
__ Seven Months Later __
Mike dan Reggie berpandangan di depan ruang bersalin. Teriakan Derek yang memarahi staf medis yang membantu kelahiran bayinya membuat mereka merinding. Reggie berulang kali mengelus lengannya sendiri, tubuhnya terasa dingin setelah berulang kali mendengar rintihan Amy yang akan melahirkan dan teriakan makian dari Derek di dalam sana. Ia tidak berani masuk ke dalam dan menemani Amy. Untunglah Evangeline lebih bernyali dan mau mendampingi Amy.
Reggie merasa Derek tidak akan terlalu berguna untuk membantu Amy. Laki-laki itu terlihat seperti menerima pengumuman hukuman ketika tahu istrinya akan melahirkan. Ia mengernyit, menjadi pucat dan berkeringat setiap Amy merasakan sakit karena kontraksi.
Lucius mendekati Regina yang terlihat gelisah. Berulang kali gadis itu mengelus lengannya sendiri, seolah merasa dingin dan tidak nyaman.
"Hei, dia akan baik-baik saja," ucapnya menenangkan. Reggie mendongak menatap sepasang mata hitam yang menatapnya khawatir. Ia mengangguk, tersenyum kaku dan menelan ludah. Lucius mengulurkan kedua lengannya. Ia memeluk Regina yang diam tidak bergerak, namun gadis itu membiarkan dirinya dipeluk dan malah menyandarkan pipinya ke dada Lucius.
Mike memicingkan mata ke arah Lucius yang juga menatapnya sambil mengangkat kedua alis. Tapi Mike menahan makian yang sudah siap meluncur dari bibirnya, ia hanya mengetatkan geraham menatap tajam dan dingin pada Lucius.
Teriakan Amy dari dalam ruang bersalin membuat tiga orang yang menunggu itu bergidik.
"Ahhh! Hufhhh! huhhhh!" Seolah-olah Amy tengah mengatur napasnya di sela-sela rasa sakit yang jaraknya semakin dekat.
"Apa yang kalian lakukan! Dia sangat kesakitan! Apa yang harus dilakukan untuk membantunya!" kembali terdengar teriakan Derek dari dalam ruangan.
"Demi Tuhan, Derek! Aku akan membunuhmu jika kau tidak keluar dari sini!" Amy berteriak kencang.
Sesaat kemudian pintu terbuka, Derek terlihat di dorong oleh Evangeline keluar dari kamar tempat Amy bersalin.ย Evangeline berkacak pinggang dan melotot ke arah Derek.
"Mike! Kau jaga laki-laki bodoh ini! Jangan sampai ia mendobrak masuk! Dia merepotkan!" Eve kembali masuk dan mengunci pintu setelah berteriak dan mengomel.
Mike menepuk kursi di sebelahnya, mengajak Derek duduk dan menenangkan diri. Pria itu menurut. Ia duduk dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Seharusnya aku tidak menuruti keinginannya untuk melahirkan normal, seharusnya di operasi saja." Derek merutuki kelemahannya yang menuruti keinginan Amy untuk membiarkan semua proses melahirkannya terjadi alamiah.
"Sama saja Derek. Apa kau kira Amy tidak akan merasakan sakit setelah di caesar? Dia tetap akan merasakan sakit. Bahkan rasa nyeri dan luka di tubuhnya kan membuatnya lebih lama pulih." Lucius menjelaskan sambil mengetatkan pelukannya pada Reggie yang mulai gemetar karena Amy semakin sering berteriak di dalam sana.
__ADS_1
Derek mulai berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan pintu yang terkunci. "Apa yang mereka lakukan! Mereka hanya menunggu tanpa melakukan apapun!"
Semua orang yang mendengarnya tahu itu tidak benar. Proses kelahiran anak pertama memang memakan waktu lebih lama dari anak yang selanjutnya. Derek hanya gelisah dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengurangi kegugupan dan kecemasannya.
Di dalam kamar bersalin para perawat dan dokter yang membantu proses kelahiran bayi Amy menarik napas lega setelah Amy dan Eve mengusir Derek. Pria itu tidak berhenti berteriak setiap melihat istrinya merasakan sakit. Sedangkan proses kelahiran membutuhkan rasa sakit dari kontraksi yang terjadi agar bayi bisa keluar melalui jalan lahir. Rasa sakit yang semakin dekat jaraknya antara satu dan lainnya menandakan proses kelahiran akan terjadi sebentar lagi.
"Ya Tuhan, seharusnya kita mengusirnya dari tadi, Amy." Eve memegang tangan Amy yang mengernyit dan mengatur nafasnya. Wanita itu mencoba tersenyum tapi gagal ketika kontraksi kembali melandanya. Amy mencoba menahan teriakannya ketika Derek masih berada di kamar. Suaminya itu terlihat seperti kehabisan darah, ia pucat dan darah seolah surut dari wajahnya setiap Amy berteriak menahan sakit.
"Sepertinya bayimu sudah akan keluar, Amy. Aku akan memimpinmu mengedan. Atur napasmu dan berjuanglah." Dokter yang memeriksa Amy di bawah sana tersenyum menenangkan. Amy mengangguk dan merasa bersemangat. Bayinya akan hadir ke dunia sebentar lagi.
