
---- Isabella Langton ----
Derek terlihat berjalan bolak-balik di ruangan besar tempat anggota keluarga Langton berkumpul. Arthur putra keduanya tengah sibuk dengan mainan-mainan yang bertebaran di lantai, bocah itu merakit sebuah gedung bertingkat dengan kumpulan lego aneka warna.
Di sofa panjang di hadapan Arthur kecil yang sedang bermain, Mike membentangkan koran di hadapannya lebar-lebar. Membaca sekaligus menutup pemandangan Derek yang terus mondar-mandir gelisah. Di sebelah Mike, duduk Erland putra sulung Derek yang memandang heran ayahnya yang tidak berhenti bergerak dan mengernyit.
"Uncle Mike," ucap Erland pelan.
"Yes ... My Knight." Mike menjawab Erland tanpa mengangkat matanya dari koran di hadapannya.
"Apa yang salah dengan Daddy?"
"Maksudmu?"
"Lihatlah dia ... dia sangat gelisah. Kurasa jika langkah kakinya dihitung, ia sudah berjalan berpuluh-puluh kilometer." Ucapan Erland membuat Mike menyunggingkan senyum tipis.
"Mommy mu akan segera melahirkan, Erland. Adikmu akan lahir ... itu alasan Daddy mu jadi seperti itu."
"Tapi bukankah Daddy sudah pernah melaluinya. Lihat kami Uncle Mike, kami lahir dan jadi besar ... nanti adik juga akan lahir dan besar. Jadi Daddy harusnya tidak perlu khawatir."
Mike mengerutkan kening. Putra sulung Derek ini sangat kritis dan pengamat yang jeli. Ia sangat suka menganalisa sesuatu, seorang yang tegas, cerdas dan bakat pemimpinnya sudah mulai terlihat. Mike yakin Erland akan jadi penerus yang handal seperti ayah dan kakeknya Erland Langton.
"Tetap saja, My Knight ... seorang ayah akan merasa khawatir setiap menjelang kelahiran anaknya, karena itu menyangkut nyawa ibu dan bayi yang ia lahirkan."
Erland terlihat mengangguk dan puas mendengar penjelasan Mike.
Suara langkah kaki tergesa memasuki ruangan besar itu. Alex datang membawa dokter Barkley bersama dokter wanita yang dulunya membantu Amy melahirkan di rumah sakit.
Mike menurunkan koran yang ia baca. Mengangguk ke arah Alex yang tersenyum geli melihatnya.
"Apakah dia mengoceh?" tanya Alex.
Mike menggeleng. "Tidak. Tapi menurut Erland, dia sudah berjalan berpuluh-puluh kilometer."
Alex terkekeh dan memandang ke arah Derek yang sepertinya tidak sadar menjadi bahan pembicaraan mereka.
Suara langkah kaki menuruni tangga membuat semua orang mendongak. Eve mengulurkan tangan menyambut dokter Barkley dan rekannya. Eve membimbing keduanya ke atas. Menaiki tangga lebar mansion ke lantai dua.
Derek terlihat melangkah mendekati Eve di pokok tangga.
"Eve," panggilnya pelan.
Eve menoleh ke bawah dan memberikan senyumnya pada Derek.
"Jangan khawatir," ucap Eve menenangkan.
"Bolehkah aku mendampinginya?" pinta Derek.
"Oh No! No! No!" Eve segera kabur dan menggiring kedua dokter itu masuk ke kamar tempat Amy akan melahirkan.
Karena tidak ingin Derek tahu ia akan melahirkan dan membuat heboh dengan segera membawanya ke rumah sakit. Amy memutuskan menunda memberitahu bahwa ia sudah merasakan kontraksi. Ia hanya menelpon Eve yang segera datang dan mereka menunggu sampai jarak sakitnya semakin dekat. Tapi Amy terlambat, ketika berniat memberitahu Derek, ia sudah merasakan tanda-tanda bayinya akan keluar.
Eve menelepon dokter Barkley dan dokter itu menyarankan agar Amy tetap di sana dan mereka yang akan datang membantunya.
__ADS_1
Menit demi menit berlalu dan Derek masih mondar-mandir. Arthur kecil nampak mulai mengantuk dan Mike mengambil inisiatif menggendong bocah itu, Ia memeluknya sambil menggendong sampai bocah itu tertidur.
