinggang. Pura-pura memasang wajah galak di depan kedua anak itu.
"Aku melihat mobil itu di rumah di atas bukit ini, lalu aku ingin tahu. Apakah ada seorang putri yang datang kemari, Bibi?" Tommy menunjukkan jarinya ke arah mobil Derek yang terparkir di halaman rumah.
__ADS_1
Dengan wajah polos, Tommy menunggu jawaban bibinya.
"Tidak ada putri, Tommy! Tuan kita sedang berkunjung kemari dan aku tengah memasak untuknya. Kalian datang kesini hanya menggangguku saja!"
Derek meninggalkan ruangan. Melangkah menuju pintu, dan datang ke hadapan tiga orang yang sedang berbicara itu. Sofie menganggukkan kepala melihat Derek, sedangkan dua bocah itu memandangnya terkejut.
"Kau siapa?" suara kekanakan bertanya pada Derek.
"Kau mencari seorang putri? Apakah kau pernah melihat seorang putri sebelumnya?" Derek berdebar-debar menunggu jawaban dua bocah itu. Harapannya bocah itu pernah melihat Amy dan menyangka Amy adalah seorang princess yang tinggal di rumah besar di atas bukit.
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Kau saja tidak menjawab pertanyaanku!" Bocah kecil itu cemberut. Melipat tangan kecilnya di depan dada.
"Jaga kesopananmu, Tom!" Sofie menggertak Tommy.
"Tak apa, Sofie. Aku Derek, dan laki-laki itu ... Mike." Derek menunjuk Mike yang mengikutinya keluar.
"Aku tidak mencari sembarang putri! Aku mencari pacarku!" Tommy menjawab Derek. Memandang tertarik pada Mike yang mendatanginya. Memandang wajah Mike yang sengaja memelototinya dan memasang tampang kejam untuk menakuti bocah nakal itu.
Senyum meremehkan malah tersungging di bibir Tom kecil.
"Huhkk ... Kau tidak tampak mengerikan sama sekali, Sir! Rambutmu kusut dan ada lingkaran hitam di bawah matamu. Kau malah mirip badut."
Ucapan Tommy disambut tawa terbahak oleh Derek dan Evan. Sofie hanya tertawa tertahan. Takut dianggap tidak sopan menertawakan Mike.
"Kau tahu siapa yang dia maksud dengan, Putri?" Derek memandang ke arah Evan. Berharap anak yang lebih besar itu akan menanggapi serius perkataannya.
"Oh. Bukan siapa-siapa,Sir. Kurasa ia hanya ingin mencari calon pacarnya. Dia cantik dan sangat mudah tersenyum."
Jawaban Evan membuat harapan Derek sirna. Ia membayangkan seorang gadis kecil imut yang diibaratkan seorang princess oleh kedua bocah itu. Menarik napas panjang ia melirik ke arah Sofie.
"Bukankah kau membuat kue, Sofie?"
Sofie mengangguk cepat.
"Ajaklah mereka ke dapur. Kurasa mereka senang sedikit mengemil. Bukan begitu?" Derek memandang pada dua bocah yang tiba-tiba berubah wajahnya. Menjadi ramah dan sangat bersahabat.
"Ya ,Sir! Kami sangat suka kue. Tentu saja dengan 2 gelas jus limun dingin!" Tommy berkata sumringah sambil melirik ke arah Evan. Mike mendengus mendengar ucapan bocah itu.
Derek mendesah. Memandang dua bocah yang berjalan mengikuti Sofie ke arah dapur.
Kemana kau pergi, Sweety. Aku merindukanmu, aku benar-benar membutuhkanmu Sweetheart ....
**********
__ADS_1