Eve menelan ludah. Ia menggenggam erat tangan Amy. Merasakan nyeri yang diderita setiap kontraksi Amy datang. Bahkan ia ikut menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan meniru yang dilakukan oleh Amy.
Setelah menit demi menit lewat yang terasa seperti sudah beberapa jam, tangis kencang seorang bayi laki-laki menghiasi ruangan itu.
"Selamat Amy. Ia sempurna." Dokter mengangkat bayi Amy, segera memotong tali pusatnya, membungkusnya dengan kain lembut dan segera meletakkannya ke dada Amy. Tawa bahagia menghiasi bibir Amy. Ia memeluk bayinya, tak menyadari air mata yang jatuh mengalir di pipinya yang putih. Evangeline terharu dan mulai berdiri dari kursi, ia mundur beberapa langkah, memandang moment indah ibu dan anak itu berinteraksi pertama kali setelah bayi nya lahir. Eve pun tidak menyadari air matanya jatuh.
Di luar pintu kamar bersalin Derek yang mendengar tangisan bayi mendekat dan berdiri di depan pintu. Kedua tangannya menempel di pintu yang tertutup. Ia mendengar tangisan pertama bayinya dengan haru. Sesaat kemudian pintu terbuka, Eve muncul dan menarik tangannya, wanita itu tersenyum dan mengajaknya masuk.
Derek masuk dan mendapati Amy yang duduk bersandar di ranjang dengan seorang bayi dalam buntalan selimut dalam pelukannya. Ia mendekati mereka dan mendapati Amy mengulurkan bayi laki-laki yang tengah meringkuk itu ke arah nya.
Derek menyambut putranya, memandangi wajah mungil kemerahan itu dengan perasaan terharu, ia melirik ke arah Amy yang tersenyum memandangnya. Sambil memeluk putranya, ia mendekati Amy, mencium pipi dan keningnya yang terlihat lelah.
"Hei, Sweety. Kau baik-baik saja?"
Amy mengangguk mendengar pertanyaan Derek. Mereka saling memandang dan tersenyum, bicara hanya lewat pandangan mata.
Suara merengek membuat Derek menunduk, memandang bayi laki-lakinya yang mulai merengek menangis.
"Kurasa dia ingin kau kembali memeluknya."
__ADS_1
Derek melihat Amy mengangguk antusias. Namun bahu Derek ditahan oleh Eve ketika akan mengulurkan bayinya pada Amy. "Kita akan merapikan Amy dan membiarkannya istirahat, Derek. Kamarikan jagoanmu dan biarkan Dokter bekerja memeriksa istrimu."
Derek mengangguk. Ia melihat mata Amy yang sayu dan terlihat lelah. Ia membiarkan Eve menggendong putranya dan membawanya pergi.
Derek menggenggam tangan Amy lalu mendekat untuk mencium keningnya.
"Apakah kau akan menepati janji membiarkan aku memilihkan nama jika bayi kita laki-laki?" Amy bertanya pada suaminya yang tersenyum mendengar pernyataannya.
"Tentu saja, Sweety. Sesuai kehendakmu." Derek bergeser ketika dokter dan perawat mulai membersihkan Amy. Ia menyingkir perlahan, namun tidak meninggalkan ruangan itu. Matanya memandang ke wajah lelah istrinya yang tetap terlihat cantik setelah melahirkan. Kedua mata biru itu sudah redup, seolah akan menutup untuk tidur dan beristirahat. Setelah selesai Derek kembali mendekati ranjang istrinya. Ia menggenggam tangan Amy, membuat wanita itu menoleh dan tersenyum ke arahnya.
"Sekarang istirahatlah. Kau terlihat sangat lelah. I love you so much, Sweetheart." Derek kembali mencium kening istrinya. Amy tersenyum dan mengangguk.
" Aku hanya menunggu kau mengatakannya, Derek. Sekarang aku bisa tidur dan beristirahat."
Derek melihat istrinya bersandar dan memejamkan mata. Namun bibir mungil itu masih sempat bergumam. "Aku juga mencintaimu, Derek."
Membuat senyum terkembang di wajah suaminya. Derek mengucapkan doanya dalam hati sambil memandang Amy .
Ayah, Arthur Sky, Bibi Margaretha ... kuharap kalian menyaksikan kami di atas sana. Putraku, cucu kalian telah lahir. Berbahagialah dan tenanglah di alam sana. Aku akan menjaga istri dan anak-anakku dengan baik. Akan mencintai dan melindunginya dengan nyawaku, akan memastikan kebahagiaan mereka seumur hidupku.
Derek tak henti tersenyum. Memandang ke wajah Amy yang mulai tertidur sambil terus menggenggam tangannya. Merasa hidupnya lengkap dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur.
---THE END ---
From Author
Episode terakhir yang author harap merupakan ending yang memuaskan para pembaca. Terus terang author gak suka sad ending๐๐๐
Sampai jumpa di episode-episode seru di Love Seduction ya. Kisah antara Mike dan Reggie. Akan author upload sebentar lagi. Tentu saja masih harus menunggu lolos dari sistem review.
__ADS_1
Terimakasih semua.
Salam, DIANAZ