
Pagi ini Diandra sudah membulatkan tekadnya untuk menemui sang mantan kekasih. Dia berdandan cantik sekali, tidak akan ada yang menduga bahwa dia adalah seorang janda.
Dengan senyum yang terukir di sudut bibirnya, Diandra mulai masuk ke gedung Aditama Air. Menurut salah satu kenalannya yang juga bekerja di sini, hari ini Ryan akan datang ke kantor.
Kabarnya Ryan datang untuk memastikan langsung perusahaan yang mulai beroperasi.
Dengan langkah anggunnya, Diandra pun melewati lobby dan segera menemui bagian resepsionis.
Dia adalah wanita yang sopan, jadi sebelum menemui pemilik gedung ini dia pastikan melalui prosedur yang benar.
Diandra tidak ingin menganggu jadwalnya Ryan. seprofesional itu Diandra.
"Apa aku bisa menemui pak Ryan sekarang?" tanya Diandra dengan sopan.
Karyawan resepsionis itu juga tau siapa Diandra, seorang pengusaha muda di bidang kuliner dan juga mantan sang Boss. Sekarang sudah jadi seorang janda.
Berita tentang para petinggi perusahaan ini sudah seperti rahasia umum. Semua orang mengetahuinya dari mulut ke mulut.
"Tunggu sebentar Nona, saya akan hubungi sekretaris beliau lebih dulu."
__ADS_1
Diandra mengangguk, disaat menunggu dia mengambil ponselnya di dalam tas dan memeriksa beberapa pesan.
"Maaf Nona, hari ini pak Ryan sangat sibuk. Beliau tidak bisa ditemui, apa ada ingin saya buatkan jadwal temu?" tanya karyawan wanita tersebut.
Diandra terdiam, tidak langsung menjawab.
"Sebenarnya aku tidak butuh waktu lama, hanya ingin bertemu sebentar. Apa aku bisa mendapatkan nomor ponsel pribadinya?" tanya Diandra pula, lama tidak berkomunikasi, dia telah kehilangan nomor ponsel Ryan.
"Bisa Nona, akan saya catatkan," ucap Karyawan tersebut. Padahal seharusnya dia tidak boleh melakukan itu tanpa izin asisten Romi ataupun sekretarisnya Ryan.
Tapi karena tidak enak hati dengan Diandra yang begitu sopan, dia langsung saja mencatatkan nomor ponsel itu.
Pikirnya tidak masalah, apalagi nona Diandra dan pak Ryan masih berteman.
Diandra tersenyum dan menerimanya dengan senang hati.
Dia lantas pergi dari sana dan duduk di kursi tunggu, saat itu juga Diandra putuskan langsung menghubungi Ryan.
Tut tut tut, sambungan telepon itu tersambung. Bunyinya begitu teratur namun lama tak kunjung di jawab oleh Ryan.
__ADS_1
Di lantai 5 gedung ini, tepatnya di ruangan CEO, Alika menatap ponsel Ryan yang terus bergetar.
Pagi tadi Ryan mengajaknya untuk datang ke kantor. Ketika datang sempat membuat heboh semua orang, karena akhirnya Alika sembuh pasca kecelakaan waktu itu.
Meski selama ini Alika tidak memiliki kedekatan dengan karyawan yang lain tapi tadi saat pertemuan pertama mereka semuanya saling memberi sambutan hangat.
Apalagi ada pak Ryan pula, makin membuat suasana jadi haru karena kini mereka semua akhirnya bisa kembali bekerja.
Tapi dari pertemuan itu belum ada satu pun yang tau bahwa Alika adalah calon istri sang CEO.
"Mas, ponsel kamu dari tadi bergetar terus, ada telepon," ucap Alika ketika akhirnya melihat Ryan keluar dari dalam kamar mandi.
"Siapa? angkat saja," balas pria itu dengan santainya.
Alika mencebik, mana berani dia menjawab telepon pria itu. Takut salah.
"Tidak tahu, nomor baru, nih angkat," balas Alika pula, dia mengambil ponsel itu yang tergeletak di atas meja kerja calon suaminya, dan mengulurkannya pada Ryan.
Tapi lagi-lagi Ryan malah menolak.
__ADS_1
"Angkat saja, aku mau minum dulu."
Astaghfirullahaladzim, batin Alika. Pria itu tersenyum gennit dan melengos mengambil minum di meja sofa.