
Derek memandang ke arah istrinya di ruang tunggu rumah sakit. Wanita itu menolak untuk bicara dengannya. Menampilkan wajah cemberut dan bermusuhan. Ia kehabisan kata-kata untuk membujuk.
Derek mendekat, berusaha mencoba sekali lagi bicara pada Amy. Ia ingin sekali memeluk dan mencium istrinya itu sampai kehabisan napas. Tapi saat ini ia memilih mengalah, Amy akan semakin merajuk dan Derek tidak ingin istrinya itu kabur lagi. Masalah yang harus dijernihkan antara mereka saja belum diselesaikan. Derek tidak mau kehilangan jejak istrinya sekali lagi.
"Jangan coba-coba bicara padaku!" ujar Amy galak.
"Baik ... aku tidak akan bicara. Tapi aku mohon jangan terus berdiri di sini, duduklah bersamaku di sana. Kakimu pasti lelah." Derek mencoba membujuk. Amy hanya berdiri dan berjalan mondar-mandir, menunggu kabar dari dokter yang membawa Pablo masuk untuk diobati. Mereka semua di larang masuk dan hanya diperbolehkan menunggu di luar.
Amy memandang suaminya, melirik ke arah kursi tunggu yang tadi ditunjuk Derek. Kakinya sebenarnya sangat lelah. Dengan cemberut ia melangkah ke arah kursi tanpa mempedulikan Derek. Derek menyunggingkan senyum, setidaknya ia menurut, pikir Derek senang.
Amy duduk di kursi tunggu, Derek berdiri di dekatnya, menyandarkan tubuhnya ke dinding dan kembali matanya menatap kearah Amy. Menatap puncak kepala mungil itu dari atas membuat Derek ingin mengecup rambut yang pasti beraroma wangi segar, melihat bulu mata lentik istrinya yang bergerak setiap ia mengedip. Lalu bibir yang sekarang selalu cemberut bila berhadapan dengannya.
Derek mengerang, berhari-hari menahan rindu dan merasa cemas terhadap wanita mungil ini, dan sekarang harus bersabar dan menjaga agar tangannya tidak menyentuhnya. Situasi ini menyiksanya.
Suara pintu terbuka membuat Amy segera berdiri. Ia setengah berlari menemui seorang dokter yang keluar dari ruangan tempat Pablo diperiksa.
"bagaimana keadaannya?" tanya Amy tergesa.
"Apakah anda keluarganya?" tanya dokter itu. Amy segera mengangguk. Derek diam saja dan ikut menunggu penjelasan dari dokter itu.
"Dia sudah sadar. Kami akan segera memindahkannya ke ruangan perawatan. Harap anda mengikuti." Dokter itu mempersilakan Amy masuk.
Di ruangan itu Pablo telah dipindahkan ke atas kereta yang akan membawanya ke kamar perawatan. Pria itu memejamkan mata, neberapa jahitan terlihat di bibirnya yang robek. Bibir itu membengkak. Matanya mulai memperlihatkan perubahan warna. Amy yakin sekali, mata itu besok akan kelihatan berwarna ungu dan membengkak.
"Oh Tuhan, Pablo ... maafkan aku." Amy berbisik mengikuti perawat yang mendorong kereta Pablo untuk pindah ke ruang perawatan. Derek mendengar bisikan itu, ia mengernyitkan kening. Amy terlihat sangat khawatir. Apakah ia sudah sangat keterlaluan?
Sampai di ruangan perawatan Derek tidak ikut masuk.Ia menunggu di luar. Hanya mengintip dari kaca yang ada di pintu ruangan. Melihat ketika Pablo dipindahkan dan para perawat mengatur cairan infus di tiang yang tersedia. Amy berdiri di sisi tempat tidur.Melihat tanpa berkedip ke mata Pablo yang masih terpejam.
Langkah seseorang yang datang membuat Derek menoleh. Mike mendatanginya dan ikut berdiri di luar pintu, ikut mengintip situasi di dalam kamar perawatan.
"Ayo duduk , Derek. Sepertinya kita agak sedikit keterlaluan." Mike mengajak Derek duduk di kursi panjang di depan kamar.
"Bocah-bocah itu berkata kalau Amy datang ke perkebunan ini dan menginap di rumah nenek Pablo. Nenek Pablo adalah orang yang pernah mengasuhnya. Kurasa istrimu yang meminta mereka menyembunyikan keberadaannya. Karena itu dia berbohong saat pertama kali bertemu dengan kita."
__ADS_1
Derek mendengarkan dan menarik nafas panjang. "Ya. Tapi seharusnya ia mengatakannya pada kita saat itu. Kita tidak akan menghabiskan waktu selama ini mencarinya," ujar Derek.
"Dimana dua bocah itu? Evan dan Tom?" Derek tiba-tiba teringat pada dua bocah yang ia tinggalkan begitu saja di restoran.
"Oh ....aku telah menyerahkannya pada ibu mereka," ucap Mike.
Suara langkah kaki yang tergopoh-gopoh memasuki lorong kamar membuat kedua pria itu menoleh. seorang wanita tua datang menghampiri mereka. kecemasan melumuri wajahnya. Derek langsung berdiri menyambutnya dan memegang kedua tangan wanita itu.
