
"Dia ada di sini?" Amy tersenyum cerah mendengar kabar dari Pablo.
"Ya. Dia mencarimu dan aku berbohong padanya kalau aku tidak pernah melihat kau datang kemari."
"Bagaimana penampilannya?"
"Oh, jika kau ingin mengatakan kalau suamimu tampan, maka aku mengakui dia memang tampan, Nyonya!" ucap Pablo mengejek. Amy tertawa.
"Bukan itu, Pablo. Aku ingin tahu apakah dia terlihat khawatir, terlihat kusut atau bahkan sedikit sedih?"
"Dia terlihat tidak sabar! Kurasa sedikit marah!"
Amy menaikkan alisnya. "Mengapa dia marah? Aku yang seharusnya marah!"
"Aku tidak tahu apa masalah antara kalian berdua. Tapi kau sudah memberikan masalah besar untukku dengan bersembunyi di sini."
Amy tersenyum maklum. Ia mengerti kekhawatiran teman sekaligus pegawainya itu.
"Tidak akan terjadi apa-apa padamu, Pablo," ucap Amy meyakinkan. Mencoba menghapus kekhawatiran Pablo
"Hahhhh ... entahlah, tapi aku tetap merasa kalau tubuhku ini akan menjadi sasaran peluru, dari atas sampai ke bawah!" Pablo menarik napas panjang .
"Kau tahu, dua pria bertubuh besar itu akan dengan mudah menguliti dan meremukkan tulang-tulang ku ketika mereka menyadari aku telah berbohong pada mereka," ucapnya lagi.
Amy terkikik , kejahilannya muncul melihat ekspresi tertekan Pablo.
"Kau benar. Mike selalu senang bermain dengan bilah pisau yang sangat tajam, mengiris dan menguliti musuhnya tanpa ampun, tanpa berkedip," ucap Amy dramatis.
Pablo merasa tubuhnya tiba-tiba terasa dingin mendengar kata-kata Amy.
"Mike? Siapa Mike?" tanyanya.
"Dia tangan kanan suamiku. Orang yang kau temui yang datang bersamanya. Pria bertubuh besar dengan mata berwarna abu-abu yang terkesan dingin."
Pria yang memanggilku Nak. Batin Pablo.
"Suamimu terlihat khawatir, Nyonya. Dia mencarimu sendiri sampai kemari. Kurasa dia sangat peduli padamu."
Amy hanya diam mendengar kata-kata Pablo. Terbayang kembali peristiwa di hotel. Hatinya menolak mempercayai penglihatannya. Namun ia butuh waktu menyiapkan dirinya, jika nanti hal itu memang benar dan Derek memang tidak mencintainya. Maka dengan kesiapan hati ia akan mampu pergi bersama bayi yang tumbuh di perutnya. Derek tidak perlu tahu. Jangan menjadikan alasan bayi ini agar mereka tetap bersama. Amy ingin Derek bersama dengannya karena mencintai dirinya. Bukan hanya karena ia mengandung anak Derek.
"Kau keras kepala. Lagipula kemana si rambut hitam? Bukankah ia pengawalmu? kenapa ia tidak ada bersamamu?" Pablo memancing jawaban Amy. Dari pertemuannya dengan suami Amy dan Mike, Ia mengetahui kalau Reggie juga kabur.
"Dia aman di apartemen Mike. Dia terlihat gelisah akhir-akhir ini. Aku khawatir karena ia tidak mau menceritakan masalahnya padaku. Aku mengizinkan ia tinggal dengan Mike sampai ia tenang dan mau berbagi pikirannya lagi denganku."
__ADS_1
Dan kini iapun kabur. Kalian memang merepotkan.
Pablo menyimpan pikirannya. Amy tidak perlu tahu Reggie juga kabur. Beban Nyonya muda itu tak perlu ditambah. Pablo berharap Reggie mampu menjaga dirinya sendiri.
"Jadi dia tidak tahu kalau kau kabur?"
Amy menggeleng untuk menjawab pertanyaan Pablo.
"Hanya menunggu waktu mereka akan segera mengetahui keberadaan mu, Nyonya. Jadi gunakanlah waktumu untuk menenangkan diri sebaik-baiknya. Aku akan menunggu hukumanku sendiri." Pablo membentuk jari telunjuk dan jempolnya seperti sebuah pistol, lalu mendekatkan ke pelipisnya sendiri.
"Dorr!" seru Pablo.
Amy tertawa geli. Laki-laki ini selalu bisa membuatnya tertawa. Sejak kecil selalu percaya pada kata-katanya dan Reggie. Sehingga sangat mudah bagi mereka untuk menjahilinya.
"Kurasa sebelum kau di 'Dorrr!', Kau akan disiksa dulu dengan pisau tajam. Seperti katamu tadi Pablo ... dikuliti."
Pablo menatap Amy. Hening. Tubuhnya yang tiba-tiba kaku membuat tawa Amy berderai.
