
"Oh tidak, Nona. Upsss, aku salah ... maaf, maksudku Nyonya. Aku tidak dapat menampungmu di sini. Aku mempertaruhkan kepalaku bila melakukannya. Tuan besar Langton akan memotong kepalaku ... krakkkk!"
Pablo menirukan gerakan memotong di lehernya.
"Aku hanya pekerja. Pengawas perkebunan teh ini. Jadi tolonglah aku, jangan bersembunyi dari suamimu di sini. Kau bisa membuatku mendapatkan hukuman mati." Pablo memelas, menirukan gaya terdakwa hukuman mati yang menderita.
Amy tertawa melihat teman masa kecilnya bersama Reggie. Mereka biasa bermain bersama, berlarian di antara jalan setapak perkebunan, mengejar kupu-kupu, menangkap capung dan menghabiskan waktu bermain di alam terbuka. Mamma nya suka berada di sini. karena itu mereka biasa tinggal di rumah besar di atas bukit. Rumah putih tempat orang tuanya tinggal jika berada di perkebunan ini.
"Oh ayolah Pablo, hanya sementara. Sampai aku merasa tenang dan akan kembali sendiri ke rumahku."
"Tidak. Jika kau ingin menenangkan dirimu, maka tinggallah di rumah di atas bukit. Tempat orang tuamu."
"Mereka akan menemukanku jika mereka mencari kesana. Jadi biarkan aku tinggal di sini. Bersama nenekmu, dan kau harus merahasiakannya." Amy tersenyum manis. Pablo tidak pernah menolak semua permintaannya dan Reggie. Lelaki itu hanya setahun lebih tua darinya dan beberapa tahun di bawah Reggie. Selalu menuruti kata-kata mereka ketika masih kecil bermain bersama.
"Tetap tidak Nyonya Langton." Pablo mengangkat dagunya keras kepala.
Amy melipat tangannya di depan dada. Mengangkat dagu dan membalas tatapan Pablo. Keduanya saling menatap keras kepala sampai sebuah suara menyela di antara mereka.
"Tentu saja ia bisa tinggal di sini Pablo. Kapanpun ia menginginkannya."
Suara tenang dan merdu itu membuat senyum terkembang di bibir Amy. Ia berlari memeluk seorang wanita tua yang datang dari arah belakang rumah.
"Grand Nanny! Ya Tuhan ... aku sangat merindukanmu!" Amy memeluk erat tubuh tua pengasuhnya yang menjaganya ketika ia tinggal di rumah di atas bukit.
"Aku juga sayangku. Kau semakin cantik." Perempuan tua itu mengelus punggung Amy yang mulai terasa bergerak naik turun tak beraturan.
"Kumohon, Sayang. Jangan ditahan seperti itu. Menangislah ... keluarkan suaramu."
Suara sesenggukan pilu terdengar sampai ke telinga Pablo setelah kata-kata neneknya pada Amy selesai. Pablo mengernyit. ada apa sebenarnya ... apa yang terjadi ?
Lewat pandangan matanya wanita tua itu menyuruh cucunya keluar. Pablo mengendikkan bahu, menatap sekilas pada nyonya baru yang menangis itu lalu meninggalkan rumah kecil mereka menuju perkebunan.
"Duduklah, Sayang." Nanny membimbing Amy menuju kursi.
"Mau bercerita padaku kenapa kau lari dari suami mu?"
Amy menggeleng, hanya suara tangisnya yang sudah mulai mereda yang menjawab pertanyaan Nanny.
"Baiklah ... tak apa. Aku akan berada di sini bersamamu. Kau bepergian sendirian?"
Amy mengangguk.
"Hanya tas kecil itu yang kau bawa? Tidak ada pakaian?"
Amy menggeleng.
__ADS_1
Nanny menarik napas panjang. "Tak apa jika kau masih berat untuk bercerita. Tenangkan dirimu. Kami dengan senang hati akan menerimamu dan menjagamu."
"Terima kasih Grand Nanny."
"Sama-sama, Sayangku. Aku sangat gembira dapat melihat mu lagi."
**********
Brakkkkkk!
Suara pintu terbanting keras mendahului langkah Derek yang masuk ke ruangan kantornya. Tatapan tajamnya menyapu tiga orang yang telah berada di dalam kantor.
"Bagus ... kalian sudah ada di sini. Katakan padaku bagaimana perkembangannya."
Eve yang duduk di sudut sofa menjawab pertanyaan Derek.
"Ada info tentang penarikan uang tunai terakhir dari pemakaian kartu istrimu.Terjadi di bandara saat ia lari malam itu. Ia menarik sejumlah uang dan menggunakannya untuk membeli tiket penerbangan."
Derek menyipit memandang Eve yang terlihat lelah.
"Kau mengecek tujuan penerbangannya?"
"Ya. Sebuah kota kecil di dekat perkebunan teh terbesar milik Arthur Sky."
Derek memandang dua pria yang berdiri di hadapannya.
Mike menarik napas panjang.
"Maaf Derek. Aku tidak ikut kali ini." Dengan suara berat Mike memandang atasannya itu. Wajahnya terlihat kusut, seperti tidak tidur semalaman.
