Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 54 - Menangis Lagi


__ADS_3

"Ini Tante, pegang saja, tidak apa-apa kok," tawar Sean dengan begitu ramah.


Kedua matanya bahkan menatap dengan berbinar, mengisyaratkan bahwa saat ini dia senang sekali. Seperti baru saja mendapatkan teman main baru.


Sementara Alika begitu ragu untuk menyentuh katak itu, belum apa-apa tubuhnya sudah gemetaran.


Ya Allah, katak itu gemuk sekali. Aku takut. Batin Alika.


Dia melirik ke arah kekasihnya sekilas, meminta bantuan dari tatapannya itu. Butuh Ryan untuk mengalihkan perhatian mereka hingga Alika tidak perlu menyentuh katak tersebut.


Tapi Ryan sungguh tidak peka dengan kode yang diberikan oleh Alika, dia malah menggerakkan sedikit dagunya mempersilahkan Alika untuk menyentuh Malvin.


Iihh, mas Ryaaan. Kesal Alika, tapi hanya mampu dia ucapkan di dalam hati.


Terpaksa, Alika harus memberanikan diri untuk menyentuh katak tersebut.


Meski ragu-ragu akhirnya dia mengulurkan tangan kanannya, dan seketika itu juga Sean meletakkan Malvin di sana.


Menjadikan telapak tangan Tante Alika sebagai pijakan Malvin.


Nyes!!

__ADS_1


Deg deg! deg deg! Ya Allah, Alika begitu takut. Rasanya ingin berteriak dan melempar Malvin agar terbuang dari tangannya, tapi sadar dia tidak bisa melakukan itu.


Yang Alika tunjukkan hanyalah raut wajah tersenyum kepada Sean. Meski senyum yang kikkuk.


"Tante takut ya?" tebak Sean, dia pun segera mengambil Malvin di tangan sang Tante.


"Maaf ya Tante, aku tidak bermaksud menakut-nakuti," mohon Sean pula. Dia kira semua wanita akan seberani ibunya-Mama Ajeng, dia lupa kalau kak Rilly juga wanita dan kak Rilly tidak suka kodok.


Sepertinya Tante Alika pun demikian.


"Bu-bukan seperti itu Sean, Tante tidak takuh, hanya saja ... terkejut!" balasnya dengan buru-buru dan gagap, takut membuat Sean bersedih.


"Lain kali kita main lagi ya, anggap saja kali perkenalan Tante dengan Malvin dan katak yang lain," terang Alika lagi, sebelum Sean sempat berpikir yang macam-macam.


dia menganggukkan kepalanya dengan antusias.


Melihat itu akhirnya Alika bisa membuang nafasnya dengan lega.


Alhamdulillah, batin Alika. Sungguh, karena ini adalah kali pertama dia bertemu dengan seluruh keluarga Aditama, jadi Alika tidak ingin membuat sedikitpun kesalahan.


Sebisa mungkin dia akan membuat semua orang merasa bahagia.

__ADS_1


Termasuk Sean.


Hari itu, Alika juga makan siang di rumah ini. Selepas makan siang itu lah Alika akhirnya pamit pulang.


Pelukan yang hangat kembali Oma Putri berikan. Bahkan Oma Putri juga mencium pipi Alika kiri dan kanan.


Saat itu Alika tak bisa lagi menahan air matanya, meski dengan bibir yang tersenyum Alika menangis.


"Omaaa, kenapa membuat calon istriku menangis," rengek Ryan.


Oma Putri terkekeh dan ikut menghapus air mata itu. Dia tahu, Alika tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tidak tahu bagaimana rasanya kehangatan memiliki sebuah keluarga.


Karena itulah ketika dia peluk, Alika tak bisa menahan haru.


"Sstt sudah, jangan menangis. Oma akan segera menjadikan kamu bagian dari keluarga ini," ucap Oma Putri, kalimat yang justru makin membuat Alika menangis.


Kak Rilly dan mama Ajeng pun tersenyum, tanpa sadar mama Ajeng mengelus perutnya yang sudah membuncit.


Memohon agar anak ketiganya ini nanti perempuan dan secantik Alika.


"Aku pamit Oma," ucap Alika sekali lagi, bicara dengan suara yang terdengar sesenggukan. Setelahnya dia pun pamit pada semua orang.

__ADS_1


Ryan kira tangis sang kekasih sudah mereda, tapi ternyata di dalam mobil, Alika malah menangis lagi.


__ADS_2