"Ya Tuhan ... kau dan Reggie selalu senang menjahiliku. Kau puas sekarang ya."
Amy menghapus air mata di sudut matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa. Masih terkikik ketika berkata. "Maafkan aku, Pablo. Tapi wajahmu membuatku sangat geli."
"Aku bukan badut, Nyonya," sungut Pablo. Tapi senyum menghiasi wajahnya kemudian.
Amy tersenyum. "Aku sangat ingin melihat suamiku, Pablo. Bagaimana jika kita pergi ke kota malam ini?"
Amy menerawang mengingat sosok suaminya. Baru sebentar pergi dan hatinya merasa merana. Ya, ia sangat merindukan Derek.
"Oh tidak ... jangan minta aku untuk mengantarkanmu, Nyonya." Pablo menggeleng berulangkali mendengar permintaan Amy barusan.
**********
"Jangan minum lagi, Derek. Berhenti." Mike memindahkan gelas dari jangkauan Derek. Mereka ada di sebuah klab malam. Kebisingan sekitarnya membantu mereka meredakan rasa frustasi yang menggayuti pikiran keduanya.
Mereka sudah berkeliling, mencari di setiap penginapan di kota kecil itu. Bahkan datang ke kantor polisi setempat, memberikan foto Amy dan Reggie, bertanya pada siapapun yang mungkin pernah melihat keduanya dalam beberapa hari ini.
"Dia tidak membawa apapun. Hanya tas kecil dan pakaian di tubuhnya."
Derek berkata pelan. Menyandarkan keningnya di meja bar, memejamkan mata.
"Dia pasti berpikir yang bukan-bukan, memangnya apa yang kulakukan pada Eve? Bocah itu sudah seperti adikku."
"Dia cemburu, Derek. Eve selalu terlihat sexi."
__ADS_1
"Fufthhhhhn ... sexi apanya! Aku malah selalu teringat tubuh kecil kurus penuh goresan karena garukan saat melihat Eve."
"Yah ... kau bersamanya sejak kecil. Jadi itulah yang kau ingat ketika melihat dia saat ini."
"Bukan sekedar bersama, Mike. Aku mengurusnya sejak kecil. Aku bahkan yang mengganti celananya ketika ia mengompol di tengah malam! Hufttthhh ... Mana mungkin aku jatuh cinta pada wanita yang sudah kuanggap adikku."
"Tapi Amy tidak tahu itu."
"Adakah yang menghubungimu? Info terbaru dari Alex atau Eve?"
Mike menggeleng. Derek menarik napas frustasi.
"Orang-orang kita juga tengah mencarinya, Derek. Kita tunggu sebentar lagi, aku yakin akan ada informasi kemana dia pergi."
"Aku harap begitu, Mike. Semakin lama dia diluar sana semakin berbahaya untuknya."
"Ya ... kuharap benar Regina bersamanya saat ini." Mike mengangkat gelas, kembali menyesap minuman .
"Kau melarangku minum lagi. Tapi kau masih minum! Berikan gelasku!" Derek menggertak Mike.
"Kau butuh pikiran yang jernih, Derek. Aku tidak mau kau memuntahi aku seperti yang terjadi pada Eve." Mike terkekeh.
Derek ikut tertawa mendengar ucapan Mike. Ia membalikkan tubuhnya. Bersandar di meja bar, memandang para pengunjung lain yang juga tengah menikmati minuman dan yang menari di aula kecil klub itu.
Pikiran Derek mengembara pada istri mungilnya yang melarikan diri. Di mana dia saat ini? Apa yang dia lakukan? Apakah dia sudah makan? Amankah Amy saat ini? Berbagai pertanyaan berkelebat di pikirannya yang berkabut, baru beberapa saat mereka tidak bertemu, tapi Derek sudah sangat merindukan istri mungilnya itu. Sampai matanya menangkap kibasan rambut panjang berwarna coklat, dengan kulit putih dan tubuh mungil yang berjalan menjauh diantara para pengunjung bar. Derek menyipitkan mata di ruangan yang agak temaram itu, sosok itu menyerupai Amy.
Ia bergerak, setengah berlari mengejar wanita yang tadi ia lihat. Mike yang bingung melihat Derek yang tiba-tiba pergi ikut mengejar. Namun suara bartender menghentikan langkahnya.
"Sir! Maaf, tapi Anda belum membayar minumannya."
Mike segera mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. Meletakkannya di atas meja bar.
"Ambil kembaliannya." Lalu segera berlalu secepat kilat mengejar Derek, meninggalkan senyum lebar di wajar bartender karena mendapat tip yang luar biasa besar.
**********
From Author
Jangan lupa like ,komen, fav , and rating bintang 5 yah pembaca. Thank uuu😘😘😘
Tunggu chapter selanjutnya ya. Author berusaha untuk selalu update.💪💪
Terima Kasih.
__ADS_1
Salam, DIANAZ.