
Derek memandang Jack yang duduk di hadapannya , tangan lelaki itu seolah tak mau berhenti menyentuh kulit Amy. Seolah memancing reaksi Derek di setiap sentuhan yang ia buat.
"Jauhkan tanganmu, Jack." Derek mendesis.
Jack tersenyum mendengar desisan itu. Bergerak mendekat ke atas sofa tempat Amy yang kelelahan tertidur , membungkuk seolah-olah akan mencium bibir Amy yang masih terlihat pucat.
"Kenapa? Kau tak tahan melihatnya? Dia sungguh cantik, bukankah begitu?"Jack mengelus pelan pipi Amy dengan bibirnya.
Derek menggeretakkan rahang. Namun tetap diam dan menahan diri untuk mengumbar amarah. Situasi tidak memihak padanya. Empat sudut ruangan kerja besar itu penuh dengan penjaga bersenjata lengkap, dan Derek yakin begitu juga dengan pintu keluar atau bahkan seluruh rumah besar tempat Jonathan membawa ia dan Amy.
"Biarkan ia tidur tanpa diganggu, Jack. Amy membutuhkannya. Kau tidak lihat wajahnya masih terlihat pucat."
"Kurasa kau benar ... ia tidak pernah tidur nyenyak sejak di tangkap dan disekap. Dia selalu gelisah, Kurasa ia sangat kelelahan dan kesakitan, hingga bisa tertidur lelap saat ini."
Derek terdiam, teringat Saat ia di dorong masuk ke ruangan kerja ini bersama Amy dan melihat wajah lelah dan mata biru gadis itu yang terlihat berkunang kunang. Derek memeluknya dari belakang dan berbisik padanya untuk beristirahat, mereka perlu fisik yang segar dan fikiran yang jernih untuk menghadapi Jonathan.
Saat itu Amy berbalik menghadap Derek dalam pelukannya. Mata biru cantik itu bersinar dan meminta.
"Berjanjilah padaku Kau takkan pergi kemanapun tanpa aku."
Derek memandang mata biru itu dalam-dalam. Memahami ketakutan dan kegelisahan yang bersinar di sana. Derek segera mengangguk.
" Aku berjanji. Asalkan kau ikuti kata kataku, beristirahatlah."
Amy mengangguk, para penjaga yang berada di tiap sudut ruangan hanya memandang tanpa berkedip ke arah dua orang yang tengah berpelukan itu. Mengabaikan posisi mereka yang berpelukan dan saling berbisik. Mereka menjauh saat Jack mendorong pintu masuk ke ruangan.
"Ah, baru sebentar kutinggal dan kau sudah berada di pelukannya, Sayang."
Ia menangkupkan tangannya ke dada , memandang Amy yang menjauhkan tubuhnya dari pelukan Derek.
"Tidurlah, kau membutuhkannya." Derek tak menggubris sindiran Jack. Tangannya menunjuk ke arah sofa panjang yang ada di dekat mereka sambil memandang Amy lekat, memberitahu bahwa ia akan menjaganya dan tak akan pergi kemanapun.
Amy mengangguk, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Derek membantu mengatur bantal-bantal kursi agar Amy nyaman untuk berbaring. Derek menoleh ketika sebuah selimut yang dilemparkan seseorang mengenai kakinya.
"Pakai itu." Jack memandang Derek yang membantu Amy untuk beristirahat. Ia memang merasa gadis itu membutuhkannya, Amy tidak beristirahat dan makan dengan baik. Hanya menunggu waktu sebelum gadis itu jatuh sakit jika tidak segera mengurus dirinya dengan benar.
__ADS_1
Amy tertidur dengan cepat setelah memperoleh posisi yang nyaman bagi tubuhnya di sofa. Tanpa tahu dan bereaksi sedikitpun terhadap sentuhan Jack di kulit lengan ataupun wajahnya.
"Bukankah ia sangat mirip dengan bibi kita Margareta." Jack memandang wajah yang tengah pulas itu dengan ironi. Ayahnya terobsesi pada Margareta dan sekarang ia merasa dirinya terpikat pada putri musuh ayahnya itu.
