
"Lucius ... Lucius, bangunlah."
Amy mengguncang bahu Lucius, keringat membasahi wajah laki-laki itu. Keningnya mengernyit dengan rintihan yang keluar tak henti lewat bibirnya.
"Lucius ... kau bermimpi! Bangunlah!"
Amy mengguncang lebih kuat. Sampai lelaki itu membuka matanya dan terduduk.
"Kenapa kau malah tertidur di sini."
Lucius menatap wajah mungil Amy yang khawatir. Lalu memandang seputar perpustakaan miliknya. Menyadari ia terhanyut ke alam mimpi ketika merebahkan diri di sofa. Amy ingin membaca dan ia menemaninya sembari menunggu kedatangan Derek.
Yah ... Mike telah menghubunginya kalau mereka akan datang menjemput gadis itu. Ia ingin menunggu Derek di ruang tamu saja, namun Amy menyeretnya ke perpustakaan, memaksa Lucius menemaninya membaca. Gadis itu belum tahu Derek akan datang, dan Lucius sengaja agar jadi kejutan untuknya.
"Mimpimu pasti sangat mengerikan ... kau sampai berkeringat dan hampir berteriak."
Lucius menelan ludah, mimpi itu lagi ... hiasan saat tidurnya. Konseling bahkan obat-obatan tidak pernah membantu menghilangkannya. Ia memijit kening lalu menyangga kepalanya dengan dua tangan sambil memejamkan mata.
Amy merasa iba dan khawatir melihat wajah Lucius yang berkeringat. Ia mengambil tisu, menyeka keringat di wajah pria itu. Gerakan Amy membuat Lucius menoleh ke arahnya.
"Kau kan sudah bangun ... jadi mimpinya sudah pergi, jangan takut lagi."
Amy tersenyum seolah ingin menenangkan Kekalutan Lucius. Lalu gadis itu melihat rambut panjang Lucius yang lembab karena keringat. Ia mengambil pita lalu bergerak meraup rambut Lucius dan menyatukannya di belakang leher. Amy sibuk mengikat rambut itu tanpa menyadari kedatangan dua orang pria yang berdiri di pintu masuk perpustakaan.
Lucius menyadari moment ketika langkah kaki kedua orang itu berhenti di pintu perpustakaannya yang terbuka. Ia tetap membiarkan Amy melakukan pekerjaannya, dan menatap sepasang mata yang sangat tajam menghujam ke arahnya.
__ADS_1
Lucius menguasai diri dengan cepat, senyum menantang tersungging di bibirnya ke arah dua orang yang datang itu.
"Amy ... apa yang sedang kau lakukan?"
Panggilan dengan kata-kata penuh penekanan itu berhasil mengalihkan perhatian Amy dari rambut Lucius. Gadis itu segera menoleh, lalu senyum lebar menghiasi bibirnya ketika melihat Derek dan Mike tengah berada di ambang pintu.
"Derek!" Amy melompat dari sofa, berlari ke arah Derek yang langsung menangkapnya dan memeluknya erat sambil mengecup puncak kepala gadis itu.
Namun, mata Derek tidak pernah meninggalkan Lucius. Tatapan tajamnya menghujam Lucius , menyalurkan kemarahannya atas apa yang ia lihat barusan. Lucius pun membalas tatapan itu sambil tersenyum menantang.
Mike menatap kedua pria itu, menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafas panjang. Ia berjalan masuk melewati Derek yang melekat pada Amy.
"Semuanya baik- baik saja kan, Sanchez?"
"Tentu saja, Mike. Aku hanya mengira kalian lupa padanya." Lucius mengendikkan dagu ke arah Amy.
"Aku rindu Reggie ... kalian bahkan tidak mengajaknya!"
Amy memberengut ke arah Derek yang hanya menampilkan wajah datar. Seolah tidak ada perasaan apapun setelah sekian lama tidak bertemu. Sedangkan perasaannya sendiri sangat membuncah, ia ingin terus memeluk bahkan kalau tidak ada orang lain ia bahkan akan mencium lelaki itu, fikir Amy gemas.
"Bukankah kau menikmati penundaan ini?" Derek berkata sinis, yang disambut gelak tawa oleh Lucius. Pria berambut panjang itu mengedipkan matanya ke arah Amy.
"Tentu saja. Kami menikmati waktu yang menyenangkan ... bukankah begitu, Mungil?"
Amy mengernyit, menolak memberikan reaksi pada kata kata Lucius.
__ADS_1
"Aku akan membawanya sekarang. Mengenai keinginanmu, kau bisa menghubungi Mike. Dia bahkan akan membantumu."
Lucius memandang Derek dan Mike bergantian, lalu menelan ludah, melegakan tenggorokannya yang terasa sempit. Sedikit lagi ... ia akan bisa melacak kedua orang itu.
"Terima kasih ... ini sangat berarti bagiku. Ayahku tidak pernah bisa memperoleh informasi apapun tentang kedua orang ini. Semuanya terputus saat menyentuh ranah Arthur Sky dan ayahmu, Derek."
"Apa yang kau bicarakan? Apa hubungannya dengan ayahku?" Amy memandang ketiga pria itu bergantian.
"Ayahku tak pernah menceritakan alasannya. Aku tidak tahu alasan kenapa ia menutup semua informasi untuk ayahmu." Derek menimpali ucapan Lucius. Lucius mengangguk mengerti.
"Tidak ada, Mungil. Aku juga berterima kasih padamu. Berkat kau, aku menemukan jalan untuk permasalahanku." Lucius tersenyum dan kembali mengedipkan mata ke arah Amy.
Derek tiba-tiba berdiri, menarik Amy bersamanya.
"Baiklah, Sanchez. Kami pergi ... terimakasih atas bantuanmu." Derek mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Lucius.
Mereka melangkah pergi meninggalkan ruangan perpustakaan. Keluar menuju mobil yang sudah menunggu. Derek menggandeng Amy di lengannya. Namun sesaat sebelum naik ke dalam mobil, Amy melepaskan gandengannya lalu berlari kembali ke arah Lucius.
"Aku berterima kasih kau sudah menolongku, bahkan menampungku di sini. Semoga kau baik-baik saja dan mimpi burukmu segera hilang ...." Lalu sebuah pelukan ia berikan pada lelaki berambut panjang itu.
Dengan sengaja Lucius membalas pelukan Amy. Senyum geli menghiasi wajahnya saat memandang wajah kelam Derek.
"Sama-sama, Mungil. Jaga dirimu."
Amy tersenyum, kembali berlari ke arah Derek dan masuk ke dalam mobil . Derek mengikuti kemudian, sambil tak lupa memberikan tatapan peringatan ke arah Lucius.
__ADS_1
**********