Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 45 - Tidak Punya Kesempatan Untuk Marah


__ADS_3

Melihat wajah Alika yang nampak cemas seperti itu, Ryan malah mengulum senyumnya. Seolah pria itu sedang tertawa di atas penderitaan kekasihnya sendiri.


Ryan paham, sangat paham, pasti Alika merasa tidak enak hati karena tuan muda dari keluarga Aditama harus jadi pelayannya.


Pikiran Alika yang berlebihan pasti sudah berpikir bahwa Oma Putri dan kakek Agung pasti akan memarahinya habis-habisan.


Memaki dia tidak tahu diri dan yang lainnya lagi.


Ya Allah, membayangkan itu semua Ryan rasanya jadi ingin tertawa dengan keras.


Tapi sekuat diri dia tahan hingga hanya jadi senyum yang tertahan.


Sementara Alika sudah tercengang dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.


Kedua matanya jadi menatap cemas pada jalanan yang saat ini mereka lewati.


Seperti bisa menebak takdir apa yang akan dialami di masa depan, ya itu kemarahan kedua orang tua Ryan.


Alika mengigit bibir bawahnya sendiri dengan cemas, takut yang tak bisa ditolak.

__ADS_1


Sampai akhirnya dia merasakan sebuah sentuhan lembut di puncak kepalanya, sentuhan yang membuat semua lamunannya jadi buyar dan kembali fokus pada pria yang saat ini duduk di samping.


Ya, Ryan suka sekali mengelus puncak kepala Alika seperti ini. Seperti sebuah cara yang dia gunakan untuk membuat Alika jadi tenang.


"Ibuku, ayahku, kakakku, adikku, semuanya tahu bahwa aku menyamar jadi Erlan untuk bisa merawat kamu," terang Ryan lagi, makin dia bongkar semuanya.


Dan semakin dia lihat jelas raut wajah Alika yang cemas.


"Di saat kamu operasi, aku juga menelpon mama dan meminta doa. Alhamdulillah, mungkin berkat doanya juga kamu jadi sembuh," tambah Ryan.


Alika terdiam, tapi mendengar semua cerita itu ketakutan yang dia rasakan di dalam hati seperti perlahan menghilang.


Tapi nyonya Putri dan tuan Agung pun sama baiknya.


Keluarga Aditama sudah begitu tersohor, jadi Alika bisa mengetahuinya dengan jelas semua orang dalam keluarga itu.


Selama ini dia hanya bisa melihat dari jauh, mendengar melalui kabar yang beredar. Sesekali bertemu ketika keluarga itu mengunjungi Aditama Air.


Selebihnya tidak ada lagi, karena itu lah Alika begitu cemas ketika dia harus berurusan dengan salah satu keturunan dari keluarga Aditama tersebut.

__ADS_1


"Mama juga sudah tidak sabar ingin bertemu kamu. Oh ya, dia juga tahu kalau sekarang kita berpacaran." jelas Ryan dengan begitu antusias, tidak tahu jika jantung Alika sudah berdegup tidak karuan mendengarnya.


Seolah tidak sudah-sudah Ryan terus memberinya kejutan yang begitu mencengangkan.


"A-Apa? Nyonya Putri sudah tau?"


Ryan malah tertawa pelan ketika mendengar pertanyaan Alika tersebut.


Kini dia bukan mengelus puncak kepala Alika dengan lembut, tapi mengusapnya dengan cukup kasar hingga rambut wanita cantik itu jadi sedikit berantakan.


"Jangan panggil dengan sebutan nyonya, aku jadi geli mendengarnya. lebih baik kita panggil Oma saja, karena dia sudah punya banyak cucu," terang Ryan kemudian.


Alika menelan ludahnya sendiri dengan kasar, kedua tangannya pun bergerak merapikan rambutnya kembali. Dia tidak punya kesempatan untuk marah karena terus terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Ryan.


"Sini, biar aku bantu," ucap Ryan pula, dia memegang kedua pundak Alika dan membuat wanita itu menghadap ke arahnya.


Lalu dengan gerakan pelan-pelan, dia pun merapikan rambut itu.


Tapi kedua matanya bukan melihat kepala, malah melihat ke arah bibir ...

__ADS_1


__ADS_2