
"Kau bilang akan memulangkan aku!"
Amy menjerit ke arah Lucius, merasa jengkel karna sampai saat ini dia belum juga dipulangkan oleh pria itu.
"Aku hanya bilang akan memberi kabar pada mereka, dan Mike sudah memastikan bahwa ia akan menjemputmu kembali. Dijemput mungilku ... mereka yang akan menjemput, bukan aku yang mengantar."
Dengan santai Lucius menjawab teriakan Amy tanpa mengangkat wajahnya dari laporan yang ia pegang. Amy melangkah bolak balik di hadapan meja Lucius ... merasa ruang kantor Lucius yang besar itu sangat sempit dan membuat sesak.
"Lalu kenapa dia belum menjemputku! Kau sudah menghubunginya lagi kan! Biarkan aku bicara dengannya!"
Kejengkelan Amy bertambah melihat Lucius hanya mengendikkan bahu. Hentakan kakinya bertambah kencang di atas lantai, sengaja membuat Lucius terganggu. Namun, tak ada reaksi dari pria itu, menganggap gangguan Amy tidak ada dan tetap fokus pada laporannya.
"Oh ... kau pria menjengkelkan! Aku akan pulang sendiri saja!" Amy menghentakkan kakinya, berjalan menuju pintu keluar. Lucius tetap fokus pada kertas di hadapannya. Tidak mengangkat wajah sedikitpun.
Sambutan dua pengawal di luar pintu kantor membuat Amy semakin jengkel. Menyadari ia tak dapat pergi kemanapun. Senyum manisnya segera terkembang. Dengan malu- malu ia berkata pada dua pria itu.
"Aku ingin sekali minum jus apel segar, bisakah kau membantuku?"
Sebuah anggukan atas pertanyaan Amy.
Pengawal itu berlalu menemui wanita di meja resepsionis. Wanita itu mengangkat telepon dan bicara pada seseorang, kemudian kembali mengangguk pada pengawal tadi.
Amy menghela nafas panjang.
"Keinginan Anda akan datang sebentar lagi, Nona. Silakan Anda menunggu di dalam." dengan sopan pengawal tadi kembali berdiri di tempatnya semula.
"Oh, aku lupa, tambahkan dua potatochips ukuran besar, satu sandwich dengan keju dan daging, lalu jus apelku tanpa gula ... oke." Amy tersenyum sumringah pada pengawal yang tetap saja memandangnya tanpa ekspresi.
Ia kembali masuk ke ruangan Lucius, "Ke mana ekspresi lelaki itu? Memangnya aku bicara pada tembok!"
Gerutuan gadis itu sampai ke telinga Lucius. Ia mengangkat lembar laporan menutupi wajahnya yang tersenyum. Tingkah gadis itu membuatnya sangat geli.
"Seharusnya kau bisa menanyakan pada Mike kapan ia menjemputku, dan bagaimana dengan Derek? Kau bilang ia memulihkan diri, kau bilang lukanya tidak parah, tapi mengapa sampai saat ini belum ada yang datang menjemputku!"
Lucius tetap diam, lembar laporan di hadapannya menutup ke seluruh wajah hingga Amy tidak melihat senyum lebar yang terkembang di bibirnya karena mendengar omelan Amy.
"Aku sungguh bosan ...." Amy mendesah, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan mata. Tiba- tiba musik lembut mengalun di ruangan itu, pelan dan membuai mata Amy.
__ADS_1
"Ganti saja musiknya! Kau malah membuatku mengantuk!" bentak Amy tanpa membuka mata.
Lucius menurunkan laporannya. Menyipit memandang gadis yang bersandar di sofa. Kenapa ia selalu membiarkan saja gadis itu berteriak bahkan memerintahnya, memangnya siapa dia?
"Jangan memerintahku, Mungil! Selama Derek belum menjemputmu, maka posisimu adalah menumpang di sini."
Lucius menunggu sanggahan Amy. Tapi gadis itu hanya memejamkan mata seperti tak mendengar apa yang ia katakan.
Suara sekretarisnya menyela, mengatakan pesanan Amy sudah datang. Lucius menaikkan alis. Pesanan?
