
Bayangan masa lalu berputar kembali di otak Lucius. Saat rasa ingin tahu mendera hati kecilnya. Kenapa ibunya selalu turun ke gudang bawah tanah, pengawal bahkan membawa air dan sedikit roti ke sana. Seolah ada seseorang di ruang bawah tanah yang lembab itu.
Kaki kecilnya menapak di lantai ruang bawah tanah yang dingin. Melewati penjaga yang tertidur pulas. Ia mencoba membayangkan kalau ia tengah berada di sebuah permainan petak umpet.
Lucius berhenti ketika suara lirih tangisan terdengar olehnya. Sangat kecil, seolah orang yang menangis sudah tidak punya tenaga untuk bersuara.
Ia mendekat, melihat ada tiga buah ruangan kecil yang berjeruji. Di tengah ruangan ada seorang wanita yang terduduk bersandar di dinding. Di sampingnya, seorang gadis kecil yang sangat kurus memeluk wanita itu sambil menangis.
Lucius berdiri memandang gadis kecil itu. Rambut dan mata gadis kecil itu bahkan wajahnya agak mirip dengan dirinya sendiri.
Merasa ada seseorang mendekat gadis itu mendongak, ketakutan melihat Lucius yang telah berdiri di luar pintu jeruji .
"Mom ...." gadis kecil itu membangunkan ibunya.
"Mom ... bangunlah ... ada seseorang."
Wanita yang tengah memejamkan mata itu terkejut, segera menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Nanar ia menatap keluar jeruji, melewati Lucius, seolah mencari sosok mengerikan yang mendatangi mereka.
__ADS_1
"Kau siapa?" gadis kecil itu yang akhirnya bersuara.
"A ... ak ... aku Lucius ...." Lucius terbata, terkejut melihat keadaan wajah wanita itu. Setelah wanita yang dipanggil 'Mom' oleh gadis kecil tadi menghela rambutnya agar tak menutupi wajah, Lucius memandang wajah yang penuh lebam, sekujur tubuh yang penuh dengan memar membiru.
"Lucius ...." wanita itu mengulang namanya, lalu melepaskan gadis kecil dalam pelukannya dan merangkak mendekati Lucius.
"Kau Lucius ... putra Sanchez?"
Lucius mengangguk ketika wanita itu menyebut nama ayahnya. Lalu bibirnya yang lebam mencoba tersenyum, Lucius mengernyit ... pasti terasa sakit saat wanita itu mencoba menarik bibirnya untuk tersenyum.
"Lucius ... kau sangat tampan, maukah kau membantuku, Sayang?"
"Kau lihat gadis kecil itu?"
wanita itu menunjuk ke dalam ruangan. Lucius kembali mengangguk.
"Dia putriku ... dia sangat lapar, juga sangat haus. Maukah kau membantu kami? Maukan kau membawakan makanan untuk kami diam-diam?"
__ADS_1
Lucius berpandangan lama dengan mata wanita itu. Rasa iba menyergap hatinya ... dan akhirnya sebuah anggukan ia berikan, sebelum ia kembali, berlalu meninggalkan gudang sekaligus penjara bawah tanah yang dingin itu.
Hari-hari Lucius berjalan seperti biasa saat siang hari. Kegiatan yang sudah diatur oleh ibunya yang dingin, tidak ada kata menolak, atau ia akan merasakan akibatnya. Belajar dengan guru-guru yang telah di tunjuk oleh ibunya. Sampai malam menjelang, waktu yang Lucius nantikan ketika ia akan turun ke gudang bawah. Membawa sedikit makanan yang berhasil ia simpan hari itu, untuk diberikan pada wanita yang bernama Marinna dan putrinya.
Lucius juga membawakan selimut, bahkan pakaian bekas yang berhasil ia curi, Agar Marinna dan putrinya tidak merasa kedinginan di malam hari. Malam harinya pun terasa lebih menyenangkan, putri Marinna menjadi teman bermainnya, hidupnya yang terkurung di mansion tanpa boleh keluar, Jam bermain yang dibatasi dan orang-orang yang bisa ia temui ditentukan oleh ibunya. Dengan dalih ia adalah pewaris Sanchez. Harus menguasai segala sesuatunya, jangan ada kekurangan sedikit pun.
Lucius mengetahui kemudian ... bahwa setiap luka dan lebam yang diperoleh oleh Marinna adalah hasil perbuatan ibunya. Ketika ia menanyakan pada Marinna kenapa ibunya melakukan hal itu padanya, dan jawaban Marinna kemudian membuat ia bergidik.
"Jangan membuat kesalahan sekecil apapun Lucius! Turuti ibumu ... dan simpan baik- baik rahasia kita, pertemuan kita setiap malam. Kau harus berhati-hati ... jangan sampai ibumu tahu, atau kau menerima siksaan seperti yang aku rasakan."
Dua orang tawanan di penjara bawah tanah itu menjadi sumber kebahagiaan Lucius, kasih sayang Marinna dan putrinya melimpahi hatinya yang kering dan gersang. Keinginan menolong mereka membuat Lucius lupa bahwa kedua orang itu menginginkan kebebasan, mereka adalah tawanan yang tengah mengintai cara untuk membebaskan diri.
Lalu terjadilah hal mengerikan itu. Ketika ia melakukan kesalahan, ketika Marinna menyuruhnya mencuri kunci kemudian mencoba pergi melarikan diri. Namun tentu saja wanita itu tidak membawanya. Mereka meninggalkan Lucius untuk menerima hukuman dari ibunya yang marah besar.
Kegilaan ibunya terlihat jelas. Ketika memberikan hukuman pada anak kandungnya yang ketakutan. Tak peduli ketika Lucius merintih, menangis, memohon agar ibunya berhenti. Salah satu sebab kenapa ia fobia terhadap gunting, salah satu alat yang digunakan ibunya untuk menyiksanya adalah dengan menusuk bagian ujung benda itu di bagian tubuhnya. Ibunya juga mengancam akan memotong bagian tubuhnya dengan benda itu.
Penyiksaan demi penyiksaan ia terima karena dikhianati oleh Marinna dan putrinya, sampai Sanchez senior kemudian mengunjungi mansion itu, merasa perlu melihat putranya dan mengetahui kemudian apa yang terjadi di mansion itu. Lucius baru dipindahkan .. namun terlambat, trauma masa lalu itu telah melilitnya begitu dalam.
__ADS_1
*********