Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 59 - Gadis Itu


__ADS_3

Di lobby.


Diandra menatap nanar pada layar ponselnya. Dia membaca dengan teliti pesan balasan dari sang mantan kekasih.


Daddanya seperti diremat, sesak sekali. Ternyata kabar tentang pernikahan itu adalah benar adanya.


Bukan hanya simpang siur belaka.


Cinta yang selama ini dia gaung-gaungkan, seolah saat ini tidak ada artinya apa-apa.


3 tahun setelah dia mengakhiri hubungannya dengan Ryan, 3 tahun setelah dia menikah dengan orang lain, cintanya untuk pria itu tidak berkurang sedikitpun.


Tapi ternyata apa yang dia rasa tidak mendapatkan balasan yang sama.


Aku tidak bisa bertemu Di, sekarang aku sedang sibuk mengurus pernikahan ku. balas Ryan dalam pesan tersebut.


Deg!


Siapa wanita itu? batin Diandra. coba menerawang untuk menerka-nerka calon istri Ryan, tapi tetap saja dia tidak bisa menebak.


Wanita cantik itu makin merana disaat dia menyadari pesan dari Ryan terkesan begitu dingin, malah seperti langsung memberi pembatas di antara hubungan mereka.


Andai saja Ryan masih mencintai dia maka tentang pernikahan itu bukanlah alasan, pria itu harusnya melakukan segala cara untuk bisa bertemu dengannya.


Huh! Diandra membuang nafasnya perlahan, di sekitarnya ini sudah ramai dengan banyak orang, ada karyawan dan juga para tamu. Tapi Diandra merasa di sekitarnya begitu sepi, pikirannya mendadak gamang.

__ADS_1


Rasanya Dia tidak bisa pergi dari sini tanpa mengetahui apa-apa.


Karyawan resepsionis itu mengatakan bahwa saat ini Ryan sedang ada di kantornya, jadi Diandra putuskan dia akan tetap menunggu di sana sampai pria itu turun.


Ya, itulah keputusan yang Diandra ambil. Meski di dalam hatinya pun merasa takut bagaimana jika hari ini Ryan tidak hanya datang sendiri, tapi pria itu juga mengajak calon istrinya.


Tidak, aku tidak boleh ragu, justru bagus jika Ryan datang bersama calon istrinya, jadi aku bisa tahu siapa wanita itu. Batin Diandra.


Dia meyakinkan hatinya sendiri untuk tetap berada di sini.


Sementara itu di dalam ruangannya, Alika melihat dengan jelas di saat kekasihnya itu sedang bekerja.


Dia duduk di sofa dan terus memperhatikan, Ryan yang begitu fokus membaca beberapa berkas, di hadapan Ryan duduk asisten Romi.


Jika dalam keadaan seperti ini, Alika benar-benar seperti melihat Pak Ryan yang sebagai sang CEO. Wajahnya terlihat sangat serius dan dingin. Sesekali pria itu pun menatap dengan tatapannya yang tajam pada sang asisten.


Erlan memang benar-benar tampan. Batin Alika, jadi ingat pembicaraan mereka di saat dia belum bisa melihat dulu.


Masih sibuk menatap sang calon suami, tiba-tiba Ryan menatap ke arahnya dengan sorot mata yang tajam.


Deg! Alika seketika tersentak, kedua matanya mendelik dan buru-buru memalingkan wajah.


Tatapan tajam itu kini tidak membuatnya takut, malah membuatnya jadi semakin berdebar.


Karena Alika buru-buru berpaling, dia jadi tidak bisa melihat saat Ryan langsung tersenyum mengetahui gelagat calon istrinya tersebut.

__ADS_1


Ryan bahkan bukan hanya tersenyum, tapi juga terkekeh pelan.


Sedangkan asisten Romi, hanya berlagak tidak tahu apa-apa, meski sebenarnya sangat tahu jika sang Boss tengah kasmaran.


Ya Allah, batin asisten Romi. Menyebut nama Allah agar diberi ketenangan hati.


Puas melihat Alika, Ryan pun kembali pada pekerjaannya.


"Perbarui peraturan-peraturan untuk perlindungan karyawan, diskusikan pada tim bagaimana baiknya," ucap Ryan, kembali bicara dengan suara yang terdengar dingin.


"Baik Pak," jawab asisten Romi patuh.


Sekitar 3 jam Ryan berkutat dengan pekerjaannya, beberapa kepala Devisi juga datang ke ruangan ini untuk menyampaikan beberapa laporan.


Sementara Alika tetap disana dengan jantung yang berdegup. Selalu menyapa ramah tiap kali orang masuk dan hendak keluar.


Terkadang Alika merasa segan untuk berada di ruangan ini ketika pak Ryan sibuk membahas pekerjaan, tapi terkadang dia juga merasa tersentuh. Ryan selalu saja memperlakukannya dengan istimewa.


Menjelang istirahat siang barulah Ryan menyudahi semua pekerjaannya.


Dia langsung mengajak Alika untuk pulang, sekaligus makan siang di luar.


Kali ini mereka tidak hanya jalan saling berdampingan, tapi juga bergandengan tangan.


"Ya Allah, apa Alika calon istrinya pak Ryan?!!" kaget semua orang, kabar itu seketika menyebar dengan luas.

__ADS_1


Diandra yang masih setia menunggu di ruang tunggu pun akhirnya mengetahui semuanya.


"Gadis itu," gumam Diandra, dengan sorot mata yang entah.


__ADS_2