Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
Extra Part 02


__ADS_3

--- Second Pregnancy ---


Amy membuka matanya perlahan, rasa mual yang bergulung di perutnya membuatnya bangkit tiba-tiba dan berlari menuju kamar mandi. Ia muntah di toilet, kepalanya juga merasa pusing.


"Sweety.....Ada apa? Kau sakit?" Derek yang telah menyusul masuk ke kamar mandi menyeka wajah Amy dengan handuk basah. Ia terbangun dan terkejut melihat istrinya berlari kekamar mandi dan terdengar muntah-muntah.


"Kita harus ke dokter. Kau terlihat sakit." Ujar Derek lagi. Amy terlihat menggeleng.


"Tidak perlu Derek.....Aku hanya butuh istirahat." Amy meletakkan tangan ke bahu Derek,mencoba menarik tubuhnya untuk berdiri. Namun Derek telah menggendongnya dan membawanya kembali ke kamar.


Derek membaringkan Amy ke atas ranjang. Kembali ia menyeka kening Amy dengan handuk.


"Kurasa........Aku sudah terlambat, Derek." Amy memegang tangan suaminya agar berhenti menyeka wajahnya dengan handuk.


"Terlambat? Memangnya kau mau pergi kemana?" Derek bertanya dan tidak mengerti kata-kata Amy.


"Tidak kemana-mana.....maksudku tamu bulananku yang terlambat." Jelas Amy lagi.


"Tamumu? Siapa? Reggie? Eve? Kurasa mereka kesini hampir setiap hari,Sweety. Kalau tidak Erland akan merengek bila tidak melihat bibi-bibinya."


Amy tersenyum mendengar penjelasan Derek. Sepertinya harus memberitahunya secara langsung. Kali ini ia akan membuat Derek menjadi orang pertama yang tahu.


"Aku sudah terlambat dua minggu, Derek. Kurasa Erland akan punya seorang adik."


Mata Derek membulat menatap Amy. Senyum lebar terkembang di wajahnya ketika mengerti apa yang Amy maksudkan.


"Kau hamil ,Sweety?" ucapnya senang. Amy tersenyum mengangguk.


"Berapa bulan?" Derek mengelus perut istrinya.


"Satu bulan lebih.....Kurasa tepatnya sekitar 6 minggu atau 7 minggu."


"Kita akan ke dokter.......Kita akan memastikannya...." Derek berdiri dan mencari ponselnya. Cahaya pagi yang menembus jendela memberitahunya bahwa hari sudah mulai terang.


"Apa yang kau cari?"


"Ponselku...." Derek manarik laci nakas dan menemukan ponselnya. Ia mencari nomor Mike dan menghubungi tangan kanannya itu.


"Halo....."Suara Mike menjawab panggilan Derek.

__ADS_1


"Kau sudah bangun.....?" Tanya Derek otomatis.


"Kau bicara denganku sekarang kan. Jadi tentu saja aku sudah bangun.....Otakmu agak telat mikir sejak kau menikah" Mike terkekeh , lucu dengan kata-kata yang ia lontarkan untuk menggoda Derek.


"Hehe........Aku tidak akan marah padamu, karena aku sedang senang saat ini. Aku menelpon untuk mengabari aku tidak akan ke kantor hari ini. Tolong handle semuanya ya."


"Aku memang tengah bersiap untuk berangkat. Ada apa? Kabar gembira apa yang membuatmu begitu bahagia sampai mengambil libur...."


"Itu rahasia....." Derek terkekeh senang. Mike mengernyit memandangi handphonenya. Ia mendekatkan handphonenya kembali ke telinga dan bicara.


"Well....Aku memang akan menyelesaikan semua pekerjaanku di kantor, sebelum aku mengambil cutiku, Derek." Ujar Mike.


"Cuti? Kau mau mengambil cuti?.... Kenapa tiba-tiba....?" Suara Derek seakan tak percaya di seberang sana. Mike memang tak pernah mengambil cuti, apa yang mau dilakukannya di saat libur? Lelaki gila kerja itu tidak pernah tahu digunakan untuk apa bila ia mengambil cuti.


Mike terkekeh, Sekarang ia yang akan berahasia.....


"Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaanku. Lalu aku akan cuti dan kau harus sudah masuk saat itu,Derek...." Mike sengaja tidak menjawab pertanyaan Derek.


"Baiklah....Aku akan masuk saat kau akan mengambil cuti. Tapi katakan padaku.....Apa penyebab kau tiba-tiba ingin liburan, Mike?" Derek di dera rasa penasaran. Tapi pertanyaannya hanya dijawab oleh kekehan Mike di seberang sana.


"Itu rahasia......" Mike membalas ucapan Derek yang tadi berahasia dengannya. Ia mendengar Derek mengumpat. Lalu suara Amy terdengar menegurnya karena itu.