Derek tak berkomentar. Amy memang mirip dengan ibunya, namun entah apa sihir yang dimiliki ibu dan anak itu sehingga pria-pria keluarga Langton entah mengapa tertarik dan bahkan terobsesi memiliki mereka. Derek mengenang ayahnya sendiri yang sangat mencintai Margareta, bahkan setia dan tak mau menggantikannya dengan orang lain sampai ia meninggal.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat kedua pria itu tersadar atas lamunan mereka dan segera menoleh. Jonathan dengan topeng dan jubahnya memandang Derek dan Jack bergantian.
"Jangan katakan kalau kalian berdua sama sama menyukai gadis itu....?."
Keheningan panjang menyambut di antara para pria itu setelah pertanyaan Jonathan.
"Huhhh ... kalian mengulang sejarah buruk jika melakukannya!!"
Jonathan mendengus. Derek memandang pamannya heran, belum mengerti apa yang dimaksud oleh pamannya.
"Apa ayahmu tidak pernah menceritakan bahwa kami mencintai seorang wanita yang sama? Namun Margareta hanya mencintai Arthur, ia memilih pergi dari keluarga yang membesarkannya. Erland yang penuh kuasa sekalipun tak dapat menghentikannya!"
"Ayahku ingin Bibi Margareta bahagia ... karna itu ia melepaskannya."
"Margareta pergi karena Erland terlalu lunak! Menolak menghabisi Arthur Sky! Semuanya akan berbeda jika ia menghabisi laki laki itu!"
"Itu akan membuat bibi Margareta sedih, uncle... kau tau ayahku akan melakukan apapun untuknya."
"Itulah kelemahannya! Aku menolak pilihan Margareta! Namun Erland selalu menghadang setiap usahaku menghancurkan Arthur! Bahkan Steve tua menghambat setiap langkahku! pria tua tidak berguna itu malah memberikan setengah kerajaan bisnis Langton pada Erland. Setengahnya lagi malah harus dibagi kembali antara aku dan Margareta."
Jonathan memaki ayahnya sendiri mengingat bunyi warisan yang ditinggalkan sang ayah.
"Kakek ingin bisnis keluarga kita aman dan berkembang uncle. Kau tidak menunjukkan kemampuanmu membawa perusahaan ke arah yang lebih baik. Karna itu Ayah diberikan kuasa yang lebih besar."
"Siapa yang mengatakan itu padamu ,Derek! Erland selalu diberikan kuasa yang berlebih, bagian Margareta pun di olah olehnya atas kehendak Margaret. Ia tak pernah mau menyentuh bagiannya! Namun ia membiarkan Margareta tetap bersama Arthur, padahal ia mampu menghentikannya! Ia bisa membuat Arthur menghilang dari bumi ini!"
Derek mendengarkan keluhan dan kemarahan yang dilontarkan pamannya. Rasa iri dan ketidakpuasan yang dirasakan Jonathan sudah membuat hatinya mengeras......cinta yang ditolak oleh adik angkatnya memperparah ketidakpuasan itu.
"Namun aku sangat puas. Arthur Sky tidak berhak hidup lagi setelah Margareta tiada. Aku sudah menghabisinya!! begitu juga dengan saudaraku yang lemah itu!"
__ADS_1
Derek memucat. Takut telinganya salah mendengar.
"Uncle.......apa yang barusan kau katakan."
Tawa Jonathan membahana dalam ruangan itu. Derek berdiri dari kursinya, dua orang penjaga langsung bergerak mendekat.
"Tak pernah rugi menjalin bisnis dengan orang orang dunia bawah tanah ... relasi yang mempunyai bisnis penelitian senjata kimia memberikan solusi padaku. Sebentuk racun yang tak dapat terdeteksi ... hanya gejala kematian seperti serangan jantung! Dan uang membuat segalanya menjadi mudah. Aku menunggu ayahmu yang memang sudah sakit-sakitan itu dirawat di rumah sakit yang selalu kalian datangi. Seseorang melaksanakan perintahku memberikan racun dimakanannya."
Tawa mengerikan mengiringi ucapan Jonathan. Derek bergerak ke arahnya dengan cepat, namun kedua pengawal bersenjata yang sudah siap sedari tadi menangkap dan menahan tubuhnya. Derek berontak tanpa hasil.