"Jangan katakan kalau kau masih pengar karena minum banyak, Mike! Istriku di luar sana tanpa pendamping! Ia sendirian!"
"Regina juga pergi, Derek. Aku menemukan pesannya pagi ini." Mike mengulurkan secarik kertas yang segera di sambut Derek dan dibacanya, segera kertas itu remuk menjadi bola di tangan Derek.
"Apa mungkin mereka pergi bersama?"
Derek melihat Mike menggeleng.
"Ia meminta kita menjaga Amy. Menitipkan Amy pada kita, menjaganya karena ia akan pergi meninggalkannya. Kurasa ia takkan berbohong seperti itu jika ia pergi bersama Amy." Mike mendesah frustasi.
"Tak ada informasi apapun. Ia tidak meninggalkan jejak." Lanjut Mike lagi.
"Kurasa tidak ada salahnya kita melihat ke perkebunan itu, Mike. Mereka tidak terpisahkan dan sementara itu suruh orang-orang kita terus mencari informasi."
Mike menarik napas panjang. Ia sudah melihat keanehan pada gadis itu. Tidur malamnya tidak pernah lepas dari mimpi buruk, sesuatu mengganggunya, bahkan di dalam tidur. Ketakutan terdalam Regina. Namun Mike tak dapat memaksanya berterus terang dan sekarang gadis itu memilih lari. Tepat saat istri Derek juga melarikan diri. Kebetulan sekali ....
__ADS_1
"Kurasa kau ikut bertanggung jawab atas kejadian ini, Ivy! " Alex memandang tajam pada Eve yang terlihat lelah dan pucat.
"Aku mencari informasi semalaman, Alex! Belum tidur sekejap pun! Para lelaki ini mabuk berat dan tidak dapat bangun hingga pagi. Syukurlah akhirnya mereka waras juga."
"Apa yang kau lakukan hingga Amy salah paham terhadapmu? Kau menggoda Derek di hadapannya!?" Alex memandang Eve dengan wajah datar. Melihat emosi mulai membayang di wajah pucat Eve.
"Oh ... tanyakan pada dua lelaki bodoh yang mabuk lalu salah satunya memuntahkan isi perutnya ke seluruh pakaiannya bahkan pakaianku! Lalu tangan kanan kesayangannya itu malah menyuruhku mengurusnya di kamar hotel. Melepaskan pakaian menjijikkan penuh muntahan di seluruh tubuhnya itu!"
"Jangan menyalahkanku! Mana aku tahu kalau Amy akan datang dan mengetuk pintu kamar! Bahkan melihat suaminya yang setengah telanjang di atas ranjang!"
Eve berteriak dengan napas memburu ke arah Alex. Tidak ... bukan karena itu saja, ada sesuatu yang lain yang mengganggu Eve. Alex memutuskan akan mencari tahu setelah pertemuan ini selesai.
"Lebih baik cepat berangkat dan melihat kesana, Derek. Kuharap benar Amy ada di sana dan baik-baik saja."
Derek mengangguk. Mike segera mengambil ponsel, menelepon orang-orang mereka agar menyiapkan segalanya.
"Dan kau Ivy ... Kau sebaiknya istirahat. Kau akan jatuh sebentar lagi. Ayo ikut denganku." Alex mengulurkan tangannya. Yang segera disambut Eve, lalu mengikuti langkah Alex yang keluar dari ruangan itu. Mereka terdiam di dalam Lift yang membawa mereka turun.
Alex membawa Eve menuju mobilnya, mereka masuk dan duduk dalam keheningan.
"Katakan padaku," ujar Alex tegas.
Eve menolehkan kepalanya, bersandar di sandaran tempat duduk. Terlihat sangat tertekan.
"Kenapa kau selalu tahu jika ada yang salah denganku."
"Jawab saja pertanyaanku Ivy," perintah Alex lembut.
Mendengar ucapan lembut itu, Eve mulai menangis. Alex sangat bingung, wanita yang selalu terlihat kuat dan tegar itu menangis. Dengan kaku Alex mencoba menenangkannya dengan memeluknya. Eve balas memeluk dan menangis lebih kuat di dada Alex.
Alex menunggu, membiarkan Eve puas menangis, lalu mulai bicara saat tangisan Eve mereda.
"Sekarang katakan padaku apa yang membebanimu, Evangeline."
Eve menunduk, merogoh dan mencari di dalam tas kecil yang dibawanya. Lalu mengeluarkan benda kecil dan mengulurkannya pada Alex.
"Apa ...." Alex mengernyit. Mencoba melihat dan mengerti apa arti benda di tangannya. Lalu wajahnya menggelap, rasa tak percaya membayang di wajahnya.
"Ivy ... kau hamil!? Katakan padaku siapa lelaki itu!" serunya dengan suara menggelegar.
**********
From Author
Hai pembaca, sampai chapter ini mudah-mudahan suka ya.
__ADS_1
Ada yang tahu itu hasil test kehamilan siapa? 😁😁😁😁😂😂😂
Btw mohon dukungan yah, agar kisah selanjutnya antara Mike dan Reggie di novel author berjudul Love Seduction bisa lolos review dari admin manga, sudah Author Upload beberapa chapter, tapi sepertinya belom lolos review 😌😌😌 doa'in lolos ya.