Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 58 - Nyonya Ryan


__ADS_3

Ryan ingin lihat apakah Alika berani menjawab panggilan telepon yang masuk ke dalam ponselnya. Jika berani jujur saja dia akan senang, karena itu artinya Alika telah benar-benar masuk ke dalam hidupnya.


Sambil meminum segelas air putih, Ryan melirik sang kekasih, Tapi masih saja melihat Alika dengan raut wajahnya yang cemberut.


"Tidak mau ah, biar saja sampai mati sendiri," balas Alika.


Ryan nyaris tersedak mendengar jawaban itu, karena mendadak ingin tertawa keras. Tapi untunglah dia masih bisa mengendalikan diri.


Lalu hanya terkekeh pelan.


"Kenapa sih? tinggal dijawab saja," jawab Ryan, dia akhirnya berjalan mendekati Alika, hingga berdiri di hadapan gadis itu. Juga menerima uluran ponselnya.


"Takutnya itu telepon penting."


"Urusan ku sekarang juga jadi urusan kamu, kalau penting tidak masalah kamu tau, setelahnya katakan padaku," terang Ryan.


Alika terdiam, hatinya seperti ditumbuhi bunga-bunga kecil ketika mendengar ucapan tersebut. Mereka berdua sampai tidak sadar jika telepon itu sudah mati.


Di lobby. Diandra memandang ponselnya yang mati, layarnya sampai berubah hitam dan teleponnya tidak mendapatkan jawaban.


Hatinya sedikit mencelos.


"Mungkin dipikirnya ini nomor siapa, jelas dia juga tidak tahu nomor ponsel ku," gumam Diandra, itulah yang dia yakini.


Dan berdasarkan keyakinan itu, akhirnya dia putuskan untuk mengirim pesan lebih dulu.

__ADS_1


Dengan bibir yang tersenyum kecil, Diandra mulai mengetik apa yang hendak dia kirimkan kepada Ryan.


Assalamualaikum Ryan, ini aku Diandra. Bagaimana kabarmu sekarang? apa kita bisa bertemu?


Tulis Diandra.


Dia baca sekali lagi pesan itu, sebelum akhirnya benar-benar dia kirimkan.


Ting!


Pesan telah sampai di ponsel Ryan. Saat itu ponsel itu pun masih dalam genggaman pria tersebut.


Ryan langsung melihat pesan itu dan membacanya. Jelas sekali dia baca nama Diandra dalam pesan tersebut.


Tidak ada sedikitpun getaran di dalam hatinya ketika mendapatkan pesan itu, seperti mendapatkan pesan biasa dari teman lama.


"Ada pesan dari teman ku, aku balas dulu ya," ucap Ryan, pamit pada sang calon istri. Kalau tidak pamit begini, dia takut Alika nanti berpikir bahwa dia asik sendiri dengan ponselnya.


Dan dipamiti seperti itu, Alika sudah berdebar.


Entahlah, bahagia yang dia rasakan sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Alika mengangguk. Dia hendak menyingkir dari sana dan memberi waktu Ryan untuk sendiri.


Tapi baru selangkah dia berjalan, Ryan sudah lebih dulu menahan tangannya.

__ADS_1


"Disini saja," ucap Ryan. Dia memutar tubuh Alika, lalu memeluknya dari belakang.


Deg! Alika yang mendapatkan perlakuan seperti itu seketika tersentak, ingin mengelak namun urung ketika mendengar Ryan lebih dulu bicara ...


"Ini bukan teman biasa, dia mantanku," ucap Ryan.


Deg! Alika makin berdegup hatinya, degup yang sedikit membawa sesak di dadda.


"Baca lah, dia ingin bertemu dengan ku," ucap Ryan lagi. Layar ponsel itu telah sama-sama merek lihat.


Alika juga membacanya dengan jelas.


Diandra. Batin Alika.


Nama itu cukup asing di telinganya, terlebih selama ini pun dia tidak begitu peduli dengan urusan orang lain.


Ryan pun semakin memeluk Alika erat dari belakang ketika menyadari sang calon istri telah membaca pesan tersebut.


"Entah dari mana dia mendapat nomor ponsel ku, setelah ku pikir-pikir tidak usah dibalas saja ya," ucap Ryan lagi.


"Jangan! harus dibalas," jawab Alika buru-buru, bahkan terdengar menggebu hingga suaranya terdengar cukup tinggi.


"Na-nanti dia akan terus menunggu, lebih baik balas sekarang dan katakan kamu tidak bisa bertemu karena sibuk mengurus pernikahan," tambah Alika pula, bicara dengan posesif.


Melihat gelagat cemburu sang calon istri, Ryan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Baiklah nyonya Ryan," goda pria itu.


__ADS_2