
"Bagaimana kabar Reggie?"
Amy bertanya dengan semangat. Memikirkan akan segera bertemu dengan temannya itu. Tidak ada yang menjawab. Keheningan di dalam mobil menyebar. Mike yang duduk di samping sopir hanya memandang ke depan seperti tidak mendengar. Derek yang duduk di sebelah Amy di belakang melakukan hal yang sama, memandang keluar jendela kaca mobil.
Amy mengulurkan tangan ke arah lengan Derek. menarik ujung kemeja pria itu, menginginkan Derek menoleh ke arahnya.
"Kau kenapa? Kenapa diam saja?"
Derek menoleh, melirik ke tangan Amy yang menarik ujung lengan kemejanya, menyusuri lengan itu sampai berhenti di wajah Amy. Sambil tersenyum, Derek mengulurkan tangan memegang lengan Amy dan melepaskannya dengan lembut dari kemejanya.
"Reggie baik baik saja, Sweety. Sebentar lagi kau juga akan bertemu dengannya. Sekarang ceritakan padaku bagaimana hari-hari mu di tempat Sanchez."
Derek menatap Amy penuh perhatian, menyelidik setiap gambaran reaksi di wajah gadis itu.
"Oh, Lucius orang yang baik, kau tahu ... walaupun dia agak berlebihan dengan mengajakku kemana pun dia pergi. Aku malah ikut pergi ke kantor bersamanya. Dia bilang aku tidak boleh lepas dari pandangan matanya."
Derek tak melewatkan Amy yang memanggil Sanchez dengan nama depannya.
"Kenapa ia tidak mencoba mengantarkanmu pulang?"
Amy mengendikkan kedua bahunya.
"Kalian berjanji akan menjemputku, tapi tidak ada yang datang. Lucius bilang dia tidak punya kewajiban mengantarku pulang, karena Mike sudah berjanji akan menjemput."
Amy melipat kedua tangannya. Memandang jengkel pada Mike di kursi depan.
"Kenapa kau tidak datang, Mike?"
"Maafkan aku, Nona ... ada Singa Sekarat yang harus aku urus."
Derek mendengus mendengar jawaban Mike.
__ADS_1
"Tapi ia mengurusmu dengan baik bukan, Sweety?" tanya Derek pada Amy.
"Oh, tentu saja ... dia bahkan menuruti semua keinginanku." Amy terkikik.
Derek menatap datar gadis itu, mencoba menyimpan rasa kesal yang ia rasakan sejak datang dan melihat Amy tengah mengikat rambut Lucius.
"Kau tahu ... aku bahkan mampu memaksanya menelan kripik kentang yang ia anggap makanan sampah."
"Kau memaksanya?"
Amy mengangguk, kembali tertawa senang.
"Tentu saja aku harus mengancamnya dengan sesuatu yang paling ia takuti. Jadi ia terpaksa membuka mulutnya dan memakan kripik yang aku berikan."
"Kau ... menyuapinya?"
Amy tidak menyadari nada suara Derek yang mulai berubah. Gadis itu hanya tersenyum mengangguk.
"Apa saja yang kau lakukan selain menyuapi dan bahkan mengikat rambut laki-laki itu?" tanya Derek menahan amarah.
Amy menoleh, merasa aneh dengan pertanyaan Derek. Menatap wajah Derek yang berkerut marah dan menyadari kesalahan yang ia buat.
"In ... ini tidak seperti yang kau pikirkan," ujarnya terbata.
Derek bergerak, meraup Amy dan mengangkat gadis itu ke pangkuannya lalu mengunci tubuh Amy dengan kedua lengan.
"Derek ... apa yang kau lakukan?" Amy merasa panik, berulang kali menoleh ke arah Mike dan sopir yang seolah-olah tidak menyadari apapun yang terjadi di kursi belakang.
"Aku memulihkan diri beberapa hari karena luka tembakku. Terpaksa menurut pada Beruang Besar yang harus ku ikuti keinginannya. Merasa sangat khawatir karena memikirkan kau berada di rumah pria itu. Tapi rupanya kau bersenang-senang, Sweety."
Mike mendengus keras di kursi depan, Tahu dengan sangat jelas dialah yang disebut sebagai si 'Beruang Besar'. Namun Derek mengabaikan dengusannya.
__ADS_1
"Bukan begitu ... aku ...." jawab Amy terbata.
"Kau bahkan tidak menanyakan bagaimana keadaan lukaku."
Amy melebarkan matanya. Memandang Derek dengan khawatir.
"Kau baik-baik saja kan? Kau bisa menurunkanku, aku berat, lukamu nanti terbuka lagi."
Derek mendengus kesal, "Yah ... kau berat seperti merpati."
Amy melingkarkan tangannya memeluk Derek. Menyandarkan kepalanya di dada Derek, menghirup aroma pria yang ia rindukan.
"Maafkan aku jika membuatmu merasa kesal ... aku merindukanmu."
Derek terdiam mendengar ucapan Amy. Rasa bahagia memenuhi hatinya, ia memeluk Amy kuat dan mencium puncak kepalanya.
"Cium aku kalau kau menyesal."
Kembali Mike mendengus keras di kursi depan, dan kembali Derek mengabaikannya.
"Apa ... tapi ...." Amy tergagap, mendongak menatap Derek yang tersenyum geli.
"Oh ... baiklah" Amy mendongak, mendekatkan bibirnya ke arah pipi Derek, mengecup pipi sebelah kiri lalu pindah ke kanan kemudian ke bagian kening. Senyum Derek menghilang, ia menunduk dengan wajah kaku ....
Suara kikik geli terdengar pelan dari kursi depan. Seolah Mike dan sopirnya mencoba agar tawa mereka tidak keluar.
Derek menggeram ... memeluk Amy kuat, mendongakkan wajah gadis itu lalu melum*t bibir ranum yang sangat ia rindukan. Tanpa memedulikan protes Amy atau keberadaan Mike dan juga sopirnya.
Ciuman penuh hasrat kerinduan itu membuat Amy melembut, keduanya saling menikmati sesapan , saling memag*t tanpa mempedulikan Mike yang sekali lagi kembali mendengus keras.
**********
__ADS_1