Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** I Love You, Sweety **


__ADS_3

Amy memandang pintu yang tertutup setelah kepergian Eve. Matanya terpaku pada pintu, tidak mau memandang Derek yang masih menatapnya tak berkedip.


"Siapa lagi yang sudah tahu perihal kehamilanmu ini?" Suara Derek tenang namun menuntut. Ia mendekat perlahan ke arah Amy yang berdiri di dekat sofa. Amy tidak menjawab, hanya mengangkat kepalanya sekilas ke wajah Derek, lalu ia menunduk memandangi lantai.


Derek mendekat, berhenti setelah berada di depan istrinya. Ia mengulurkan tangan menarik dagu Amy hingga mendongak. Mata mereka bertemu, Amy terkejut mendapati tatapan tajam Derek telah berganti dengan tatapan penuh kelembutan. Amy merasakan Derek mengelus pipinya lembut, lalu berputar ke belakang menyentuh rambutnya. Derek makin mendekat untuk mencium kening istrinya yang masih terdiam.


"Kapan tepatnya kau akan mengatakannya padaku?" Derek menunduk menatap dalam mata biru Amy yang memandangnya takjub. Entah apa yang Amy lihat di wajahnya sehingga istrinya itu menatap seperti itu. Mungkin rasa bahagia yang bersinar di wajahnya membuatnya tampak seperti orang bodoh, pikir Derek.


"Ummmm ... aku sebenarnya akan mengatakannya padamu saat aku mencarimu ke hotel waktu itu. Tapi aku melihat pemandangan kau dan Eve ... lalu ... Ummm ... kau tahu sendiri kelanjutannya." Amy terbata menjelaskan pada Derek. Jantungnya entah kenapa berdebar keras melihat tatapan lembut dan penuh cinta yang Derek berikan untuknya.


Seketika Amy merasa dirinya di angkat dan di gendong oleh Derek. Ia terkejut dan tersenyum.


"Derek, apa yang kau lakukan?"


"Aku ingin menciummu sepuasnya. Tapi aku tidak ingin kau jadi lama berdiri." Derek membawa Amy ke sofa. Ia duduk sambil memangku istrinya di atas kedua pahanya. Amy tersenyum mendapati perlakuan suaminya itu.


"Sekarang katakan padaku siapa lagi yang sudah tahu tentang kehamilanmu?" Derek memegang rahang Amy, mengarahkan wajah istrinya menghadap ke wajahnya.


"Grand Nanny," jawab Amy pelan.


"Grand Nanny ... Nenek Pablo. Itukah yang ia bisikkan saat kita berpamitan?" Derek menatap penasaran istrinya yang kembali menunduk. Derek menarik dagunya dan menahannya agar tetap mendongak dan bertatapan dengannya.

__ADS_1


"Ya. Ia berbisik agar aku segera memberitahukannya padamu."


"Dan kenapa tidak langsung kau lakukan saat itu?" Derek menatap gemas pada istrinya yang hanya diam tidak menjawab.


"Apa pablo juga tahu?" tanya Derek lagi.


"Umm ... Ya, Kurasa Grand Nanny yang memberitahunya." Derek menggeram mendengar jawaban istrinya. Ia menunduk dan memaagut bibir Amy. Ciuman menuntut dan penuh penekanan, seolah menandai Amy adalah miliknya. Lalu ciumannya melembut, merayu Amy untuk membalas dan merasakan cinta yang terasa membengkak di hatinya.


Kekesalan Derek karena menjadi orang terakhir yang tahu tentang kehamilan istrinya tertutupi dengan rasa bahagia luar biasa yang ia rasakan karena mengetahui kabar itu. Setelah puas menjelajahi bibir ranum istrinya, Derek mengangkat kepala, memandang bibir merah yang membengkak karena ulahnya dan tersenyum sebelum kembali mengecup lembut bibir mungil yang membuatnya gemas itu.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. kapan tepatnya kau akan memberitahukan kabar ini padaku?"


