Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** Honeymoon **


__ADS_3

"Apa tidak apa-apa meninggalkan mereka?" Amy menengok ke belakang melalui kaca mobil yang mulai meninggalkan hotel.


"Mereka akan terus berpesta sampai kapanpun mereka mau, Sweety. Mereka tidak akan kehilangan kita."


"Kita akan kemana?"


Derek tertawa mendengar pertanyaan Amy.


"Tentu saja segera memulai bulan madu kita, Sweety." Derek mengangkat Amy ke dalam pelukannya. Mendongakkan dagu Amy dan tiba-tiba mencium pengantinnya dengan penuh gairah. Kedua tangannya mulai melepaskan kerudung kepala dan semua hiasan di rambut Amy, melepaskan sarung tangan dan mulai membuka restleting di bagian samping gaun .


"Derek ... kita masih di dalam mobil."


"Stttt ... biarkan aku menciummu."


Derek membuka kancing tuxedonya, mulai melepas dasi dan jas hingga tersisa kemeja yang mulai di buka olehnya dibantu oleh jari -jari mungil Amy yang membuka kancing kemeja dan dengan malu-malu menyusup ke dalam kemejanya, membelai dada Derek dengan sentuhan lembut yang makin membangkitkan gairah.


"Huftttt ... kurasa kita harus berhenti, Sweety ... atau aku takkan bisa mambawamu naik pesawat sebentar lagi." Derek menyandarkan dahinya di puncak kepala Amy. Keduanya mengatur napas yang masih memburu setelah ciuman panas penuh kerinduan yang mereka bagi.


Ketika mobil telah berhenti , dengan cepat Derek kembali mengancingkan gaun pengantin Amy. Lalu menunggu pintu dibuka oleh pengawalnya. Ia keluar lalu kembali menunduk untuk menggendong pengantinnya yang mengalungkan lengan ke lehernya dan menyembunyikan mukanya yang memerah di dada Derek. Mereka menuju pesawat pribadi yang telah menunggu untuk membawa mereka ke tempat bulan madu .


Amy memandang kagum interior dalam pesawat Derek. beberapa tempat duduk yang terlihat nyaman dengan meja yang bisa dipakai jika Derek ingin bekerja. Bar kecil dengan beberapa jenis minuman. Derek terus melangkah hingga pemandangan itu berlalu dan Amy mengernyit.


"Kita akan duduk di mana, Derek?"


"Kita tidak akan duduk ,Sweety ...." tawa Derek mengiringi kata-katanya. Ucapan yang sedetik kemudian membuat Amy mengerti. Pemandangan sebuah ranjang di mana Derek menurunkannya dengan hati-hati.


"Derek ... kita akan take off !"


"Aku tahu ... karenanya peluk aku Sweetheart!"


Tawa Amy menggema ketika Derek menind*hnya dan memeluknya erat, lalu semua suara memudar ketika bibir Derek kembali menemukan pelabuhannya di bibir Amy. Keduanya larut dalam gairah yang mereka bagi dalam tiap kecupan yang membuat keduanya terengah-engah.


Derek mengangkat kepalanya. Memandang wajah pengantinnya yang merona dengan bibir membengkak karna ciumannya. Perasaan Derek membuncah , perlahan ia mulai membuka kembali gaun Amy ... mencari kulit selembut sutra yang ingin ia sentuh.


"Sudah lama sekali, Sweety ... aku rindu menyentuhmu kembali."


"Emmmm ..." gumaman lirih terlepas dari bibir mungil Amy yang membengkak. Kedua tangannya bergerak melepaskan kancing kemeja Derek yang sempat terhenti setelah mereka turun dari mobil.


"Sentuh aku, Sweety."


Amy menurut ... mengelus dada keras di atasnya dengan rakus . Menemukan kenikmatan ketika mengeluskan jemarinya perlahan di sepanjang dada menuju ke perut Derek.


Derek menggeram. Menegakkan tubuhnya dan melepaskan semua pekaian yang melekat di tubuhnya. Amy memandang takjub pada tubuh yang sudah menjadi suaminya itu. Menurut ketika Derek mulai melucuti pakaian nya sampai tak tersisa sehelai benangpun. Mereka berbagi gairah membara dalam kerinduan yang telah mereka tahan selama menunggu untuk menikah. Saling memiliki dan menikmati waktu selama penerbangan dengan saling memberi tanpa sedikit pun menahan diri.

__ADS_1


**********


Amy membuka matanya. Pemandangan kaca lebar yang menyuguhkan langit membiru di hadapannya membuat Amy mengernyit.


Di mana ini?


Suara pintu terbuka membuat Amy membalikkan badan. Derek yang keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk yang melilit di pinggang dan air yang masih meleleh menetes dari tubuhnya membuat Amy tersenyum.


"Kau terlihat tampan ...."


Derek menaikkan alisnya.


"Hanya tampan?" tanyanya menggoda.


Amy terkikik, "Kau terlihat menggiurkan."


Derek terkekeh. Mendekati ranjang tempat Amy berbaring. Naik ke tempat tidur dan bergabung dengan Amy di balik selimut.


"Derek ... kau basah, tempat tidurnya ... hemmm."