Mendengar pesanannya datang Amy tegak berdiri, tersenyum menyambut satu cup besar jus apel dan kantong makanan berisi dua potatochips ukuran paling besar dan roti sandwich.
Tanpa melirik ke arah Lucius ia kembali ke sofa , sibuk membuka kantong dan menghirup jus, Ia makan dengan lahap sampai rotinya habis dan kembali menghirup jus.
Amy lanjut dengan bungkusan potatochips. Namun, berulang kali mencoba membuka bungkusnya selalu gagal, bahkan ia sudah mencoba dengan menggigitnya, tapi tidak juga terbuka. Ia memandang Lucius.
"Kau punya gunting?"
Lucius yang sedari tadi memandang Amy terkejut dengan pertanyaan itu, ia hanya menatap dengan wajah mengernyit.
Amy berdiri sambil membawa bungkus potatochipsnya menuju meja sekretaris di luar. Dengan senyum manis ia meminta bantuan wanita itu.
"Maaf ... bisakah aku meminjam guntingmu? Aku ingin membuka snack ini. Amy menunjukkan bungkus makanan di tangannya."
Sekretaris itu tersenyum dan mengangguk. Memberikan sebuah gunting pada gadis itu dan berdiri menunggu Amy selesai dan mengembalikan guntingnya.
Tapi Amy berlalu dengan gunting di tangannya. Bukannya membuka snack lalu segera mengembalikan gunting. Ia kembali melangkah masuk ke ruangan Lucius dengan sebuah gunting di tangan.
"Tunggu ... Nona!"
Teriakan panik sekretaris itu tidak ia gubris.
Nanti saja dikembalikan. Aku masih punya 2 bungkus snack yang perlu dibuka , pikir Amy.
Amy membuka snack dengan menggunting bagian atas bungkusnya. Tanpa menyadari Lucius yang terlihat agak pucat ketika mendapati gadis itu kembali masuk dengan membawa sebuah gunting.
Mendekat ke arah lucius ia menyodorkan snack, "Kau mau? Ini enak."
__ADS_1
lucius makin pucat, dan mulai merasa mual.
"Pergilah ... aku tidak makan makanan sampah!"
"Ini enak, Bodoh!"
Amy meletakkan gunting di meja lucius. Mulai mengambil isi snack dan memakannya dengan lahap.
"Sungguh kau tidak mau? ... Eh, kau kenapa?"
Amy memandang Lucius yang pucat, lalu mengikuti arah matanya ke gunting yang ia letakkan di atas meja.
"Tolong singkirkan benda itu."
pemahaman terbit di otak Amy ... Ya Tuhan ....laki laki besar ,gagah, dan terkesan arogan ini takut pada gunting?
Amy mengambil gunting, mengacungkannya di hadapan Lucius.
"Kau terganggu karena ini?"
"Bawa pergi ... sebelum aku muntah!"
Amy berlari ke arah sofa, menyimpan gunting itu ke dalam kantong snack hingga tak terlihat. Lalu kembali ke arah Lucius yang tengah menekan keningnya sambil memejamkan mata.
"Pantas saja kau membiarkan rambutmu panjang."
Lucius mendongak, memandang gadis di hadapannya yang tersenyum seolah mendapatkan jawaban dari tebakan paling sulit.
"Maksudmu?"
"Kau takut gunting! Karena itu kau membiarkan rambutmu sepanjang itu! Dan supaya tidak kehilangan kesan macho karna rambut panjangmu, kau menambahkan anting di telinga kirimu kan ...." Amy mengedipkan sebelah matanya, jarinya menunjuk ke arah anting berlian di telinga kiri Lucius.
Nada geli dan kedipan mata gadis itu membuat tawa Lucius menggema, awalnya pelan, lalu makin lama makin kencang, seolah olah merasa sangat lucu ... dan ia memang sangat terhibur.
Beberapa hari mengasuh gadis Derek ini sungguh membuat hidupnya penuh warna. Seperti dulu ... saat seorang gadis mungil berambut hitam yang sering sekali menangis, masih mewarnai hari-hari kelam bersamanya di masa lalu.
**********
__ADS_1