Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 37 - Begitu Mirip


__ADS_3

"Ma-maaf, apakah Anda pak Ryan?" tanya Alika, dia tidak ingin menduga-duga.


Tadi yang dia lihat di ruangan ini hanya ada pak Ryan dan seorang wanita paruh baya. Seseorang yang diyakininya adalah bi Santi.


Erlan entah kemana.


Dan meski kini dia mendengar suara sang kekasih, tapi Alika tak bisa memastikannya.


Jadi bertanya secara langsung adalah pilihannya.


Dan saat Alika bertanya seperti itu, seketika jantung Ryan berdenyut nyeri. Sedih belum punya identitas yang jelas.


Bi Santi bisa memahami kekecewaan sang majikan, namun dia pun tak bisa banyak membantu.


Hanya berusaha untuk membuat Alika tenang lebih dulu. Pasalnya Bi Santi pun melihat saat Alika menatap bingung dan kembali mengeluh sakit.


"Iya Al, ini pak Ryan." Bi Santi yang menjawab.


"Kamu tadi lihat bibi kan? ini bi Santi," terang bi Santi lagi.


Kali ini Alika tersenyum kecil, terbayang jelas di benaknya wajah teduh milik bi Santi. Tadi dia juga melihat bi Santi yang tersenyum.


"Ehem!" Ryan berdehem, jadi bingung sendiri harus bagaimana. Karena bi Santi memperkenalkannya sebagai Ryan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan langsung pergi," ucap Ryan.


"Terima kasih Pak, terima kasih untuk semuanya," balas Alika pula. Hanya kata itu lah yang ingin dia ucapkan kepada sang CEO.


Dan Ryan makin tak berkutik mendengar kalimat tersebut.


"Hem," jawab Ryan singkat.


Pria itu kemudian melangkah keluar seolah dia benar-benar pergi dari sana, padahal dia tidak benar-benar pergi. Kembali memutar badan dan melangkah perlahan kembali masuk ke ruangan tersebut.


"Bi," panggil Alika. Dia memanggil bi Santi ketika dirasa pak Ryan tak ada lagi di ruangan ini. Tangannya meraba dan bi Santi langsung menyentuhnya.


"Iya Al, bibi di sini," jawab bi Santi, dia telah menggenggam erat tangan Alika.


"Bi, dimana Erlan?" tanya Alika langsung, sungguh saat ini dia kembali diselimuti ketakutan.


Tidak, Alika tidak akan sanggup menangani hal itu. Dia belum siap terluka, Alika takut kecewa.


Pasalnya Erlan adalah satu-satunya harapan yang dia punya. Satu-satunya semangat yang dia miliki untuk bisa melanjutkan hidup ini.


Mungkin Erlan tidak menyadari, bahwa pria itu begitu berarti bagi Alika.


Dan mendengar pertanyaan itu, bi Santi sontak menoleh ke arah pak Ryan yang sejak tadi telah kembali.

__ADS_1


"Erlan pergi sebentar Al, sebentar lagi dia pasti kembali," jawab bi Santi.


"Pergi kemana? Kenapa dia tidak memberitahuku? dan bagaimana bisa pak Ryan ada di sini? apa Erlan yang memanggilnya?"


"Iya, tiba-tiba Erlan ada urusan mendadak ketika Pak Ryan datang. Karena itulah saat kamu membuka perban yang ada di ruangan ini pak Ryan bukan Erlan," jelas bi Santi. Sungguh, semua jawabannya itu hanyalah jawaban spontan yang ada di dalam benaknya.


Bukan sesuatu hal yang dia rencanakan.


Dan dari pembicaraan kedua wanita itu, hati Ryan lah yang paling tersakiti. Ryan kembali keluar dengan perlahan. Lalu kembali masuk dengan langkah yang lebih jelas.


"Sayang," panggil Ryan.


Ya Allah, batin pria itu pula. Tak menyangka jika hidupnya akan serumit ini. Bahkan dalam dirinya pun merasa punya 2 kepribadian pula, Ryan dan Erlan.


"Er," sahut Alika.


"Iya ini aku, maaf tadi tidak disini."


"Jahat, padahal aku sudah bisa melihat," kesal Alika.


"Maafkan aku."


"Ku pikir kamu pergi."

__ADS_1


"Itu tidak akan pernah terjadi."


Alika terdiam, merasa hangat saat Erlan menggenggam erat tangannya. Namun diantara diamnya itu, dia benar-benar merasa jika suara Erlan dan pak Ryan begitu mirip.


__ADS_2