Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** Desire **


__ADS_3

Amy menghela nafas berat. Entah sudah berapa pesta yang mereka hadiri dalam rangka mengekspos dirinya. Sejauh ini belum ada hal mencurigakan yang terjadi.


Amy mulai berfikir itu disebabkan karena dirinya yang tidak pernah terlihat sendirian. Selalu ada Derek bahkan beberapa bodyguard yang menyamar di sekitar mereka.


Berita Bujangan keluarga Langton yang paling diminati itu berkencan dengannya sudah tersebar di seantero negara.


Hawa dingin di balkon tempatnya berdiri terasa membelai kulit telanjang Amy. Gaun-gaun dengan potongan terbuka selalu jadi pilihannya untuk berpesta, Derek menyuruhnya memuaskan mata semua orang, dan itulah yang Amy lakukan, walaupun rasa tidak suka mengenakan gaun-gaun itu terasa mencekik Amy.


Pandangan kagum dari para lelaki dan pancaran iri atau pun heran dari para wanita kerap ia terima di setiap kehadirannya di ruangan pesta.


Derek juga mengajaknya pergi ke klab-klab mewah, membiarkan kalangan konglomerat yang tengah berpesta dengan minuman keras dan wanita wanita cantik itu melihatnya. Bersikap nakal bahkan menciumnya di hadapan para pria itu.


"Masuklah ... ayo berdansa dengan ku," suara Derek membuyarkan lamunan Amy. Keningnya berkerut melihat Amy bersedekap seperti menahan dingin. Ia mendekat, menghela Amy kearah pintu masuk.


"Gaunmu terlalu terbuka ...." Derek memandang belahan dada Amy yang menyembul dibalik gaunnya. Jari jarinya menyisir rambut Amy yang tergerai, menata rambut itu agar menutupi punggung gadis itu yang terbuka sampai ke pinggang.


Amy membiarkan Derek menuntunnya ke lantai dansa. Beberapa pasangan mulai turun ke aula dansa, bersiap memulai dansa Waltz diiringi melodi indah yang mengalun senada langkah mereka.


Berada dalam rengkuhan Derek , Amy mendongak menatap mata hitam yang mengajaknya berputar di lantai dansa. Angannya melayang teringat kelembutan dan perhatian Derek saat dirinya terluka di mansion Garden. membuatnya tersenyum dan berputar mengikuti tarian dengan bahagia. Merasa seolah tiada orang lain di aula itu kecuali mereka.


Musik berakhir ... Derek menarik Amy menjauh dari lantai dansa, setengah menyeret gadis itu sehingga kesulitan mengikuti langkah kakinya. Senyuman Amy saat berdansa tadi membuat Derek merasa ingin segera menyentuh gadis itu, kembali menciumnya sampai kehabisan nafas.


"Aku harap Langton berbaik hati memberiku kesempatan meminjamkan pasangannya untuk menemaniku berdansa ...." senyum merekah di bibir pria tampan yang menghadang jalan Derek.


Amy mendongak memandang wajah tampan dengan senyum cerah mempesona yang mengulurkan tangan ke arahnya.


"Tentu saja aku juga harus menanyakan kesediaanmu, Cara ...."


Derek menarik lengan Amy, memaksa gadis itu bergeser ke belakangnya.


"Tidak Enrico. Dia lelah, tidakkah kau lihat kami baru saja selesai berdansa." Derek menolak halus permintaan lelaki dihadapan mereka.

__ADS_1


Lelaki itu menangkupkan sebelah tangan ke dadanya. menampilkan wajah yang kecewa ke arah Derek.


"Kau melukaiku Derek ... lama tak bertemu dan kau bersikap begitu tak ramah. Dansa berikutnya adalah kesukaanku. Aku ingin sekali Nona yang cantik itu menemaniku berdansa" kembali lelaki itu memberikan senyum mempesona, lalu memiringkan kepalanya mengintip ke arah Amy di belakang bahu Derek


"Aku salah satu teman baiknya, Cara." Amy tersenyum melihat kedipan mata yang lelaki itu berikan untuknya.


"Kau bisa memilih banyak wanita di aula ini, Enrico ... dan Jangan panggil dia ' Sayang!' " ucap Derek ketus.


"Aku hanya meminjam gadismu untuk satu putaran dansa, Langton," tawa geli menghiasi ucapan lelaki itu.


Amy ingin sekali melihat reaksi Derek, bagaimana jika ia menerima ajakan Enrico untuk berdansa. Ia melepaskan pegangan tangan Derek di lengannya. Lalu mengulurkan tangan ke arah lelaki itu.


"Kurasa kau bisa membawaku berdansa untuk satu putaran lagi, Sir. Aku belum terlalu lelah ...." Amy tersenyum manis.


Lelaki itu menyambut tangan Amy, mencium jari jarinya dengan khidmat, membuat wajah Amy bersemu merah.


"Panggil aku Enrico, Cara mia. " lengan pria itu membimbing Amy kembali ke lantai dansa , meninggalkan Derek yang mengetatkan geraham menahan amarah di belakang mereka.


"Tenanglah Tuan Enrico ... kau setidaknya harus mengujiku dulu sebelum memutuskan apakah aku layak atau tidak menari denganmu."


