Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** Dinner **


__ADS_3

"Amy meneleponku, memintaku makan malam di sana," ucap Reggie.


Mike melonggarkan dasinya. Memasuki ruang dapur diikuti Reggie.


"Kau pergi juga bukan?" tanya Reggie.


Mike membuka kulkas, membungkuk untuk mengeluarkan botol air minum. Reggie segera menyodorkan sebuah gelas yang diambil Mike.


Ia menghabiskan air minum yang ia tuang ke gelas yang disodorkan Reggie. Menutup kembali botol air dan meletakkannya di atas meja. Reggie memberengut, ia mengambil botol air tersebut dan mengembalikannya ke dalam kulkas.


Mike memandang bibir yang mengerucut tersebut. Berpikir kalau gadis itu sudah mengurus apartemennya hingga menjadi sangat rapi dan teratur.


"Ya ... aku akan datang." Mike menjawab pertanyaan Reggie. Reggie tersenyum senang.


"Kalau begitu, bisakah kita berangkat lebih awal? Aku ingin menanyakan perihal pernikahan dan pesta seperti apa yang nonaku inginkan."


"Derek dan Amy juga mengundang seseorang selain kita."


"Siapa?"


"Lucius Sanchez."


Tiba-tiba senyum yang terkembang di bibir gadis itu hilang. Wajahnya menjadi pucat. Terdiam kaku setelah mendengar nama Lucius.


Mike menarik lengan Reggie, memeluknya di dadanya yang kekar, mendongakkan wajah yang kehilangan warna itu ke arahnya.


"Sampai kapan kau mau menyimpan semua rahasiamu sendirian? Apakah tidak ada setitikpun kepercayaanmu pada kami? Bahwa kami semua akan mampu menjagamu apapun yang terjadi!"


Mendengar itu Reggie tak dapat membendung air matanya. Ia menangis ... ketakutannya seakan ikut keluar bersama suara sesengukan yang memilukan. Mike memeluknya erat, mengecup puncak kepala Reggie.


"Sstttttt, jangan menangis, Regina. Aku tidak akan memaksamu. Kau bisa membicarakannya pelan-pelan. Aku akan menunggu kau siap."


Kata-kata menghibur yang berusaha menenangkan dirinya itu membuat tangis Reggie semakin kencang. Mike menarik napas panjang, ia menggendong Reggie ke ruang tengah. Segera duduk sambil memangku gadis itu.

__ADS_1


Mike membiarkan gadis itu menangis. Hanya mengelus rambut panjangnya berulang-ulang dan memeluk tubuhnya erat. Mike menunggu, sampai suara sesenggukan itu mereda ,mengulurkan tisu untuk menghapus sisa lelehan airmata di wajah Reggie.


"Apa yang menghantui mimpimu setiap malam, Regina."


Reggie mendongak, menatap mata abu-abu Mike yang bertanya.


"Kau sangat gelisah dalam tidurmu. Aku mendengar kau menangis, bahkan berteriak!"


"Maafkan aku ... kau pasti terganggu."


Mike mendengus mendengar permintaan maaf itu.


"Mulai malam ini jangan kau kunci pintu kamarmu. Sudah cukup Regina! Kau tak dapat menahanku lagi dengan pintu itu. Aku akan merusaknya jika malam ini kau menguncinya lagi!'


Mike menatap tajam mata hitam Reggie. Mengirimkan sinyal ia tidak sedang bermain-main dengan ucapannya. Gadis itu hanya diam....tidak mengiyakan perkataan Mike.


"Aku akan memberitahu Lucius jika kau tidak menurut! Bahwa ada seorang gadis bernama Regina yang juga pernah bertemu dengan Greta Sky."


Wajah Reggie semakin pucat, mendongak memandang Mike seolah tidak percaya atas ancaman Mike yang barusan ia dengar.


"Kalian mengizinkannya!?"


"Derek hanya memenuhi janjinya. Ia akan membebaskan Sanchez menemui orang-orang yang ingin ia cari. "


Reggie menyandarkan kepalanya kembali ke dada Mike. Ia merasa sangat lemas, seolah kekuatannya hilang mendengar penuturan lelaki itu.


Kembali Mike mengangkat dagu gadis itu. Memaksanya menatap Ke matanya.


"Dengarkan aku, Woman! Aku tak dapat membantumu bila kau tidak menceritakan semuanya!"


Mike menatap wajah pucat dengan mata yang bengkak. Entah ketakutan apa yang disimpan oleh Reggie. Mike tak tega melanjutkan ancamannya.


"Beristirahatlah malam ini Regina. Aku akan pergi ke sana sendiri. Aku akan menyampaikan pada Amy kau merasa tidak enak badan."

__ADS_1


Mike kembali memeluk Reggie ke dadanya menenangkan wajah pucat itu, mengecup puncak kepalanya.


"Dan ingat kata-kataku! Aku tidak ingin menemui pintu yang kembali terkunci malam ini dan seterusnya!"


Reggie mengangguk pasrah, rasa lelah membuatnya memejamkan mata. Memilih menenangkan dirinya dalam pelukan pria itu.


**********


Makan malam berjalan lancar, dengan Derek yang tak henti bersikap mesra dan mempertontonkan sikap posesifnya di hadapan Lucius. Seakan mengumumkan pada tamunya bahwa Amy adalah miliknya. Sikapnya itu malah membuat Lucius geli dan bertambah ingin mengerjainya.


Segera setelah makan malam, para pria menikmati minuman mereka masing-masing. Sikap informal dan santai yang tercipta membuat mereka masing-masing berani mengutarakan isi pikirannya.


"Jadi kalian akan segera menikah?"


"Ya ... kurasa jika Mike mengatur segala sesuatunya sesuai jadwal. Maka akan dilangsungkan dua minggu lagi."


"Sayang sekali ... berarti kesempatanku untuk mendapatkanmu hilang sudah, Mungil."


Lucius mengedipkan mata ke arah Amy yang membelalak. Gadis itu menoleh cepat ke arah Derek.


"Cari orang lain, Sanchez ... Amy milikku!"


Lucius terbahak mendengar kalimat posesif itu, sedangkan Mike mendengus keras. Tanpa rasa malu Derek meraup Amy yang duduk di sampingnya dan memangku di atas kedua pahanya. Semu merah menjalar di wajah Amy. Memandang dua pria yang terkekeh melihat wajahnya yang sudah seperti tomat matang.


"Oh ... kalian bajing*n brengsek! Tunggu saja waktunya! Saat seorang gadis membuat kalian bersikap memalukan seperti Derek!" sungut Amy.


Derek terkekeh mendengar makian Amy, lalu mencium pipi gadis itu yang memerah menggemaskan.


"Itu tak akan terjadi, Mungil ... karena kami bukan Derekmu."


Lucius kembali menyesap minuman, Menahan tawa geli yang kembali menggelitiknya. Begitupun dengan Mike yang mengangkat gelas ke bibir, menyesap cairan kekuningan itu dan berpikir tentang seorang gadis berambut hitam di apartemennya ... benarkah? tanyanya dalam hati. Kenapa ia merasa jawabannya tidak seyakin kata-kata Lucius.


********

__ADS_1


From Author,


Jangan lupa Like , favorite , rating bintang lima, lalu koment buat suplemen penyemangat author ya para pembaca semua.......thanks 😘😘😘


__ADS_2