
Amy berdiam diri di toilet. Memandangi alat test kehamilan dalam genggamannya. Sudah hampir dua bulan ia dan Derek menikah, dan sekarang jadwal bulanannya terlambat. Amy ingin memastikannya sendiri dengan alat tes kehamilan sebelum memberitahu Derek dan memeriksakan kebenarannya ke dokter kandungan.
Dengan penuh antisipasi ia menunggu hasil dari urine yang ia tes. Berdoa semoga keterlambatan siklus bulanannya memang dikarenakan ia hamil.
Senyum Amy merekah melihat hasil yang tertera di bilah tes kehamilan. Positif ... penuh rasa syukur ia berdoa semoga alat itu benar dan ia akan segera memberitahu Derek agar mereka bisa segera memeriksakannya ke dokter. Rasa bahagia membuat Amy mengelus perutnya yang masih datar.
"Welcome, Honey ...." bisik Amy pelan.
Bergegas Amy keluar dari toilet. Mencari ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Derek sangat sibuk beberapa minggu belakangan ini. Ada beberapa urusan bisnis mendesak yang harus ia urus dengan beberapa relasi bisnis. Beberapa malam bahkan ia pulang sangat larut ke mansion dan terlihat sangat lelah.
Amy berharap kabar ini menjadi berita menggembirakan bagi Derek. Sebuah kejutan untuk suaminya. Seorang bayi ....
Nada sibuk menyahuti panggilan Amy. Beberapa kali ia mencola ulang menelepon kembali. Namun masih saja nada sibuk yang terdengar di seberang sana.
Mungkin aku bisa menghubungi Mike. Amy menekan tombol panggilan dengan kontak Mike yang tertera di layar. Namun ponsel Mike tidak bisa dihubungi. Ia menarik napas panjang, hanya bisa menunggu Derek pulang, baru menyampaikan berita gembira ini.
Ketika malam mulai menjelang dan Derek belum juga pulang, Amy kembali mencoba menghubungi Ponsel Derek. Namun ponsel suaminya itu tidak aktif. Dengan mengernyit Amy mencoba menghubungi nomor Mike yang di sambut oleh lelaki itu di panggilan kedua.
"Halo Mike ... maaf mengganggumu. Apakah Derek bersamamu?"
"Ya ... ada apa Amy?"
"Ponsel Derek tidak aktif, karena itu aku menghubungimu. Apakah Derek akan pulang malam ini?"
"Ponselnya mati, kurasa batrenya habis ... mungkin kami masih akan lama berada di sini, tak kusangka pertemuan bisnis ini akan berlangsung lama. Dia sedikit mabuk ... Tuan Osaka tak berhenti mengajak kami minum."
"Katakan padaku kalian di mana?"
"Hotel Farleigh ...."
"Oh, baiklah." Amy mematikan ponsel. Tersenyum memikirkan sebuah ide.
Kurasa dia akan senang jika aku menjemputnya kan? Aku tidak akan mengganggu, hanya akan membawanya pulang setelah semua urusan bisnisnya selesai.
Dengan tidak sabar Amy menemui sopir dan memintanya mengantarkan ke hotel Farleigh.
Amy memasuki lobi hotel Farleigh dan mencoba menghubungi Mike kembali.
__ADS_1
"Halo Mike ...."
"Ah ... Amy? Astaga ... ya Tuhan ...."
"Ada apa, Mike? Di mana Derek?"
"Aku mulai merasa melayang, dan lelaki brengs*k itu bahkan masih terlihat biasa saja ...."
"Mike? Siapa yang kau maksud?"
"Oh ... tidak, itu ... Tuan Osaka. Hmmmm ... tadi kau mencari Derek? Dia limbung ...." Mike terkekeh. Amy merasa Mike bicara seperti orang mabuk.
"Apa maksudmu dia limbung? Mike!?"
"Oh ... dia sudah tidak sanggup minum lagi. Kurasa ia tadi menyebutkan kamar president suit di 687A ... kurasa ia mencari kamar untuk ...."
Nada suara ponsel yang dimatikan kemudian membuat Mike memandangi ponselnya. Ia menggelengkan kepala.
Sebaiknya Derek pulang dan menemui istrinya. Wanita itu sudah dua kali menghubungiku.
Amy mengetuk lagi.
"Tunggu sebentar!" teriakan wanita dari balik pintu membuat Amy membeku. Suara itu ....
"Siapa ...." rasa terkejut membuat Eve yang membuka pintu dan hanya mengintip lewat celah kecil seketika terdiam. Tidak sempat bereaksi ketika Amy mendorong pintu dengan kencang menyebabkan ia terdorong dan pintu terbuka lebar. Memperlihatkan Derek yang terbaring tanpa pakaian di atas ranjang. Tertutup selimut hingga pinggangnya. Lelaki itu memejamkan mata, tidak sadar terhadap situasi mencekam yang terjadi di sekitarnya.
