Passion Of My Enemy

Passion Of My Enemy
** Evangeline **


__ADS_3

"Tidak seperti yang kau pikirkan,Sweety. Aku mencintai Eve seperti saudara, seperti adikku sendiri."


Derek menilai ekspresi wajah istrinya, Rona mulai kembali di kedua pipi itu perlahan walaupun keterkejutannya sepertinya belum sepenuhnya hilang.


"Aku hidup bersama Eve dan kakaknya ketika masih kecil. Sebelum aku dibawa dan diadopsi oleh ayahku Erland. Kami gelandangan ... Eve masih sangat kecil saat itu. Aku yang menjaganya ketika David kakak Eve pergi mencari makanan untuk kami makan."


Amy menatap kearah Derek, merasa tertarik mendengar kisah hidup suaminya sebelum dibawa oleh Erland. Ia diam, menunggu derek melanjutkan.


"Bagaimana aku tidak dekat dengannya. Aku yang menyuapinya makan, memandikannya dan bahkan mengganti popoknya ketika ia mengompol di tengah malam. David harus bekerja keras agar bisa memberi kami makanan dan menyediakan selimut untuk menghangatkan kami di musim dingin."


Amy merasa menyesal mendengar cerita suaminya, Tidak menyangka akan mendengar bentuk hubungan yang seperti ini antara Eve dan Derek.


"Mengapa kalian tidak tinggal di panti, Derek? Bukan kah akan ada yang menjaga dan memelihara kalian?"


Derek menggeleng." Kami sudah mencobanya, Namun tempat itu sudah sangat penuh, makanan yang ada harus diperebutkan dan yang kuatlah yang mendapatkannya. David memutuskan untuk pergi dari sana ketika umurnya sudah lebih dewasa. Dan aku memutuskan ikut dengannya."


"Lalu kapan saat kau meninggalkan mereka, Derek? Saat ayahmu Erland membawamu?"


Derek mengetatkan gerahamnya, Lalu menarik napas panjang sebelum mengembuskannya dengan sangat perlahan. Ia harus menceritakannya, Amy harus tahu, sehingga bisa mengerti dan memahami Derek sepenuhnya.


"Aku berusia 9 tahun saat itu. Aku bertemu dengan ayahku saat tengah mencari makanan di tong sampah. Erland datang dengan sepotong roti hangat lalu menungguku menghabiskannya. Saat itu ia tertawa, Lalu tanpa kuduga ia menawarkan agar aku ikut dengannya."


Amy menatap sendu, membayangkan Derek kecil yang harus mengais makanan untuk mengisi perutnya yang lapar. Ia selalu dipenuhi dengan kecukupan, orang tuanya selalu memastikan hal itu, namun tidak setiap anak beruntung seperti dirinya. Amy merasa sangat bersyukur.


"Kau mengikutinya?"


Derek mengangguk mendengar pertanyaan Amy.


"Aku pergi mengikuti ajakan Erland. Tanpa pamit dan memberitahu mereka ...." Derek menelan ludah, sepertinya tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Amy menunggu, hanya menatap lewat matanya, kekasih yang tengah mengeluarkan ganjalan terbesar dalam hidupnya itu. Ada nada penyesalan yang amat dalam, Amy tahu Derek perlu mengeluarkannya.

__ADS_1


"Aku pergi. Aku takut Erland berubah pikiran bila aku mengajak David dan Eve ... dan aku tak mampu pamit, karena aku tahu Eve akan merasa sangat sedih. Jadi aku meninggalkan mereka ... begitu saja." Kembali Derek menelan ludah.


Amy ingin sekali memeluk suaminya saat ini, namun ia menahannya. Derek harus mengeluarkan semuanya dulu. Kekuatan dan kemampuannya untuk mengeluarkan cerita masa lalu ini akan hilang bila Amy memperlihatkan rasa iba saat ini.


"Kapan kau kembali dan membawa Eve bersamamu, Derek?"


"8 tahun kemudian. Aku sering termenung ketika mengingat mereka. Aku ingin sekali mengatakan pada Erland keinginanku untuk mencari mereka. Namun selalu gagal. Sampai akhirnya Erland sendiri yang bertanya siapa David dan siapa Eve."


"Erland tahu? Darimana ayahmu tahu tentang mereka?" tanya Amy heran.


"Aku juga sempat bertanya-tanya. Tapi rupanya dua nama itu selalu masuk dalam mimpiku dan Erland mendengar aku beberapa kali menyebutkannya dalam tidurku. Karena ia sudah bertanya, aku menceritakan semuanya, penyesalanku karena meninggalkan David dan Eve, keinginanku untuk mencari mereka ...."


"Apa reaksi ayahmu?"


Derek tersenyum. "Aku sangat menyesal tidak mengatakan padanya lebih cepat. Ia memerintahkan orang-orangnya mencari keberadaan David dan Eve."


