Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** Restless **


__ADS_3

"Aku harus pulang, Derek. Kita bisa mencari mereka di tempat berbeda. Mungkin akan lebih baik dan lebih besar peluangnya. Ada beberapa tempat yang pernah di ceritakan Reggie tentang masa lalu yang pernah ia habiskan dengan Amy di sana."


Derek menarik napas panjang. Membenarkan ucapan Mike.


"Kau benar. Apa sebaiknya aku ikut pulang? Tidak terlihat bagus hasilnya di sini."


"Itu terserah padamu." Mike menyerahkan keputusan di tangan Derek.


Mereka pun bersiap-siap, mengumpulkan perlengkapan yang mereka bawa dan memasukkannya ke dalam mobil. Beberapa hari di perkebunan, menanyai setiap pengawas dan pekerja yang mungkin mengenal Amy dan bergerilya di kota kecil di sana tidak membuahkan hasil. Derek merasa sangat frustasi.


Mereka melaju di jalan raya. Meninggalkan rumah putih di atas bukit. Menuju kota kecil tempat pesawat pribadi Derek telah menunggu untuk membawanya kembali.


Sesampainya di kota kecil itu, Derek berhenti di sebuah restoran. Mengajak Mike turun dan berjalan lebih dulu ke arah pintu masuk restoran.


"Aku lapar Mike. Kita makan dulu sebelum pergi." Mike menurut tanpa banyak bicara.


Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Derek memandang keluar kaca bening restoran yang menampilkan pemandangan di luar. Kesibukan orang-orang yang berlalu lalang, kendaraan yang silih berganti terus melintas, dan di seberang sana, di pintu lebar tempat masuk sebuah pusat perbelanjaan ia memandangi orang orang yang keluar masuk.


Mata Derek tertumbuk pada dua orang bocah yang berbicara di pinggir trotoar dengan seorang wanita yang mengenakan topi lebar dan kaca mata hitam. Wanita itu tertawa, Derek tertarik melihat senyum yang tersungging di bibir itu. Wanita itu berdiri menyamping, tidak terlihat begitu jelas dan kadang tertutup oleh kendaraan yang lewat secara terus menerus. Namun sesuatu tentang gerak dan pembawaan wanita itu mengingatkan Derek pada istrinya.


Derek melihat wanita itu meninggalkan kedua bocah yang tadi berbicara dengannya. Tangannya melambai sebelum masuk ke pusat perbelanjaan dan saat itulah ia melihat dengan jelas wajah kedua bocah yang tadi bicara padanya. Itu Evan dan Tom kecil. Derek segera berdiri. Meninggalkan Mike yang memandangnya dengan bertanya.


Derek berdiri di pinggir trotoar. Melambaikan tangannya pada kedua bocah itu. Ia berteriak memanggil.


"Hei! Evan! Tom!"


Teriakannya disambut lambaian tangan bersemangat dari kedua bocah itu.

__ADS_1


"Tunggu di sana! Aku akan ke sana menjemput kalian!" seru Derek lagi.


Derek berjalan hati-hati diantara lalu lalang kendaraan yang lewat, menyeberang sampai ia berhadapan dengan kedua anak itu.


"Hei ... kebetulan kita bertemu di sini. Aku akan pulang bersama Mike. Sebagai ucapan perpisahan dariku, ayo ikut kami makan di sana. Ada menu es krim juga di sana." Derek menunjuk ke arah restoran di seberang mereka.


Senyum lebar terkembang di wajah kedua bocah itu menyambut tawaran Derek. Mereka  mengangguk cepat lalu menyambut uluran tangan Derek yang menuntun mereka menyeberang kembali ke arah restoran. Mereka masuk dan duduk berhadap-hadapan. Mike tersenyum pada dua bocah dengan pipi memerah yang dibawa Derek.


"Dengan siapa kalian kemari?" ujar Mike bertanya.


"Mom ingin membeli sesuatu. Tapi aku sangat bosan bila mengikuti Mom belanja. Dia akan berkeliling tanpa berhenti." Tommy kecil bersungut-sungut.