"Kemarikan dia Mike ... aku akan menidurkannya ke atas." Alex tiba-tiba mengulurkan tangannya. Mike tersenyum miring dan menggeleng.
"Tidak perlu, Alex. Kau baru saja tiba dari menjemput dokter. Aku akan melakukannya sendiri." Mike terkekeh melihat ekspresi horor Alex ketika menyadari akan ditinggal bersama Erland. Ia menaiki tangga menuju lantai tempat kamar anak berada.
"Uncle Alex." Erland memanggil.
"Ya, Erland." Alex menoleh ke arah bocah yang tengah menepuk - nepuk sofa di sampingnya, menyuruh Alex duduk di sebelahnya.
"Sebelum pergi menjemput para dokter, *U*ncle tadi datang bersama Aunty bukan?" tanya Erland.
"Ya ... ada apa?" Alex menoleh menatap mata biru yang balik menatapnya.
"Apakah Aunty dari tempatmu?"
"Kenapa bertanya, Erland? Apa yang aneh?"
"Aunty Eve memakai kausmu ... pakaian Aunty tidak ada yang seperti itu." Mata cerdas Erland memandang Alex, menunggu jawaban.
Alex tiba-tiba menggosok keningnya, terdiam lama dan mencari jawaban untuk mengelak.
"Ummmm ... dari mana kau tahu itu kausku?"
" Uncle Alex pernah memakainya. Aku mengingatnya ... Jadi, Aku benarkan? Kaus yang dipakai Aunty punyamu."
Alex masih menggosok keningnya ketika suara Mike yang rupanya sudah kembali terdengar menjawab pertanyaan Erland.
"Kau benar My Knight ... itu punya Paman Alex ...."
"Karena tadi bibi Eve bilang begitu. Ia terpaksa meminjamnya karena bajunya tertumpah minuman." Jawaban Mike membuat Erland diam dan mengangguk. Bocah itu memandang ke arah Derek yang melangkah keluar menuju taman samping mansion. Erland bangkit dan melangkah menyusul ayahnya.
"Kau bingung dengan pertanyaan seorang bocah, Alex. Jangan katakan padaku kau bingung karena tidak tahu cara menjelaskan bagaimana baju itu bisa sampai pada Eve." Mike terkekeh geli.
Rona merah melintasi wajah Alex. Tapi laki-laki itu cepat-cepat menunduk menyembunyikan wajahnya dari Mike.
"Jangan bilang padaku kalau Eve menumpahkan minumannya dan harus meminjam bajumu, itu alasan untuk anak kecil." Mike terbahak ketika merasakan Alex menginjak keras kakinya.
"Lagipula kenapa ia ada di apartemenmu? Ia mendapatkan baju itu dari lemari kamarmu kan." Mike sengaja mengoceh ketika melihat Alex kehabisan kata membalasnya.
"Jangan katakan kalau Eve 'menyerangmu' Alex." Intonasi Mike pada kata menyerang membuat Alex mendongak.
"Kau cerewet sekali hari ini, Big Brother ...."
Tawa Mike yang meledak dan tak bisa berhenti membuat Alex berdiri dan mencekal tubuh laki-laki itu. Berpura-pura ingin menjatuhkannya ke lantai. Dua laki-laki bertubuh besar itu bergelut sambil tertawa kencang.
Eve melihat keduanya dari lantai atas dan segera berteriak.
"Apa yang kalian lakukan! Panggil Derek kemari!" Teriakannya membuat dua pria itu berhenti dan segera melaksanakan perintahnya.
Derek masuk kembali ke dalam mansion karena mendengar suara Mike dan Alex yang memanggilnya. Tangannya menggandeng tangan Erland.
"Eve menyuruhmu masuk." Mike tersenyum dan tahu bahwa bayinya sudah lahir. Tangis bayi di lantai atas menandakan hal itu.
__ADS_1
Derek menggandeng Erland menaiki tangga dan menuju kamar Amy. Keduanya membuka pintu dan disambut pemandangan Amy yang tengah menggendong seorang bayi mungil dalam pelukannya. Eve dan Reggie berdiri di sisi kiri kanannya. Ia mengulurkan bayi dalam buntalan selimut itu pada Derek.
