Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** Morning Sickness **


__ADS_3

Derek berlari mengejar wanita berambut coklat terurai yang berjalan di depannya. Tidak ia pedulikan makian yang dilontarkan oleh orang-orang yang tertabrak olehnya. Ia tak boleh kehilangan sosok itu.


"Amy!" Derek memanggil.


Namun wanita itu seperti tidak mendengar. Membuat Derek mempercepat larinya dan kembali memanggil.


"Amy!"


Wanita itu berhenti dan berbalik, menoleh ke arah Derek yang tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah melihat wajah wanita itu.


"Oh, Hai, Tampan. Kau memanggilku? Tapi namaku bukan Amy."


Wanita itu tersenyum menggoda. Mendekat ke arah Derek, sehingga dadanya hampir bersentuhan dengan tubuh Derek.


"Tapi untukmu, aku tidak keberatan menjadi Amy atau siapapun yang kau mau, Tampan." Ia mengedipkan matanya. Membuat Derek yang menyadari kekeliruannya segera mundur menjauhi wanita itu.


"Maaf. Aku salah orang."


Tapi wanita itu terus maju. Melangkah kembali mendekati Derek.


"Sudah kukatakan tadi, Sayang. Aku tak keberatan jadi Amymu malam ini."


Derek melangkah mundur, bau parfum wanita itu membuat perutnya merasa mual. Tangan yang bergerak memeluk tubuhnya kemudian membuat Derek menjadi kaku. Tak bisa lagi mundur menjauhi wanita itu.


"Whoaaaa ... sebaiknya lepaskan tanganmu, Manis. Kau tidak tahu apa yang bisa dia lakukan jika dia tidak menyukai seseorang."


Suara Mike yang terdengar di samping Derek membuat kedua orang itu menoleh. Mike melepaskan paksa tangan wanita itu yang mengelilingi tubuh Derek.


"Ayolah, Manis. Pergilah dari sini secepatnya."


Tatapan dingin yang tajam dari  mata abu-abu Mike membuat wanita itu bergidik. Tanpa membantah ia mundur, lalu mulai berbalik dan melangkah pergi menjauhi kedua pria itu.


"Kenapa kau lama sekali."

__ADS_1


"Aku harus membayar minuman tadi, Derek. Lagipula apa yang kau pikirkan? Kau pikir istrimu akan datang ke tempat seperti ini?"


Derek menggeleng. Sepertinya kehilangan Amy membuat matanya berhalusinasi. Merasa wanita berambut coklat tadi adalah istrinya.


"Ayo. Kita cari tempat untuk beristirahat. Kita perlu tenaga untuk memulai lagi pencarian kita besok. Mudah-mudahan ada kabar baik dari Alex malam ini," Ajak Mike.


Derek mengangguk. Menghembuskan napas berat dan mengikuti Mike menuju mobil mereka meninggalkan klab malam itu.


**********


Suara lolongan anjing di kejauhan membuat Amy terbangun. Ia menguap, lalu meraba bantal yang ada di sampingnya. Mencari sesosok tubuh yang biasa tidur di sebelahnya. Tangannya yang  meraba tempat kosong membuat Amy membuka mata, Menyadari ia tidur sendirian.


Amy duduk di tempat tidur. Melihat sekelilingnya dan menyadari seutuhnya ia bukan berada di kamarnya bersama Derek. Perlahan ia bergeser ke pinggir tempat tidur, menurunkan kedua kakinya ke lantai yang dingin. Lalu berdiri dan mulai berjalan ke arah jendela kamar. Amy membuka jendela. Kegelapan di luar sana menyambut pandangan matanya. Angin berhembus dingin membelai wajahnya.


Menerawang ia melihat di kejauhan, memikirkan Derek yang entah sedang melakukan apa saat ini.


"Baru sebentar dan aku sudah sangat merindukanmu, Derek. Apa yang harus aku lakukan?"


Amy berbisik pada angin malam yang berhembus masuk ke dalam kamar, lalu tangannya secara naluriah mengelus perutnya yang masih datar.


Pertanyaannya disambut desau angin, membuat Amy bergidik dan memutuskan menutup kembali jendela kamar.


**********


Pagi yang cerah dengan kicau burung membuat Amy segera bangun dan bergegas ingin menikmati udara perkebunan yang segar. Ia melangkah ke kamar mandi, mencuci wajah dan menggosok gigi. Dengan terburu-buru menarik syal dan melilitkan ke lehernya.


"Kau mau kemana?" Pablo menegur Amy yang sepertinya sudah siap untuk keluar.


"Aku mau Jalan-jalan sebentar, Pablo."


Pablo mengangguk dan mengikuti langkah Amy.


"Aku akan ikut denganmu."

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri pinggiran tanaman teh. Menghirup udara segar dan saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka selama tidak bertemu. Dua orang anak kecil melewati mereka, berhenti berjalan dan menatap tertarik ke arah Amy. Salah satu anak  mulai menarik celana panjang Pablo, meminta perhatiannya.


"Pablo ... Pablo," panggilnya.


Pablo mengernyit. Menunduk memandang bocah 6 tahun yang memegang kakinya.


"Ada apa , Tommy?"


"Apakah dia pacarmu?" tanya bocah itu polos. Amy yang mendengar pertanyaan itu terkikik. Pablo mengelus rambut jabrik di kepala bocah itu.


"Dia agak mengerikan untuk dijadikan pacar, Tom. Walaupun aku mengakui dia cantik seperti peri."


Amy mencubit pinggang temannya itu. Memberi senyum pada dua bocah yang menghadang mereka.


"Aku akan segera menjadikannya pacarku bila aku jadi kau, Pablo," ujar bocah itu lagi.


"Oh, aku sungguh tidak berminat, Tom. Suaminya akan menggorok leherku jika aku melakukannya."


Dua pasang mata dari bocah itu melotot mendengar jawaban Pablo. Amy masih tersenyum ketika Pablo mengajaknya meninggalkan dua bocah yang masih membelalak terpana melihat wajahnya.


"Aku rasa dia seorang putri," ucap Tommy pada temannya, yang disambut anggukan setuju oleh temannya itu.


Puas berjalan-jalan, Pablo mengajak Amy pulang, karena iapun akan berangkat untuk bekerja. Mereka berjalan kembali pulang ke arah rumah. Amy membuka pintu dan aroma masakan menguar dari arah dapur. Amy menutup mulutnya, rasa mual berputar di perut dan mengancam akan keluar.


"Ada apa? Kenapa kau jadi pucat?" Pablo memandang perubahan wajah Amy.


Amy tidak menjawab. Ia segera berlari keluar dan mulai memuntahkan isi perutnya. Pablo mengikuti Amy, lalu memanggil neneknya ketika melihat Amy mulai muntah.


"Grandma! Grandma !"


Tergopoh-gopoh nenek  Pablo mendatangi mereka, "Ada apa Pablo? Kenapa kau berteriak?"


Lalu mata neneknya melihat Amy yang tengah menunduk dan memuntahkan isi perutnya. Ia mendekat, menggosok punggung wanita itu. Nenek Pablo menebak kondisi Amy. Sepertinya  Amy lupa menceritakan sesuatu yang sangat penting padanya.

__ADS_1


**********


__ADS_2