"Hanya dalam sehari. Aku dan Mike mendatangi David. Ia tengah dirawat di rumah sakit kecil dengan peralatan seadanya. Perawat mengatakan David seharusnya dibawa ke tempat yang lebih bagus dengan peralatan yang lebih memadai."


"Ia sakit? Kenapa?" tanya Amy sedih. Derek mengetatkan geraham menahan rasa geram mengingat kejadian itu.


"Dia di siksa dan dipukuli sampai babak belur karena tidak sanggup membayar utang. Orang-orang itu memukuli kepala dan seluruh tubuhnya. Aku memindahkannya ke rumah sakit dengan pelayanan terbaik. Namun kondisi david sudah sangat buruk, infeksi sudah menggerogoti tubuhnya."


Amy terhenyak. "Di mana Eve saat itu Derek?"


Setelah memindahkan dan memastikan David dirawat dengan baik, aku dan Mike menjemput Eve. Dia bekerja tanpa henti di sebuah Bar. Gadis itu berumur 12 tahun saat itu. Dia yang bekerja agar mendapatkan biaya untuk pengobatan David."


"Oh Tuhan ...." Amy memejamkan matanya, tidak sanggup membayangkan apa yang telah dialami Eve di umurnya yang baru menginjak remaja.


"Tentu saja saat itu dia tidak ingat padaku. Mike terpaksa menggendong dan mengikatnya agar ia mau ikut dengan kami masuk ke dalam mobil." Derek tersenyum mengenang saat itu.

__ADS_1


"Kami membawanya ke rumah sakit tempat David di rawat. Setelah ia tenang, aku mengenalkan diriku dan ia mengingatnya. Ia menangis dan memukulku berulang kali. Memarahiku karena tega meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa." Derek menahan gejolak di suaranya dengan berulangkali menelan ludah. Amy sudah tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Airmatanya mengalir tanpa mampu ia kendalikan. Turut menyesal atas nasib yang dialami Eve dan kakaknya.


"Lalu kondisi David mengalami sedikit kemajuan. Ia terbangun dari coma dan mengenaliku ketika mata kami bertemu. Dia tersenyum. Beberapa hari kemudian Alat bantu napas ke paru-parunya sudah bisa di lepas, kondisinya pun semakin hari semakin baik. Namun dokter telah menyatakan kalau ia mengalami kelumpuhan anggota gerak bagian bawah."


"Lumpuh ...." ulang Amy.


"Ya. Aku sudah mengatakan akan melakukan yang terbaik agar ia bisa kembali seperti semula. Namun David mengatakan jika ia sudah sangat lelah. Yang ia pikirkan adalah Eve, bagaimana dengan Eve jika sesuatu terjadi padanya, lalu ia mengucapkan kata-kata aneh itu."


"Aneh? Apa yang ia katakan Derek?"


"Ia mengatakan sangat bersyukur aku mengingat mereka dan akhirnya kembali. Ia sudah lelah sendirian menjaga Eve, karena Eve sangat liar dan pembangkang, ia tertawa saat mengatakan itu. Lalu ia menitipkan Eve padaku, menyuruhku menjaganya seperti dulu aku menjaganya saat dia kecil, menjaganya seperti adikku sendiri. Jangan sampai Eve mengalami kesedihan saat ia kehilangan seorang kakak. Aku mengira dia merujuk kejadian saat aku meninggalkan mereka. Tapi rupanya ...." Derek terdiam, menarik napas panjang, mengisi paru-parunya yang terasa sesak.


"Ada apa? Apa yang terjadi kemudian, Derek?"


"Dia mengakhiri dirinya sendiri dengan memotong urat nadi tangannya. Rupanya keputus asaan menderanya ketika mengetahui setengah tubuhnya tidak bisa digerakkan." Derek mengusap wajah.


"Setelah ditemukan, ia tidak lagi bisa tertolong. Jantungnya sudah berhenti."


"Ya Tuhan ...." Amy kembali terisak-isak. Ia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat dicintai. Dulu saat ia kehilangan mammanya, ada ayah yang mencintainya yang masih menjaganya, lalu setelah ayahnya tiada, Amy merasakan kehampaan luar biasa. Walaupun sekarang ia sudah merasakan kembali warna di hatinya karena keberadaan Derek. Eve yang menanjak remaja kehilangan satu-satunya orang yang mencintai, menjaga dan melindunginya dari kecil. Sungguh hati Amy pedih dan ia terisak untuk evangeline ....


*********


From Author


Jangan lupa vote, like, komentar rating bintang limanya ya pembacakuh ... trus klik juga tanda love alias favoritenya.


Thank's ... see you at the new chapter.


Salam, DIANAZ

__ADS_1


__ADS_2