Amy tidak bisa melanjutkan protes karena bibir Derek menutup bibirnya. Menciumnya dengan sepenuh gairah.


"Kau tahu ... aku tidak pernah merasa puas denganmu."


"Hm ... hm ...." jawaban yang diberikan Derek lewat kecupan-kecupan ringan di leher dan bahu Amy.


"Ayolah ... kau bisa membuatku kelaparan jika kau tidak membiarkan aku bangun dan makan."


"Stttt ... sekali lagi, Manis. Aku mau sekali lagi."


Derek membujuk Amy dengan belaian dan kecupan. Merasa bangga dengan tanda merah yang bertebaran di tubuh istrinya. Merasa kurang dan kembali memberikan tanda di tiap kulit halus yang ia temukan. Bergerak pelan kembali merayu tubuh kekasihnya untuk merespon setiap belaian, dan kembali desahan itu lolos dari bibir mungil pengantinnya. Derek menyeringai ... membuka selimut dan melemparkan handuk yang ia pakai ke lantai.


Kembali percintaaan penuh gairah yang memuaskan itu mengantarkannya pada puncak kenikmatan, hingga akhirnya mereka berhenti dengan tubuh saling membelit. Berpelukan dengan nafas terengah-engah .


"Sweety ...."


"Hmmmm?"


"Kau baik-baik saja kan?"


Amy terkikik. " Harusnya kau bertanya tadi sebelum kau mengajakku kembali bercinta, Derek."


"Maafkan aku ... aku terlalu menginginkanmu."

__ADS_1


Amy mendongak memandang wajah kekasihnya.


"Dan aku juga sangat menginginkanmu. Aku baik-baik saja ...."


Derek tersenyum lebar mendengar jawaban istrinya. Mengecup kening Amy lalu bergerak turun dari tempat tidur. Dengan tubuh tanpa tertutup apapun ia mengangkat Amy dan membawanya ke kamar mandi.


Mereka berendam dalam bathtub dan saling menggoda dengan buih sabun yang berlimpah. Sampai Derek menyadari kalau istrinya sama sekali belum makan apapun dan bergegas mengajak Amy menyelesaikan mandi bersama mereka.


"Ayo Sweety ... aku akan memberimu makan."


"Kita akan makan di luar?"


"Maafkan aku. Aku memesan layanan kamar. Mungkin besok baru kita menikmati makan di luar."


"Kau ingin mengurungku disini!?" Amy melotot pada Derek.


"Ya ... aku akan memilikimu sepuasnya hari ini, Manis. Besok baru kita menikmati acara bulan madu di luar."


Derek terkekeh. Mengangkat pengantinnya ala bridal dan menempatkannya kembali di ranjang mereka. Amy mengeringkan rambut dan tubuhnya ketika mendengar Derek membuka pintu dan mendorong troley makanan yang baru diantarkan untuk mereka.


Derek memakai jubah kamarnya lalu memasangkan jubah kamar untuk Amy.


"Ayo ... kita makan ...."


Rasa lapar membuat Amy membuka mulut di setiap suapan Derek yang sampai di bibirnya. Matanya memandang pada suaminya penuh cinta. Pria yang ia cintai, akan ia hormati dan mungkin kelak ... jika Tuhan mempercayai mereka, akan menjadi ayah bagi putra-putri mereka.


Aku mencintaimu, Derek. Sangat mencintaimu. Semoga kau merasakan hal yang sama dan nanti ... suatu hari nanti membiarkan aku mendengar kau mengucapkannya dari bibirmu. Amy mengucapkan doa nya di dalam hati dan memejamkan matanya.


"Apa yang pikirkan? Kenapa kau memejamkan matamu, Sweety?"


Amy tersenyum, lalu menggeleng. Kembali membuka mulutnya pada suapan Derek yang kembali menghampiri bibirnya.


"Kau bahagia?" Derek memandang tajam wajah istrinya. Menunggu jawaban dari bibir mungil itu dengan harapan tinggi mendengar jawaban yang sangat ingin ia dengar.


Dengan senyum secerah matahari Amy bergerak meninggalkan kursinya. Berpindah duduk ke pangkuan Derek yang memandangnya. Menunggu jawaban.


"Tentu saja aku bahagia, Derek, dan kaulah yang membuatku merasa begitu." Amy mengalungkan lengannya pada leher Derek. Menyentuh lembut bibir suaminya dengan malu-malu, memberikan kecupan kecil di setiap sudut bibir suaminya.


Derek melepaskan sendok yang digunakan untuk menyuapi istrinya. Memeluk tubuh hangat yang mencium dan mengecupi sudut bibirnya. Membuat gairahnya kembali bangkit, yang sekuat tenaga berusaha ia tahan mengingat ia telah melakukannya beberapa kali dan Amy pasti masih merasa lelah.


"Kau nakal, Sweety. Kau tahu akibatnya jika kau menciumku seperti itu."


"Oh ... aku sungguh tidak keberatan, Suamiku." Amy kembali mencium Derek yang mengakibatkan Derek kembali menggendongnya ke arah ranjang. Dan melampiaskan gairahnya pada istri cantiknya yang terlalu menggoda .

__ADS_1


**********


__ADS_2