Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** I see You **


__ADS_3

Derek memasuki mall dan mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Amy yang tadi berbicara dengan Tommy dan Evan di trotoar pinggir jalan, sebelum akhirnya istrinya itu masuk ke dalam mall.


Derek sangat yakin wanita itu adalah istrinya. Berambut coklat, mata biru dan datang ke perkebunan sendirian tanpa suaminya. Entah kenapa pengawas itu berbohong pada mereka saat pertama kali bertemu dan bertanya tentang Amy. Derek yakin Pablo tahu dimana Amy tinggal dan bersembunyi.


Tidak menemukan yang ia cari di lantai dasar mall, Derek bergerak ke lantai selanjutnya. Matanya menyelidik pada setiap wanita muda yang berlalu lalang di dalam mall tersebut. Lantai dua merupakan tempat para wanita, segala macam pernak -pernik dari sepatu, pakaian, tas dan aksesoris ada di etalase mall.


Derek berkeliling. Tidak yakin Amy ada di antara para pengunjung yang memenuhi bak pakaian diskon yang semuanya adalah wanita muda dan ibu-ibu. Tapi tidak ada salahnya melihat dan memeriksa di antara kerumunan itu.


"Oh, Tuhan! Hai Tampan! Kemarilah!" Seorang wanita berteriak, terlihat tersenyum dan mengedipkan mata.


Derek menyadari dialah yang dipanggil tampan oleh wanita itu. Serentak kerumunan itu menoleh ke arahnya. Beberapa pasang mata yang melotot dan menelisik penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki membuat Derek mengangkat tangannya tanpa sadar seperti dalam posisi menyerah. Lalu secepat kilat ia berbalik untuk kabur dari sana.


"Hei! Jangan kabur dulu, Tampan!" Teriakan itu disambut suitan dari beberapa wanita lainnya. Derek menggeleng, bukankah mereka agak mengerikan jika berkumpul lalu memutuskan untuk menggoda dan mengerjai seorang pria? Untung saja ia cepat-cepat kabur. Lagipula tidak terlihat sosok Amy di lantai ini. Begitu juga Pablo, pangawas yang pasti tengah bersamanya sekarang, karena tadi Evan dan Tommy bermain di arena anak-anak bersama laki-laki itu. Artinya laki-laki itu ada di mall ini. Derek bertekad mencarinya, ia harus menemukannya.


Derek berputar mengelilingi lantai dua. Memutuskan tidak ada sosok yang ia cari di sana dan mulai melangkah menaiki eskalator menuju lantai selanjutnya.


Penampakan seorang pria dengan tubuh besar yang tengah naik di eskalator membuat Pablo panik. Ia menoleh kiri kanan mencari Amy yang tengah memilih beberapa syal dan baju hangat di gantungan pakaian. Cepat-cepat ia menunduk sambil sesekali melihat kearah eskalator yang sebentar lagi akan membawa pria itu ke lantai yang sama dengannya.


"Amy. Ya Tuhan, habislah aku," ucap Pablo panik. Ia menghela Amy agar pindah dan mereka tertutup oleh deretan gantungan mantel dan baju hangat yang dipajang.

__ADS_1


"Ada apa denganmu? Kau terlihat cemas."


"Ya Tuhan, suamimu ...." Amy melotot ketika mendengar kata suami dari bibir Pablo. Pablo sendiri seperti tidak sanggup lagi bersuara. Ia menarik Baju-baju hangat di depan mereka sehingga ada celah kecil untuk mengintip.


Berdiri di ujung sana, di dekat eskalator, Derek yang mengenakan kaos abu-abu gelap dan celana jeans hitam. Amy terpana melihat suaminya yang tidak mengenakan pakaian formal. Kepala laki-laki itu menoleh kesana kemari. Ia terlihat lelah, dan dari bulu-bulu yang memenuhi rahang pria itu, Amy tahu suaminya sudah beberapa hari tidak bercukur. Ia berantakan, pikir Amy. Namun tetap sangat tampan dan gagah. Terbukti dengan tolehan setiap wanita yang menatap tertarik pada suaminya itu.


"Dia di sini, Pablo ...." Amy berbisik. Ia menoleh dan menyadari Pablo tidak lagi berdiri di sampingnya. Laki-laki itu terlihat berjongkok dan meletakkan kedua tangan di sisi kepalanya. Mata nya mengintip di balik sela-sela bagian bawah pajangan baju hangat.


"Kau sedang apa?" Amy mengernyit bingung melihat tingkah Pablo.


Pablo mendongak, menatap Amy dengan wajah yang makin terlihat pucat. "Katakan apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau ingin menemuinya atau ingin tetap bersembunyi? Namun apapun keputusanmu, aku tidak ikut! Aku mau keluar dari sini, segera!"


