Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 38 - Jangan Pergi Lagi


__ADS_3

Semalaman ini Ryan jadi benar-benar tidak tenang. Terus terpikirkan bagaimana caranya agar Alika tidak bingung.


Satu-satunya yang terpikir di dalam benaknya adalah ada orang lain yang menjelaskan tentang kebenaran ini kepada Alika.


Dan satu-satunya yang bisa dia harapkan kini adalah bi Santi.


Waktu itu jam 9 malam.


Alika sudah tertidur pulas. Jadi Ryan melepaskan genggaman tangannya pada sang kekasih dan berbalik menatap bi Santi yang duduk di sofa.


Ryan lantas menghampiri sang pelayan.


"Bi," panggil Ryan lirih.


Bi Santi paham betul apa yang membuat wajah sang majikan terlihat bersedih seperti itu.


"Saya harus bagaimana Pak?" tanya bi Santi, seketika bicara dengan nada hormat karena merasa saat ini di hadapannya adalah pak Ryan, bukan Erlan.


"Bisakah bibi membantu ku?" tanya Ryan, kedua matanya terlihat sayu, menatap penuh harap pada Bu Santi.


"Tentu saja, apapun perintah Anda pasti akan saya lakukan."


"Besok pagi, aku akan menunggu di luar jadi saat Alika membuka matanya dia tidak akan melihat Ryan atau pun Erlan, dan saat itu bisakah bibi menjelaskan semua kebenaran ini kepada Alika?" tanya Ryan pula.


Bi Santi langsung menganggukkan kepalanya tanda patuh.

__ADS_1


Apalagi Ryan pun berulang kali mengatakan bahwa dia tidak ada niat sedikitpun untuk mempermainkan Alika.


Semuanya spontan begitu saja, karena pikirnya Alika tidak akan nyaman berada di dekatnya yang sebagai sang CEO.


"Baik Pak, saya paham," jawab Bi Santi patuh.


Hanya inilah satu-satunya jalan yang terpikirkan oleh Ryan saat ini.


Kepalanya sudah buntu, sungguh tak kuasa melihat wajah Alika yang bingung seperti tadi.


Ryan kira semuanya akan mudah untuk dijelaskan, tapi nyatanya begitu sulit.


Ryan lupa untuk mengingat mental Alika sendiri, jelas dia akan terkejut.


Ryan dan bi Santi sama-sama tidak sadar jika pembicaraan mereka berdua didengar langsung oleh Alika.


Namun belum sempat dia memanggil Erlan lagi, Alika sudah lebih dulu mendengar Erlan bicara pada bi Santi.


Jantung Alika seketika berdegup tak karuan.


Kata per kata yang keluar dari mulut Erlan bisa dia dengar dengan jelas. Sebuah cerita yang seperti tak masuk akal.


Bagaimana bisa Erlan berubah jadi pak Ryan?


Tapi suara kedua pria itu benar-benar tak ada bedanya.

__ADS_1


Tidak, mana mungkin seperti itu. Batin Alika. Meski telinganya mendengar jelas, namun akal sehatnya selalu menolak. Selah berpikir itu hal yang mustahil.


Apa ini masih mimpi? Batin Alika, sungguh dia sangat gamang.


Namun lagi-lagi mendengar suara bi Santi yang bicara penuh tunduk pada kekasihnya.


Deg!


Pagi datang.


Alika masih betah diam dalam kebingungan yang luar biasa.


"Sayang," panggil Ryan.


"Aku pergi sebentar, kamu bersama bi Santi dulu ya," ucap Ryan lagi.


Alika menelan ludahnya dengan kasar, dia pikir ini tidak mungkin, tapi kenapa pagi ini Erlan hendak pergi sesuai rencananya semalam bersama bi Santi.


"Tidak, aku tidak mau kamu kemana-mana, kamu harus genggam tanganku terus," jawab Alika posesif, dia bahkan langsung menggenggam tangan Erlan dengan posesif, tak membiarkan pria ini pergi lagi.


"Tapi Al, aku ada urusan sebentar."


"Urusan apa? semalam kamu sudah tidak menemani aku, jadi sekarang jangan pergi lagi," putus Alika, dia benar-benar menggenggam tangan Erlan dengan kuat.


Hingga Ryan tak punya kesempatan lagi untuk pergi, sementara dokter Aresha sudah masuk ke dalam ruangan ini.

__ADS_1


Astagfirullah. Batin Ryan.


__ADS_2