
Alika yang gugup, langsung menarik tangannya menjauh. Dia juga merubah posisi duduknya tidak lagi menghadap ke arah Ryan.
Wajah Alika sudah terasa panas, dia yakin saat ini pipinya sudah merah merona.
"Apa yang mau kamu tunjukkan? aku tidak paham," ucap Alika dengan suaranya yang dingin, untuk menyembunyikan rasa gugupnya dia jadi bicara dengan nada seperti itu.
Bagaimana bisa mereka memiliki debaran jantung yang sama? Alika menggeleng pelan, menepis semua rasa yang tak mungkin ada.
Tidak mungkin mereka tertarik satu sama lain. Erlan tidak mungkin menyukai dia yang buta, dan Alika harusnya sadar diri bagaimana keadaannya saat ini.
"Masa tidak paham? aku menyukai kamu Al," balas Ryan gamblang, bingung bagaimana menyusun kata yang romantis.
"Suka apa sih? jangan bicara sembarangan!"
"Tidak sembarangan, memangnya kamu tidak merasakan jantungku yang berdebar?"
"Tidak, sudahlah aku mau ke kamar."
Alika bangkit dari duduknya dengan tergesa.
"Jangan seperti ini Al, aku akan mengantar mu."
"Tidak perlu memegang ku," ketus Alika saat Ryan menyentuh lengannya.
"Kamu marah?" tanya Ryan, wajahnya nampak cemas, sungguh dia takut ditolak.
__ADS_1
Sementara Alika meraba-raba sekitar dan berjalan menuju kamarnya. Hatinya yang gugup membuat pikirannya tidak jernih, dia nyaris jatuh gara-gara menabrak sofa di ruang tengah.
"Aku masih perjaka ting ting Al, aku pekerja keras dan juga tampan, kalau tidak percaya tanya lah pada bi Santi. Tidakkah kamu berniat untuk membalas perasaan ku? sedikiiiit saja," pinta Ryan lagi, mulai membujuk, tidak, lebih tepatnya dia sedang mengemis cinta.
Alika menghentikan langkahnya karena kesal dengan ucapan Erlan tersebut.
"Jaga bicara mu Er, aku tidak suka bercanda yang seperti itu!" ketus Alika.
"Ini dimana?!!" tanya Alika lagi, jadi bingung arah.
"Tenang dulu, raba tangan mu depan," ucap Ryan.
Alika menurut, hingga dia bisa menyentuh sebuah lemari kecil di dekat pintu kamarnya, lemari setinggi pingangjya yang berisi beberapa buku dan dokumen.
"Kamu tau kan itu apa?" tanya Ryan.
"Benar."
Alika lalu mengambil sisi kanan dan di sanalah pintu kamarnya.
Namun sebelum Alika benar-benar masuk ke dalam kamar itu, Ryan lebih dulu menahan dengan memegang tangannya.
"Aku serius Al," ucap Ryan.
"Aku sedang tidak ingin bercanda Er."
__ADS_1
"Baiklah, ini memang bukan candaan, sekarang Aku bukan hanya pelayanmu, tapi juga kekasihmu," putus Ryan.
Alika mendelik, mana bisa keputusan penting seperti itu diambil dengan cara seperti ini.
Namun belum sempat Alika kembali buka suara untuk membantah, Erlan sudah lebih dulu mengelus puncak kepalanya. Membuat Alika jadi menciut.
"Masuklah," ucap Erlan seraya membuka pintu kamar itu lebar-lebar.
Alika seperti tidak punya kesempatan untuk membantah. Erlan seperti memiliki sikap dominan yang tak bisa dia lawan.
Dan bi Santi yang sudah kembali dari warung dan tanpa sengaja mendengar ucapan majikannya itu seketika tercengang.
Dia jadi terpaku di tempatnya berdiri, sementara tangan kanannya membawa satu bungkus kerupuk berukuran sedang.
Bi Santi sampai menelan ludahnya sendiri dengan kasar, Antara salah dengar atau tidak.
Alika masuk ke dalam kamar itu dan Ryan pun hendak kembali ke dapur.
Namun langkah Ryan terhenti saat melihat bi Santi.
Ryan jadi mengurungkan niatnya untuk langsung pergi ke dapur, tapi dia malah menghadap kepada di Santi.
"Apa Bibi mendengar apa yang aku ucapkan tadi?" tanya Ryan.
Bi Santi gelagapan, dia bingung mau menjawab apa. takut dikira lancang.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tidak dengar," jawab bi Santi akhirnya, dia bahkan menundukkan kepalanya kecil sebagai permohonan maaf.
"Kalau Bibi tidak dengar aku akan mengulanginya sekali lagi, sekarang Alika adalah kekasih ku."