"Oh, jangan terlalu khawatir. Dia tidak akan melakukan apapun padamu. Lagipula dia tidak tahu aku di sini bersamamu kan." Amy kembali mengintip.


Ia bergeser, segera menutup dan merapatkan sela-sela baju hangat ketika melihat Derek menatap ke arah tempat mereka bersembunyi. Namun Amy bernapas lega ketika pandangan mata itu hanya melewati tempat itu. Derek belum melihat mereka karena tertutup oleh kumpulan pajangan di depan mereka.


Derek berjalan diantara pajangan  pakaian musim dingin tak jauh di depan Amy, menoleh ke kiri dan kanan, lalu berhenti dan memutar tubuhnya. Memindai area itu mencari sosok Amy atau Pablo.


Amy menatap suaminya dengan dada berdebar. Kerinduannya kembali bernyanyi, melantunkan keinginan yang begitu kuat untuk segera berlari ke arah sosok itu. Memeluk dan menciumnya sepenuh kerinduan yang dirasakannya berhari-hari. Namun egonya menahan langkah kakinya. Ia hanya melahap sosok itu lewat kedua matanya. Mematrinya kuat di dalam ingatan. Terimakasih Tuhan... Aku melihatmu Derek, Biarkan mataku memuaskan kerinduannya padamu. Amy merintih di dalam hatinya.

__ADS_1


Pablo yang berjongkok di lantai merapatkan tubuhnya ke kumpulan baju hangat tebal di hadapannya. Ia meraup dan menutupkannya di depan tubuh. Ia tak henti bergidik dari tadi. Melihat laki-laki itu mendekat serasa menunggu waktu hukumannya tiba.


"Ya Tuhan. Dia datang. Akhirnya tiba juga hukumanku." Pablo berbisik pelan pada dirinya sendiri.


Amy menunduk melihat ke arah Pablo ketika merasakan laki-laki itu mulai bergerak. Pablo terlihat merangkak Menjauh. Kepalanya menoleh ke arah Derek di kejauhan, meyakinkan diri jika pria itu tidak sedang melihat ke arah tempat mereka dan mulai kembali merangkak mencari sela untuk kabur tanpa ketahuan oleh pria yang ia yakin tengah memburunya.


Tuan Derek Langton pasti telah mengetahui keberadaan Amy, Laki-laki itu pasti mengetahui semua informasi tentang pelarian istrinya. Dia datang tepat ke mall tempat istrinya memutuskan untuk berjalan-jalan. Tidak mungkin ini kebetulan, fikir Pablo.


Dia disini karena tahu Amy ada di sini, dan sialnya aku menemaninya! Pablo merutuki dirinya sendiri.


Derek terus berjalan. Mengelilingi tempat itu dengan tatapan tajam pada setiap sosok yang ada disana. Ia mulai mencari di sela-sela pajangan mantel yang tergantung tinggi seukuran tinggi orang dewasa. Orang yang berada diantara pakaian-pakaian ini tidak akan terlihat. Dengan rahang yang mulai mengeras karena tak kunjung menemukan sosok yang ia cari, Derek berjalan cepat, menghela setiap gantungan mantel dengan kasar, mengintip di setiap sela mantel dan melihat di setiap lorong antara rak pajangan yang di lewatinya.


Sampai di pertigaan lorong ia berbalik cepat ingin memeriksa lorong lain di sebelahnya, tanpa melihat seorang wanita yang berdiri di dekat rak pajangan di sisi lorong itu. Mereka bertabrakan dan wanita itu terjatuh karena tubuhnya yang mungil terdorong keras saat Tubuh Derek yang besar menabrak tubuhnya. Ia terjatuh dengan bokongnya lebih dulu menyentuh lantai mall. Wanita itu mengaduh dan meringis.


Derek segera menoleh dan melihat wanita berambut coklat terurai terduduk di lantai, Jantungnya bertalu ketika melihat rambut coklat panjang yang menutupi wajah wanita itu. Tubuh wanita itu tertutup sebuah mantel panjang yang tengah ia coba ketika  tiba tiba Derek muncul dari lorong lain dan menabraknya. Mantel besar itu melingkupi tubuh mungilnya.


"Amy!" Derek memanggil, lalu menjatuhkan diri dengan menumpukan kedua lututnya ke lantai. Kedua tangannya memegang bahu wanita itu sehingga ia bisa melihat wajahnya dan wajah yang tengah mengaduh itu kemudian terangkat. Memandang langsung ke arah mata Derek.


**********

__ADS_1


__ADS_2