Hanya beberapa pasangan saja yang turun untuk menari di lantai dansa. Hentakan energik musik menggema di aula itu, pasangan yang berputar dan menari berpasangan saling tersenyum menghentakkan kaki dan menggoyangkan pinggul mereka.


Amy merasa sangat senang mengimbangi setiap gerakan Enrico ... mereka berpegangan tangan, berputar dan tertawa. Dengan lincah dan energik bergerak bersamaan, saling memandang dengan senyum merekah.


Derek menelusuri pinggiran lantai dansa dengan tatapan tajam ke arah pasangan itu.Menghentikan pelayan yang membawa nampan anggur, lalu menghirupnya dalam sekali tegukan, untuk kemudian mengambil kembali gelas berikutnya.


Gaun Amy yang pendek mencetak jelas setiap goyangan pinggulnya, terangkat mengembang memperlihatkan kaki mulus gadis itu. Helaian rambutnya yang beterbangan saat berputar menampakkan kulit punggung nya hingga ke pinggang.


Derek menahan amarahnya yang menggelegak melihat bagaimana para pria menatap ke arah dada Amy yang menyembul dibalik gaunnya yang ketat. Ia berusaha menenangkan diri dengan gelas alkohol di setiap nampan para pelayan yang berlalu lalang melewatinya.


Nafas mereka terengah-engah ketika musik berakhir dan Enrico menuntun Amy kembali ke arah Derek.

__ADS_1


"Sudah kuduga ... gadis pilihanmu memang selalu mampu membuat kejutan, Langton." Enrico tersenyum dengan mata berbinar menatap Amy .


Derek menarik lengan Amy meninggalkan Enrico tanpa sepatah katapun. Menyeret Amy menjauhi aula menuju lift. Kemarahan menguasainya.


"Kau tidak sopan!!" Amy mendesis saat mereka hanya berdua di dalam lift.


"Dia temanmu! Setidaknya ucapkan sesuatu!"


Derek menoleh hingga Amy bisa melihat jelas kemarahan yang memuncak yang terpancar di seluruh wajah dan tubuh pria itu. Derek mencekal lengannya , menarik kasar tangan Amy seiring pintu lift yang mulai membuka.


Amy terbelalak melihat Derek membuka salah satu kamar di koridor itu. Menarik Amy masuk lalu menguncinya kembali.


"Apa yang kau lakukan!!" Amy berteriak histeris.


Derek mulai membuka dasi, tuxedo dan kemejanya. Membuat Amy melotot menatap kancing kancing kemeja Derek yang mulai terbuka satu persatu, lalu memperlihatkan dada bidang dengan perut rata dan keras . Amy mundur perlahan dengan mata terbelalak.


"Derek ...." letakutan mulai merasuki Amy, ia melihat sekeliling kamar itu dengan langkah kaki yang perlahan mundur menjauhi Derek yang berjalan pelan ke arahnya, seperti seekor singa yang tengah menyudutkan mangsanya yang sudah terperangkap .


Dinding yang membentur punggungnya membuat Amy tak bisa lagi lari kemanapun. Derek memerangkap gadis itu , mencium paksa bibir Amy. Kengerian membuat gadis itu menggigit kuat bibir Derek.


Derek melepaskan Amy, memekik ketika nyeri menyebar di bibirnya seiring rasa asin darah yang terasa di lidahnya. Amy bekelit, berlari menjauh menuju pintu kamar mandi.Tempat yang terfikir saat itu baginya untuk melarikan diri. Namun lengan Derek menjangkau, menarik tali gaunnya hingga tertarik menuruni bahu. Amy menolak mendekat walaupun gaunnya ditarik kearah Derek sekuat tenaga menyebabkan gaun itu terbelah robek sampai ke arah perut.


Pekikan histeris kembali membahana di kamar itu. Amy menutup tubuhnya dengan kedua tangan . membuat Derek berhasil menangkap tubuh gadis itu dan membantingnya ke arah ranjang, untuk kemudian menindih gadis itu dengan tubuhnya.


"Please ... jangan lakukan ini ...." Amy menghiba, menatap mata Derek, memohon untuk dilepaskan. Kabut gairah yang menggelegak di darahnya dan pengaruh alkohol yang ia minum membuat Derek tak mengindahkan rintihan itu . Tangannya menarik semua sisa gaun yang masih menempel di tubuh Amy..Lalu Derek mulai mencium Amy ... seluruh wajahnya ... membelai kulit lembut gadis itu, Amy kembali bergerak, mencoba mengangkat lututnya. Namun paha keras Derek yang menghimpitnya menahan gerakan Amy.


"Tidak lagi, Sweetheart ... cukup sekali kau menghantam selangkanganku!"


Derek kembali mencium dan ******* bibir gadis itu, merayu Amy dengan sentuhannya, menciumi leher jenjangnya, memberikan tanda di setiap kecupan di kulit halus Amy. Membuai Amy hingga merasakan gairah yang sama dengannya, membuat mereka tidak lagi dapat berfikir, hanya saling menginginkan dan menuntaskan gairah yang membakar keduanya.


**********

__ADS_1


__ADS_2