"Putrimu," ucap Amy tersenyum. Derek menerima buntalan selimut berisi putrinya dan menatap wajah mungil nan cantik dengan bibir kecil berwarna merah.
Ia mencium kening bayinya dan memeluknya di dada.
"Welcome My princes ... My Belle ...."
Erland yang ikut mendengar ucapan ayahnya tersenyum.
"Belle ... itukah namanya, Dad?" Erland berjinjit untuk mengintip wajah adiknya. Derek menurunkan bayi mungil itu agar Erland dapat melihatnya.
"Benar, Erland ... Isabella Langton ... Belle mungil kita." Derek melirik Amy yang terlihat terharu mendengar nama putrinya, Derek menamai putrinya dari nama asli ibu Amy sebelum diadopsi oleh keluarga Langton.
"Itu nama yang indah untuknya." Reggie menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Setelah meremas tangan Amy lembut, ia keluar bersama Eve meninggalkan keluarga itu mengagumi putri kecil mereka yang mulai menangis.
"Kenapa Belle menangis, Dad?" Erland mengernyit mendengar suara adiknya. Derek terkekeh.
"Mungkin karena ia tahu kakak pertamanya belum menggendongnya, Erland." Erland tampak membelalak mendengar kata-kata ayahnya. Amy tersenyum dan mengulurkan tangan pada Erland.
"Kemarilah, Erland ...." Amy menarik putranya ikut duduk di ranjang. Derek memberikan celah antara dirinya dan Amy, sehingga putranya bisa duduk di antara mereka.
Setelah Erland duduk, Derek mengulurkan buntalan selimut berisi Isabella pada Erland. Bocah itu menyambutnya dengan percaya diri. Ia mengendong adiknya dan tersenyum bahagia karena Belle telah berhenti menangis.
"Aku benar bukan ... Ia berhenti menangis sekarang." Derek memeluk Erland dari belakang punggungnya. Ia berbagi senyum dengan Amy yang bersandar pada bantal yang disusun tinggi di belakang punggungnya.
"Dimana Arthur?" Amy bertanya karena tidak melihat putra keduanya.
"Ia tertidur, Mom ... Uncle Mike menidurkannya di kamarnya." Erland menjawab pertanyaan Amy tanpa mengangkat wajahnya dari memandangi wajah adiknya yang sangat kecil.
"Apakah aku terlihat seperti ini ketika baru lahir, Dad?"
"Ya ... tapi tangismu lebih kencang." Derek tertawa melihat Erland yang membelalak.
Kembali Derek merentangkan tangannya dan memeluk keluarganya. Rasa bahagia bernyanyi di hati Derek. Memeluk keluarganya di kamar ini dan mengingat keluarganya di luar ruangan yang pasti tengah berkumpul dan ikut bersukacita atas kelahiran putri pertamanya.
"Aku mencintai kalian ...." Derek berbisik, namun terdengar jelas oleh Erland dan Amy.
"Kami juga mencintaimu, Dad...." Jawaban berbarengan dari istri dan putra sulungnya itu membuat Derek tersenyum puas. Sungguh berkat dalam hidupnya tidak terkira banyaknya. Dan Derek tiada henti mensyukuri kebahagiaan yang hadir dalam kehidupannya itu.
**********
Hallo para pembaca semua.
Ini Extra part terakhir dari kisah Amy dan Derek. Jadi mereka punya 2 putra dan 1 putri serta hidup berbahagia di Mansion Utama Langton beserta keluarga besarnya, para paman dan bibi 😘😘😘
Selanjutnya thor akan update kisah Mike dan Reggie di Love Seduction. Ikuti juga ya, siapa tahu jadi suka😉😉😉
Author mohon maaf jika ada yang salah atau kurang memuaskan pembaca semuanya, Thor akan terus belajar dan mudah-mudahan akan ada karya-karya selanjutnya. Doain sehat selalu ya🙏🙏🙏
Terimakasih sekali lagi semuanya dan sampai jumpa di karya author yang lain ya. So.....follow terus author dengan cara buka frofil author kemudian klik tulisan ikuti di halaman itu ya😉😉🙏🙏
Semoga kita semua sehat selalu dan bisa selalu berkarya. Aamiin
__ADS_1
Salam, DIANAZ.