Suara suara yang muncul di telinganya menembus kesadaran Amy. Perlahan ia membuka matanya, dengan bingung melihat sekeliling, Amy duduk dan merasakan lengan yang mengelilingi tubuhnya. Amy menoleh ke arah Jack yang mendekapnya kuat,seolah menahan agar Amy tidak bergerak.
"Harusnya kau tidur saja ,Sayang ... kau takkan suka menonton adegan ini."
Jack memandang ayahnya yang tertawa dan Derek yang berontak melepaskan diri tanpa hasil.
"Kau ********! Harusnya kau yang mati! Kau sampah di keluarga Langton!"
Derek berteriak menghardik Jonathan. Rasa tak percaya mendengar lelaki itu mengakui meracuni ayahnya membuat kemarahannya memuncak. Hasil akhir pemeriksaan kematian ayahnya di katakan adalah serangan jantung, dan ia percaya saat itu pada tim dokter yang memang telah merawat ayahnya sejak lama.
"Aku harus menyingkirkannya untuk menguasai semua hak ku! "
Setumpuk berkas di lemparkan keatas meja besar di depan Jonathan. Dua orang lelaki yang kemudian masuk membuat Derek dapat mengira ngira apa yang diinginkan pamannya itu selanjutnya.
Salah satu laki laki itu adalah pengacara ayahnya. Terlihat sangat gugup karna sebuah pistol diarahkan di kepalanya saat itu.
"Master Derek ... maafkan saya, mereka...." Nicolai terbata- bata, wajahnya yang pucat dan memar di sebelah matanya memberitau Derek apa yang telah dilalui pria paruh baya itu.
"Sekarang tanda tangani berkas berkas itu Derek. Kedua pengacara ini akan mengurus segala sesuatunya. Mulai sekarang semuanya dipindahkan atas namaku! "
Jack menyimak setiap kata yang diucapkan ayahnya. Lelaki itu tidak pernah sepenuh hati menganggapnya sebagai anak. Kesalahan karna pernah meniduri ibunya membuat kehadiran Jack yang tidak di duga terasa bagaikan gangguan di hidup Jonathan. Ibunya yang sakit menyuruh Jack remaja datang ke keluarga Langton, takut putranya akan hidup seorang diri, dan Jack melakukannya saat ibunya meninggal. Pengakuannya saat itu ditolak mentah-mentah, ia di usir oleh Jonathan. Kemiripan mereka tidak membuat hati Jonathan menerima atau setidaknya mau memeriksa apakah pernyataan Jack itu benar.
Erland Langtonlah yang kemudian menahan Jack, memandang kemiripannya dengan Jonathan lalu memeriksa kebenaran itu. DNA test dengan hasil 99,9 % mengatakan mereka adalah ayah dan anak. Memaksa Jonathan menerima Jack di rumahnya. Namun tetap saja ia seperti orang asing. Usaha apapun yang dilakukannya untuk menarik perhatian laki laki itu selalu gagal. Berbeda dengan Derek, yang walaupun hanya anak angkat, tapi perlakuan Erland kepadanya seperti pada anak kandungnya sendiri. Jack merasa sangat iri.
Sampai saat kejadian pembunuhan Arthur terjadi. Jack yang diam diam mengikuti ayahnya menyaksikan pembantaian yang berbalik menjadi boomerang bagi ayahnya. Arthur membunuh mereka semua, lalu membakar mereka sampai menjadi abu.
__ADS_1
Jack sampai tepat waktu untuk menarik ayahnya keluar dari dalam mobil yang terbakar saat pasukan Arthur sudah pergi. Namun kondisi ayahnya yang sudah setengah terbakar membuat tubuhnya cacat. Jack merawatnya berbulan bulan, hingga ia pulih dan mulai merencanakan balas dendam. Jack merahasiakan ayahnya yang masih hidup, bergembira karna Jonathan mulai bersikap baik padanya, mengikuti arahan dan rencana yang dibuat Jonathan untuk membunuh Erland dan juga Arthur. Berharap dengan mengikuti semua rencana pria itu, ia akan diterima sepenuh hati dan diperlakukan selayaknya anak kandung....