"Itu salahmu....Kenapa kau mengumpat di dekatnya." Mike membela diri.


"Aku tidak akan mengizinkan kau cuti kalau kau tidak mengatakan apa alasannya....." Derek tersenyum lebar. Merasa menang karena mendapatkan alasan agar Mike memberitahunya alasan ia ingin libur.Ia sangat penasaran....


Mike hanya terkekeh mendengar ancaman itu. " Aku tetap akan mengambil cutiku saat pekerjaan ku sudah kuselesaikan. Aku hanya memberitahumu Derek. Bukan meminta izinmu...." Lalu sambungan telpon terputus diakhiri tawa Mike yang menggema di telinga Derek. Ia memandangi handphonenya seolah itu adalah benda aneh.


"Sialan....! Aku atasanmu, Mike!!" Derek kembali mengumpat dan Amy yang mendengarnya kembali memarahinya.


"Hentikan mengumpat, Derek!! Tanpa sadar kau akan melakukannya di hadapan Erland. Bocah itu sekarang meniru dengan sangat baik!" Omel Amy. Derek kembali meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Istrinya tampak cemberut dan memandang tajam ke arahnya.


"Ah.....kau pasti masih merasa tidak enak. Aku akan turun meminta biscuit dan teh hangat. Kau mau kan?" Derek mencoba merayu istrinya. Amy merasa perutnya akan lebih baik dengan teh hangat dan biscuit. Ia mengangguk...


"Aku akan mengambilnya kalau kau memberiku senyuman...." Derek memandang Amy yang cemberut. Perlahan senyum manis yang memperlihatkan lesung pipi itu terkembang. Membuat Derek mendekat lalu melahap bibir istrinya, mencium dan memagutnya sampai Amy mendorong dadanya hingga ciuman mereka terpaksa berhenti.


"Sekarang ambilkan biskuitku....." Amy terkikik melihat suaminya yang kecewa karena ia menghentikan aksinya tadi.


"Baiklah......Demi putriku di dalam sana, Aku akan turun kedapur." Derek menunjuk ke arah perut Amy.

__ADS_1


"Tidak Derek. Dia laki-laki.......Anak kita laki-laki." Amy mengucap kata-katanya dengan yakin. Derek mendengus sambil berdiri melangkah menuju pintu.


"Percaya instingku ,Sweety. Dia seorang putri....." Uvapnya sebelum berlalu dari kamar itu menuju dapur.


**********


( 7 bulan kemudian )


Dokter wanita yang dulu membantu Amy bersalin tersenyum sambil memutar alat Usg di perut Amy yang membesar.


"Selamat Nyonya. Kondisinya sangat baik....." Ujarnya sambil terus menggerakkan alat tersebut di perut Amy.


"Dia perempuan kan?" Pertanyaan yang diajukan tiba-tiba dari Derek itu membuat sang dokter jadi tampak agak gelisah. Ia tidak menjawab dan memandang Amy...


"Kurasa dia laki-laki kan...? Dia teman bermain sempurna untuk Erland." Amy tersenyum memberi semangat pada dokter itu agar tidak ragu memberitahu jenis kelamin anak mereka.


"Kau benar, Nyonya. Anakmu laki-laki lagi...." Dokter itu berucap tanpa memandang Derek. Tidak melihat senyum lebar yang terkembang di wajah lelaki itu.


"Ah.....Satu lagi sekutuku untuk mengerjai uncle Mike, uncle Lucius dan uncle Alex." Derek terkekeh hingga sang dokter memandangnya.


"Anda bahagia mendengar kabar ini, Sir?" tanya sang dokter.


"Tentu saja,Dok. Putra-putra ku akan meramaikan mansion keluarga Langton." Ucap Derek bangga.


Amy tersenyum bahagia. Ia memang ingin mempunyai anak lelaki lagi. Sang dokter terlihat tersenyum lalu menghentikan pemeriksaannya.


Setelah selesai periksa, pasangan itu berpamitan pada dokter dan meninggalkan ruangan itu. Derek memeluk bahu istrinya, mengikuti pelan langkah Amy di lorong rumah sakit.


"Siapa nama jagoan kita kali ini, Sweety?" Derek menoleh dan bertanya pada Amy yang tersenyum. Sesuai perjanjian awal mereka, anak laki-laki merupakan hak Amy untuk memberinya nama. Amy berpaling memandang Derek


"Itu rahasia, Derek." Ucapnya tersenyum.....


**********


*VoteπŸ†, like πŸ‘,comentπŸ’¬ , Love πŸ’–, star ⭐⭐⭐⭐⭐,sincerely yours all my readers.


*thank you.....


*Wholeheartedly πŸ’–πŸ’–πŸ’– From me

__ADS_1


---- DIANAZ ----


__ADS_2