Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 42 - Apa Erlan Tampan?


__ADS_3

Tidak ada yang tau bahwa saat ini jantung Alika berdegup dengan hebat.


Setau bi Santi dan Ryan, Alika tersenyum seperti biasa.


Ryan sibuk membereskan kamar, sementara bi Santi menemani Alika duduk dan duduk di tepi ranjang.


Dengan kedua mata yang nampak hidup seperti itu, Alika terlihat sangat cantik. Cantik yang jadi berkali-kali lipat.


Bi Santi bahagia sekali atas kesembuhan Alika tersebut.


"Bagaimana Al, apa Erlan tampan?" bisik bi Santi.


Alika langsung mendelik ketika mendengar ucapan bi Santi tersebut. Alika bahkan reflek menyentuh tangan bi Santi dengan kuat.


'Bibi jangan bicara seperti itu,' ucap Alika, pelan sekali, nyaris hanya udara yang keluar dari mulutnya, tanpa suara.


Namun bi Santi bisa memahaminya dengan jelas.


Mengetahui bahwa Erlan adalah pak Ryan tentu membuat Alika terkejut, bi Santi paham. Tapi dia sungguh tidak ingin, kebenaran itu membuat hubungan Alika dan pak Ryan jadi berjarak.


Dia adalah saksi bagaimana pak Ryan yang berwajah dingin seketika berubah jadi begitu hangat.


Dan itu semua karena Alika.


Karena itu lah bi Santi pun sebisa mungkin menghidupkan kembali suasana hangat diantara mereka.

__ADS_1


Bi Santi tersenyum, "Dia bukan lagi pak Ryan yang seperti dulu, bukan lagi pria dengan wajahnya yang dingin. Tapi sekarang dia jadi pria yang sangat hangat, itu semua karena kamu Alika," bisik bi Santi pula.


Tidak sudah dia terus menggoda Alika.


Dan tiap kali mendengar bi Santi membicarakan tentang pak Ryan, Alika pun jadi semakin takut saja. Takut sang CEO menyadari bahwa saat ini telah jadi bahan pembicaraan mereka berdua.


Cemas dengan bi Santi, Alika pun jadi jadi berulang kali melihat ke arah pak Ryan. Cukup tercengang ketika melihat secara langsung pria dengan jabatan paling tinggi di perusahaan Aditama Air saat ini mengelap meja.


Deg!


Astaghfirullahaladzim, ya Allah, Apa aku yang membuat pak Ryan sampai mengelap meja seperti itu?


Astaghfirullah, bagaimana kalau sampai keluarganya tahu?


Pasti aku akan dimarah habis-habisan. pikir Alika.


"Pak- eh." Aduh! Alika jadi bingung bagaimana caranya Dia memanggil pria tersebut.


Dan suara Alika yang bicara Pak, didengar oleh Ryan. Pria itu lantas menghentikan semua aktivitas tangannya dan langsung menoleh ke arah sang kekasih.


Deg! Ya Allah, jantung Alika rasanya saat ini juga mau copot.


Seketika dia tergugu dan jadi tidak bisa bicara apa-apa.


Ryan kemudian berjalan mendekati ranjang.

__ADS_1


Bi Santi senyum-senyum saja melihat interaksi keduanya. Pak Ryan dan Alika sudah cukup lama bersama, tapi sekarang mereka berdua seperti sedang menjalani proses pendekatkan lagi.


Bagi bi Santi begitu lucu, tapi bagi Alika ini sangat mendebarkan.


Jantungnya berdetak lebih cepat dibanding ketika dia menghadapi Erlan.


"Apa? kamu memanggil ku?" tanya Ryan, padahal dia bicara dengan suara yang lembut, tapi entah kenapa di telinga Alika tetap saja terdengar mengerikan.


Glek! Alika menelan ludahnya dengan kasar. Coba memberanikan diri untuk membalas tatapan pria itu.


Dia menggigit bibir bawahnya, seperti ragu untuk bicara.


Sementara Ryan terus menatap, menunggu apa yang hendak diucapkan oleh gadis cantik ini.


"Apa?" tanya Ryan, karena Alika cukup lama diam. Dia lantas duduk di tepi ranjang. membuat keduanya jadi berjarak sangat dekat.


Deg deg! jantung Alika.


"Ti-tidak usah membersihkan ruangan ini. A-aku dan bi Santi bisa menanganinya."


"Kenapa aku tidak boleh membersihkan ruangan ini?"


Alika terdiam.


Lalu kaku saat pria ini tiba-tiba mengecup bibirnya dengan lembut.

__ADS_1


Cup!


__ADS_2