"Apakah kau Nenek Pablo?" tanya Derek. Wanita tua itu mengangguk.
"Di mana cucuku?"
Derek menuntunnya ke kamar, membuka pintu dan ikut masuk bersama. Amy menoleh....lalu berlari memeluk nenek Pablo.
"Maafkan aku, Grand Nanny. Aku tidak sempat menghentikan mereka."
"Sayang, ceritakan padaku. Ada apa sebenarnya?" Nenek Pablo mengernyit memandang cucunya yang terbaring di tempat tidur.
Penjelasan dari pria tampan yang terlihat berantakan di hadapannya itu membuat Nenek Pablo menebak kalau pria itu adalah suami Amy. Akhirnya pria itu muncul.
"Kau suami Amy?" Tanyanya lembut.
"Ya ,Nek. Dan aku benar-benar ingin menjelaskannya padamu. Kuharap kita bisa bicara di luar. Hingga suara kita tidak akan mengganggu Pablo. "
Nenek Pablo mengangguk. Meninggalkan Amy yang sudah kembali berdiri di samping tempat tidur. Keluar dari kamar yang segera di ikuti oleh Derek. Melihat kedatangan kedua orang itu Mike menggeser duduknya. Sehingga mereka bertiga muat duduk di kursi itu.
Derek menceritakan pertemuannya pertama kali dengan Pablo. Kebohongan pria itu tentang ketidaktahuannya mengenai keberadaan Amy. Lalu cerita singkat ketika ia menghubungkan cerita Evan dan Tom saat di mall. Ia mengejar Pablo dan Amy yang hari itu berada di mall. Lalu kemarahannya ketika melihat Pablo yang melarikan diri ketika melihatnya.
"Yah.....Kurasa Cucuku sudah tahu akan mengalami ini ketika kami ketahuan menyembunyikan Amy." Nenek Pablo tersenyum teduh.
"Aku harap cideranya tidak serius. Ia bisa sembuh seperti sedia kala bukan?" Tanyanya pada kedua pria itu.
"Aku memastikan ia akan mendapatkan perawatan terbaik ,Nek. Bila perlu aku akan membawanya ke tempatku bila rumah sakit ini kesulitan merawatnya" Derek menjawab kekhawatiran nenek Pablo.
__ADS_1
Senyuman menghiasi wajah wanita tua itu. "Tapi sungguh,.....Kami tidak menyesal telah melakukannya, Tuan Langton. Aku senang Amy memilih melarikan diri kemari sehingga kami dapat menjaganya. Aku tak dapat membayangkan jika ia sendirian di luar sana dalam kondisinya sekarang ini."
"Kondisinya? Ada apa? Apakah istriku sedang sakit,Nek?" Derek terlihat cemas setelah mendengar kata-kata wanita tua itu.
Ah, Aku kelepasan. Berita kehamilan ini harus Amy sendiri yang menyampaikan pada suaminya . Batin Nenek Pablo.
"Bukan sakit Tuan Langton. Tapi dalam keadaan sedih, kecewa dan bingung. Aku senang ia memilih kabur ke tempat kami." Nenek Pablo berusaha menjelaskan.
"Kau benar........Dan jangan panggil aku Tuan, panggil aku Derek, Nek.....Tidak bisa kubayangkan jika ia sendirian di luar sana. Tanpa seorangpun yang tahu keberadaannya dan tidak ada yang menjaganya....."' Derek coba membayangkan situasi itu dan mensyukuri pilihan istrinya untuk melarikan diri ke tempat ini.
"Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi sehingga dia melarikan diri. Tapi dengan pergi ke rumah kami, setidaknya aku dan Pablo bisa menjaganya."
Derek mendesah mendengar penuturan Nenek Pablo. Rasa sesal menggayuti perasaannya.
"Aku minta maaf ,Nek.Aku sungguh merasa menyesal."
Wanita tua itu kembali tersenyum, Lalu mengangguk bijak. "Aku harap kalian bisa menyelesaikannya setelah ini, apapun masalahnya pasti ada jalan keluar bukan?" Tambahnya lagi.
"Ah......Seharusnya kalian juga mengajak Reggie. Amy dan Pablo pasti senang sekali dapat kembali berkumpul bertiga, seperti dulu saat mereka masih kecil."
Derek langsung diam dan menunduk mendengar ucapan nenek Pablo. Sedangkan Mike memalingkan wajahnya yang agak pucat mendengar nama Reggie disebut dan kembali menyadari masalah rumit mereka sepenuhnya belum selesai. Masih ada satu orang lagi yang kabur dan belum ditemukan. Regina.
**********
Hallooooooo semuaaa......
Sekedar info, Author sekarang tengah menyeduh kopi buat teman menulis. Biar bisa update tiap hari.( Gak ada yang nanya kok....iyakan ya?...heheheh)
Jadi please jangan lupa komentar, like, fav, rating bintang5nya yah,,,,,benar-benar jadi vitamin buat author.
Thank youuuuuuuu
Salam, DIANAZ
__ADS_1