Amy berbalik, melihat Eve yang hanya mengenakan Lingerie tipis berwarna hitam. Sangat sexy, sangat sensual, sangat cantik, sangat jauh dari dirinya yang seperti anak kecil. Airmata terbit di bola mata Amy.
Oh tidak ... aku tidak akan menangis di depan wanita ini.
Amy menegakkan kepalanya. Berjalan cepat meninggalkan kamar dan mulai berlari ketika mencapai lorong hotel. Air matanya berhamburan tanpa bisa ditahan lagi.
"Amy!" Eve seakan tersadar dari keterkejutannya setelah melihat Amy berbalik dan berlari meninggalkan kamar. Ia berteriak, mengejar dan tersadar ketika seorang pria yang kebetulan berada di lorong tiba-tiba menarik tangannya.
"Halo cantik ... mau menemaniku!?"
Eve tersadar ia hanya memakai baju dalam yang tipis dengan tali kecil yang bahkan setengah melorot ke bahu.Tampak sangat sexy dan menggoda.
__ADS_1
"Dalam mimpimu brengs*k!" Eve memelintir tangan lelaki itu yang menyentuhnya. Lalu menendang punggung pria itu hingga ia menabrak tembok. Dengan napas memburu ia melihat Amy yang sudah tidak kelihatan di lorong hotel.
"Astaga ... ia pasti salah paham. Kenapa kau mesti muntah sebanyak itu Derek bodoh!"
"Dan kau pria kurang ajar! Aku tak bisa mengejarnya karna kebodohanmu!" Eve kembali menerjang, menendang pria malang yang tengah mengernyit kesakitan di lantai .
"Kalian kaum pria ... sungguh bodoh dan menyusahkan!" Eve membayangkan seorang pria lagi yang ia kategorikan ke level itu.
"Alex sial*n!" maki Eve. Memaki satu sosok pria yang terlintas di otaknya saat ini.
Dengan terus memaki ia melangkah kembali ke kamar hotel untuk membangunkan Derek.
**********
Amy menghapus air matanya. Menghadirkan senyum meyakinkan pada sopir yang menunggu.
"Sir ... Anda pulanglah. Aku akan pulang bersama Derek. Pertemuan bisnisnya akan selesai beberapa saat lagi. Aku akan kembali naik ke lantai atas sebentar lagi ...."
Tanpa curiga dan sanggahan apapun sopirnya mengangguk. Kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan lokasi hotel. Setelahnya, Amy memesan taxi. Lalu pergi ke bandara, ia menarik uang tunai untuk membeli tiket. Tapi karena pesawat yang ia naiki hanya ada satu penerbangan lagi dan itu pun penerbangan terakhir. ia masih harus menunggu selama 2 jam.
Derek tidak meneleponnya. Derek bahkan tidak mencarinya. Amy duduk di sudut bandara dengan hati pedih.
Memangnya apalagi yang dilakukan dua orang berlainan jenis itu di kamar hotel. Mereka tidak berpakaian dengan benar ... sungutnya di dalam hati.
Amy mengelus perutnya yang masih datar.
Aku ingin memberikan kejutan untuk ayahmu, tapi rupanya ia yang memberikan kejutan pada kita, Sayang. Mommy perlu menenangkan diri ... dan kau terpaksa ikut, tak apa bukan? Maafkan Mommy, belum bisa memberitahu ayahmu tentang kehadiranmu. Untuk sementara kita pergi saja berlibur. Biarkan saja ayahmu yang bodoh itu sendirian ... atau tidak ... dia tidak akan sendirian. Wanita sensual favoritenya itu akan menemaninya. Tapi tak apa ... Mommy punya kau yang akan menemani dan jangan lupa Bibi Reggie mu. Ia akan senang mendapatkan keponakan baru. Rupanya cinta Mommy tidak cukup untuk kami berdua. Mommy pikir itu cukup ... ayahmu tidak pernah bilang ia mencintaiku, tapi dengan bodohnya aku berpikir itu tidak apa-apa, karena Mommy mencintainya, dan itu akan cukup untuk kami berdua.
Panggilan untuk naik pesawat membuat Amy bergerak. Meninggalkan tempat duduk ruang tunggu menuju jalur keberangkatan. Sebelum terus melangkah ia kembali menengok ke belakang. Namun tidak ada sosok siapa pun yang ia kenal. Hanya lalu lalang penumpang lain yang bergerak menuju tujuan mereka masing-masing.
Ia tidak menyusulmu, Bodoh! Berhentilah berharap!
Amy memaki dirinya sendiri. Melangkah pergi menuju pesawat yang akan membawanya pergi jauh dari Derek. Ia mematikan ponselnya dan melangkahkan kaki dengan keyakinan yang besar.
Aku tidak sendiri ... aku pergi bersama anakku, yang pasti akan mencintaiku sebesar aku mencintainya.
**********
__ADS_1