Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 70 - Tidak Bisa Bohong


__ADS_3

Akhirnya pembicaraan di antara Oma Putri dan Ryan pun berakhir, di antara mereka berdua sama-sama merasakan hati yang lega.


Ryan yang merasa telah melepaskan semua beban, dan Oma Putri yang bersyukur Ryan tidak mencintai Diandra.


Bagi Oma Putri wajar saja jika Ryan memang mencintai Ajeng, ketulusan wanita itu seperti bisa menyentuh hati semua orang.


Dan sekarang Oma Putri pun makin bersyukur saat Ryan memilih Alika sebagai istri. Alika bukan hanya gadis yang cantik, dia pun begitu gigih untuk hidupnya dan memiliki hati yang lembut.


Ya Allah, tak ada kata lain lagi selain Alhamdulillah yang Oma Putri ucapkan. Dia benar-benar sangat mengharapkan kebahagiaan untuk anak-anaknya.


"Ya sudah, kamu istirahat lah, besok fitting baju pengantin dengan Alika," ucap Oma Putri seraya bangkit dari duduknya untuk keluar dari dalam kamar tersebut.


"Iya Oma," jawab Ryan patuh, pria itu juga ikut bangkit dan mengantarkan sang Ibu keluar dari dalam kamarnya.


Ryan juga masih berdiri di sana memperhatikan sang ibu yang berjalan menuju arah tangga untuk turun, ketika ibunya itu sudah tidak nampak lagi barulah dia masuk dan mengunci pintu.


Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sekarang masih jam 9 kurang 15 menit.


Daripada langsung tidur, Ryan putuskan untuk lebih dulu menghubungi sang calon istri.


Awalnya mau telepon biasa tapi kemudian hatinya berbisik untuk video call saja.


Melihat secara langsung wajah Alika terasa lebih menyenangkan bagi pria yang sedang kasmaran itu.

__ADS_1


Tut Tut Tut! teleponnya mulai tersambung.


Sementara di ujung sana, Alika begitu ragu untuk menjawabnya. Dia malu dan gelagapan. Pasalnya saat ini Alika sedang menggunakan baju tidur yang cukup seksi, hanya ada tali kecil sebagai penyangga baju itu, pundak dan punggungnya terbuka.


Malam ini cuaca memang cukup panas, apalagi di rumah Alika tidak ada AC, jalan satu-satunya ya menggunakan baju tidur yang seperti ini.


"Ya Allah, ini bagaimana, aku harus ganti baju dulu, tapi kalau terlalu lama jawabnya nanti mati." Alika cemas sendiri.


Akhirnya dia putuskan untuk menjawab telepon itu dan langsung diarahkan pada langit-langit kamarnya.


Ryan mengeryit bingung, dimana wajah kekasihnya.


"Assalamualaikum Mas, tunggu sebentar ya!" ucap Alika dengan suara yang terdengar berteriak, wanita itu meninggalkan ponselnya tergeletak di atas ranjang sementara dia berlari menuju lemari pakaian.


"Kamu sedang apa?" tanya Ryan, tapi Alika yang belum sempat merubah jadi mode loudspeaker, dia tidak bisa mendengar pertanyaan kekasihnya itu.


"Al," panggil Ryan.


"Alika," panggilnya sekali lagi dan barulah gambar di layar ponselnya bergerak dan berakhir menampakkan wajah Alika.


Gadis itu bernafas terengah, habis berlari.


"Maaf Mas, aku tadi ganti baju dulu," ucap Alika.

__ADS_1


"Ganti baju? kenapa harus ganti baju, kamu baru mandi di jam segini."


"Bukan seperti itu."


"Lalu?"


"Ga-ganti saja, tadi bajunya sedikit terbuka," balas Alika akhirnya, dia tidak bisa bohong dalam keadaan gugup begini. Jadi hanya bisa jujur dan menunjukkan wajahnya yang malu-malu.


Ya Allah, Alika malu sekali rasanya, kenapa pula harus jujur, pikirnya.


Tapi kata yang sudah terucap tidak bisa dia tarik lagi, jadi hanya mampu menggigit bibir bawahnya.


"Terbuka bagaimana?" tanya Ryan, sebuah pertanyaan yang makin membuat kedua pipi Alika jadi merah merona.


"Ya gitu lah," balas Alika.


Ryan langsung terkekeh pelan, nampak jelas jika saat ini kedua pipi Alika sedang bersemu merah.


"Masa aku lihat sedikit saja tidak boleh," ucap Ryan lagi.


"Maasss," kesal Alika.


Dan tawa Ryan jadi terdengar semakin jelas.

__ADS_1


__ADS_2