"Ya ... dan syukurlah akhirnya kami bertemu Pablo. Ia membawa kami berjalan-jalan dan bermain di arena bermain anak-anak di mall itu."  Evan ikut menimpali.


"Ya ... dan Tuan Putri juga ikut. Aku sangat suka bila melihatnya." Kedua anak lelaki itu terkikik bersama.


"Apakah kau sudah bilang pada Tuan Putrimu agar ia mau jadi pacarmu?"  Mike bertanya geli pada Tommy.


Tommy menggeleng. Tapi tidak menjawab Mike lebih lanjut karena melihat dua mangkuk es krim yang datang dibawa oleh pelayan restoran. Menu yang lainnya juga berdatangan. Membuat kedua bocah itu meneteskan air liur.


"Jadi kau membiarkan ibumu berbelanja sendirian, Tom?" Derek bertanya sambil lalu pada Tommy. Anak itu mengangguk dengan mulut penuh es krim vanilla.


"Wanita yang berbicara dengan kalian di trotoar tadi ibumu?" tanya Mike.


Bocah itu menggeleng. Tapi tidak menjawab karena sibuk dengan es krimnya.


"Bukan Sir! Itu bukan ibu Tom! Itu tadi Tuan Putrinya Tom." Evan menjawab sambil tertawa. Suapan yang tengah menuju mulut Derek dan Mike terhenti tiba-tiba. Tidak menyangka jika princessnya Tommy adalah seorang wanita dewasa, bukan seorang gadis kecil seperti perkiraan mereka.

__ADS_1


"Maksudmu ... Tuan putri Tommy adalah seorang gadis?" Derek menatap Evan yang menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Tapi Pablo bilang Tuan Putri sudah punya suami! " Tommy  bersungut. Derek dan Mike berpandangan. Dada Derek berdebar kencang. Ia menghentikan lengan  Tommy yang kembali akan menyuap es krim ke mulutnya.


"Princess itu sudah bersuami?"


"Ya. Aku jadi sangat kesal! Karena ia sangat cantik. Ia seperti seorang peri!"


"Katakan padaku, dimana kau bertemu Princess pertama kali Tom?"


"Kami bertemu pertama kali saat ia dan Pablo jalan-jalan pagi di kebun teh."


"Pablo ... laki-laki pengawas perkebunan? Diakah yang kau maksud, Tom?" Mike ikut menanyai Tommy. Namun bocah itu telah kembali ke es krimnya, tidak mendengarkan pertanyaan Mike, sehingga Evan kembali menjawab pertanyaan yang di tujukan pada Tom. "Benar, Sir, " jawabnya.


"Bagaimana penampilan Tuan Putrimu, Tom? Upssssss ... Kau tidak boleh makan eskrim mu sebelum menjawab ku." Derek kembali menahan suapan es krim Tommy.Tommy menjadi cemberut. Dengan enggan ia menjawab pertanyaan Derek.


"Tuan putriku sangat cantik. Rambutnya panjang berwarna kuning kecoklatan. Kulitnya putih dan pipinya kemerahan. Ia selalu tersenyum. Dia ...."


"Apa warna matanya Tom?" Derek memotong tidak sabar.


"Matanya sangat cantik, berwana biru laut yang jernih dan ramah."


Derek berdiri. Tiba tiba meninggalkan  meja dan berlari ke arah Mall. Suara klakson memekakkan telinga ketika Derek menerobos jalan yang penuh kendaraan yang berlalu lalang. Mike yang  telah keluar dari restoran berteriak dari pinggir trotoar. Tapi telinga Derek terasa tuli. Ia berlari menuju pintu Mall. Masuk dan mengedarkan pandangan.


Penampilan wanita yang digambarkan Tommy mirip dengan istrinya, dan jika benar wanita itu adalah Amy, berarti pengawas perkebunan itu telah berbohong, laki-laki itu sengaja berbohong!


**********

__ADS_1


__ADS_2