Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 53 - Bagaimana ini?


__ADS_3

Pembicaraan yang serius-serius telah berakhir. Kini bahkan posisi duduknya Sean sudah berpindah, dia menarik Tante Alika untuk duduk di samping ibunya, melihat lebih dekat adiknya yang gembul.


Sementara papa Reza sudah pamit untuk pergi menemani kakek Agung ke dokter mata.


"Kata papa, mama maunya punya anak perempuan, cantik seperti sahabat ku Sherina, tapi ternyata anaknya laki-laki, jadi tampan seperti aku," ucap Sean dengan penuh percaya diri.


Alika senyum ketika mendengar ucapan anak laki-laki itu, sementara kak Rilly langsung berlagak muntah.


Di dalam hatinya Alika membatin, bahwa sepertinya pria di rumah ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi.


Seperti pak Ryan, yang berulang kali selalu memuji dirinya sendiri bahwa dia adalah pria yang tampan.


Tapi memang seperti itu sih, pada kenyataannya calon suaminya tersebut memanglah pria yang tampan, sangat tampan malah.


"Iya iya iya, anak pertama mama memang yang paling tampan," balas mama Ajeng.


Sean kegirangan dan langsung mencium pipi sang ibu.


Gambaran keluarga bahagia yang membuat Alika jadi terus tersenyum.

__ADS_1


"Al, kamu mau keliling rumah ini, di belakang juga ada taman," ajak Ryan, dia juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan calon istrinya. Tidak ingin Alika hanya dikuasai oleh seluruh keluarganya.


"Heleh, mau lihat taman apa mau ajak Alika berdua-duaan?" sindir kak Rilly. Gadis yang hingga kini belum punya pacar itu paling sensitif tiap kali melihat kakak-kakaknya bermesraan dengan pasangannya masing-masing.


Rilly jadi merasa geli sendiri.


Beberapa tahun terakhir, mas Ryan terlihat begitu dingin. Tapi setelah mengenal Alika, pria itu mendadak hangat, persis seperti kakak pertamanya dulu ketika mendekati mbak Ajeng.


Rilly jadi bertanya-tanya sendiri di dalam hati, apakah benar cinta seperti itu? sampai bisa merubah kepribadian seseorang.


"Tidak usah Mas, aku di sini saja bersama mbak Ajeng dan Rilly," tolak Alika, dia tidak enak hati jika harus meninggalkan semua orang.


"Sean, temani Tante Alika," titah mama Ajeng pula pada sang anak.


"Baik Ma," jawab Sean patuh.


Jadilah Sean penengah diantara sepasang kekasih tersebut. Sean bahkan mengandeng tangan Tante Alika ketika mereka semua pergi ke taman belakang, sementara Ryan hanya mampu menatap kekasihnya digenggam oleh orang lain.


Alika jelas akan menolak dia jika ikut-ikutan seperti Sean.

__ADS_1


"Ya Allah, banyak sekali kataknya," kaget Alika ketika sudah tiba di sana.


"Ini Malvin," terang Sean dengan bangga. Namun penjelasan bocah tersebut makin membuat Alika tercengang, bagaimana bisa seekor katak saja diberi nama.


Dan raut wajah Alika yang terkejut seperti itu, benar-benar terlihat lucu di mata Ryan.


Saat Alika menatap ke arah pria itu, tatapan mereka jadi langsung bertemu dengan begitu intens.


Deg! jantung Alika jadi berdegup, buru-buru melihat ke arah Sean tidak ingin jadi semakin berdebar.


Alika juga tanpa sadar berulang kali merapikan rambutnya sendiri kebalik telinga, padahal rambutnya itu sejak tadi sudah rapi.


Dan Ryan yang melihat gelagat gugup Alika hanya mampu mengulum senyum, kalau bisa rasanya saat ini juga dia ingin menggigit wanita itu.


Saking gemasnya.


"Tante Alika mau pegang?" tanya Sean, seraya mengeluarkan Malvin dari dalam kandangnya.


Ha? Alika seketika tercengang, jujur saja dia sangat geli.

__ADS_1


Ya Allah bagaimana ini? Batin Alika, merana.


__ADS_2