Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 23 - Kamu Hebat


__ADS_3

2 hari berlalu setelah Ryan mengatakan bahwa Alika adalah kekasihnya.


Pria itu tetap konsisten untuk bersikap romantis, sementara Alika tetap pada pendiriannya yang acuh.


Semua ucapan manis Erlan hanya masuk telinga kanan dan keluar di telinga kiri, kadang dia iya iya kan saja agar Erlan berhenti membual.


"Kamu sudah siap untuk pergi?" tanya Ryan, baru saja dia selesai bersiap dan kini mendatangi Alika di dalam kamarnya.


Melihat sang kekasih yang duduk di depan cermin meja rias.


Bi Santi baru saja mengikat rambut Alika dengan rapi.


Sebuah pemandangan yang terlihat begitu indah di matanya.


Ryan tersenyum, tidak ada bosannya dia memandang Alika.


Kadang Ryan pun berpikir bahwa sekarang dia harus puas-puaskan menatap wajah kekasihnya tersebut, bisa saja nanti saat kedua mata Alika sembuh gadis itu akan marah jika terus ditatap.


Hari ini mereka akan pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan Alika, pemeriksaan kali ini untuk menentukan apakah Alika harus menjalani operasi donor mata atau tidak.


"Sudah selesai, pergilah," ucap bi Santi, dia senang sekali tiap kali selesai mendandani Alika seperti ini, merasa hasilnya sangat luar biasa.


Alika cantik sekali.

__ADS_1


Gadis itu kemudian meraba-raba meja, di ujung meja sana ada tongkat yang akan Alika gunakan.


Ryan langsung hilang senyumnya saat melihat Alika mengambil tongkat itu. Sebelumnya Alika tidak pernah bilang jika dia ingin memakai tongkat.


Ryan pikir, Alika tidak butuh tongkat itu, lagipula ada dia yang akan selalu disampingnya.


"Kenapa pakai tongkat?" tanya Ryan, suaranya seketika berubah dingin.


Alika bahkan seketika tergugu sementara bi Santi langsung jadi canggung.


Bagi Alika, Erlan seperti memiliki 2 kepribadian sekaligus. Kadang pria itu begitu hangat, dan kadang jadi sangat dingin seperti ini.


"Aku mau pakai tongkat, kamu cukup memberi ku instruksi saja," jawab Alika. Karena Erlan bicara dengan suara dingin, maka dia pun mengikuti.


Dan mendengar kedua orang ini bicara dingin dan saling tatap seperti itu, bi Santi merasa ada di tengah-tengah perang. Dia hanya mampu menelan ludah dan tidak berani bersuara.


"Aku tau kamu bisa diandalkan Er, aku tau kamu dan pak Ryan akan membantuku untuk sembuh, tapi bukan berarti aku jadi menggantungkan hidup pada kalian. Bagaimana jika ternyata mataku tidak bisa sembuh? lebih baik aku mandiri dari sekarang kan?" tanya Alika pula, bicara bertubi dengan sorot mata yang tak bisa Ryan baca.


Alika seperti memasang banyak dinding pembatas di dalam hatinya.


Hidup wanita itu selama ini seolah begitu keras, hingga Dia tak mau berharap pada orang lain.


Jika diperdebatkan, yang ada hubungan mereka akan kembali berjarak.

__ADS_1


Jadi akhirnya Ryan hanya bisa mengikuti keinginan wanita tersebut.


"Baiklah, ayo kita pergi," putus Ryan.


Alika terdiam sesaat, kemudian mulai berdiri dan mengambil langkah pertama dengan bantuan tongkatnya.


Tiba di rumah sakit, jantung Alika terasa sangat berdegup. Tiap kali dia mulai berjalan seperti ini di tempat asing, Alika seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri. Melawan gelap dan mencoba tenang.


Meski sangat sulit namun Alika selalu mencoba.


Meski ingin berteriak tidak bisa! namun Alika selalu mencoba.


"Er," panggil Alika. Tangannya yang bergetar meraba ke samping dan Ryan dengan cepat menggapainya. Hingga mereka saling menggenggam erat.


Di dahi Alika mulai nampak keringat dingin yang muncul, Ryan pun bisa merasakan jika tangan Alika begitu dingin.


Tanpa kata dan hanya naluri saja, Ryan pun bergerak cepat untuk memeluk gadis itu.


Ryan mendekapnya erat.


"Tenang lah, kamu hebat, kita sudah di rumah sakit," ucap Ryan.


Dia sadar, Alika butuh dukungan, bukan belas kasihan.

__ADS_1


__ADS_2