"Aku sebenarnya akan memberitahumu. Tapi aku teralihkan karena memikirkan Reggie. Aku berencana mengatakannya setelah kita sampai ke sini dan sudah beristirahat." Amy memasang senyum terbaiknya. Berharap Derek percaya pada perkataannya. Karena sebenarnya ia belum punya rencana kapan tepatnya akan menyampaikan kabar itu pada Derek.


"Maafkan aku. Aku ingin ini jadi kejutan untukmu, tapi malah seperti ini ... kau tahu tanpa sengaja dari pembicaraan Eve. Seharusnya aku memberitahumu segera setelah kita bertemu dan berbaikan."


"Ya, sudah seharusnya kau meminta maaf. Kau membuatku diledek oleh Mike." Amy tersenyum mendengar ucapan suaminya. Namun sedetik kemudian teringat dengan reggie ketika nama Mike disebut.


"Kita belum menanyakan kabar tentang Reggie pada Mike, Derek."


"Aku akan bicara dengannya sebentar lagi. Sekarang biarkan aku memelukmu dan calon bayi kita." Derek mengecup kening Amy sambil mengelus perut istrinya. Ia menarik kepala Amy agar bersandar di dadanya.

__ADS_1


"Kapan ini akan membesar." Derek bertanya sambil terus mengelus perut Amy. Amy tertawa mendengar pertanyaannya.


"Ini baru memasuki bulan ketiga, Derek. Kurasa sebentar lagi."Amy meletakkan tangannya di bahu Derek. Bersandar santai dan merasa rileks. Mual muntah yang ia rasakan sudah mulai berkurang, entah ada hubungannya atau tidak dengan rasa puas dan bahagia yang ia rasakan karena sudah bertemu dan berkumpul kembali dengan suaminya.


"Apakah kau sudah pernah memeriksakan kandunganmu?" Amy menggeleng perlahan mendengar pertanyaan suaminya. membuat Derek berdecak.


"Ingatkan aku untuk membuat janji dengan Barkley. Ia akan merekomendasikan dokter wanita yang terbaik untuk memeriksamu."


"Kenapa harus dokter wanita?" Amy bertanya, pura-pura tidak tahu alasan Derek mencari dokter wanita.


"Aku tidak akan membiarkan dokter pria memeriksamu! Kenapa harus pria jika dokter wanita masih banyak dan bertebaran!"Derek merengut dan mengernyit ketika mendengar tawa istrinya. Ia tersadar rasa posesif yang menguasainya membuat ia ditertawakan oleh Amy.


"Kau berani menertawakanku?" Amy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Namun tawa pelan masih lolos dari bibirnya.


"Kau akan menerima hukumanmu ...." Derek menarik tangan istrinya yang menutupi bibir yang kemudian kembali ia cium. Balasan yang ia terima dari istrinya membuat Derek merasakan gairahnya bangkit. Ia ******* bibir Amy sampai napas mereka terasa sesak dan kebutuhan akan udara membuat keduanya melepaskan pagutan bibir mereka. Derek memandang bibir ranum istrinya yang membengkak, mengelusnya lembut dengan jari-jari. Merasakan perasaan cinta dan kasih sayang yang membuncah dalam hatinya.


"Aku mencintaimu, Sweety." Derek mengucapkan perasaannya dan menyandarkan keningnya pada kening Amy.


"Aku juga mencintaimu, Derek." Jawaban Amy membuat Derek mengangkat kepalanya, lalu tersenyum sambil mengecup puncak kepala Amy. Keduanya berpelukan dengan kepala Amy bersandar di bahu Derek dan kedua lengan Derek mengelilingi tubuh istrinya, memeluknya dalam keheningan.


Derek menyandarkan pipinya ke puncak kepala Amy. berulang kali mengecup rambutnya.

__ADS_1


"Welcome my Baby. Kau hadiah terindah untuk ayahmu ...." Derek berbisik sambil memejamkan mata.


**********


__ADS_2