Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 25 - Takut Ketahuan


__ADS_3

Dengan bibir yang sama-sama mengukir senyum, akhirnya Ryan dan Alika kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk menemui dokter Aresha.


Sebelumnya mereka sudah membuat janji temu, jadi keduanya bisa langsung konsultasi tanpa adanya administrasi lebih dulu.


Di dalam ruangan dokter tersebut, Alika mulai menjalani beberapa pemeriksaan. Menggunakan Senter mata LED, dokter Aresha pun mulai menyorot kedua mata itu secara bergilir.


Alika hanya bisa melihat sedikit cahaya di gelapnya pandangan itu, namun semakin dia berusaha melihat yang ada mata itu justru terasa sakit.


Namun Alika tak menunjukkan rasa sakitnya itu, dia tahan dalam diam.


"Apa ada sesuatu yang bisa kamu Lihat Alika?" tanya dokter Aresha.


Alika menganggukkan kepalanya kecil. di bawah meja itu, Ryan pun langsung menggenggam tangan Alika erat. memberikan dukungan dari sentuhan tersebut.


"Seberapa rinci cahaya yang kamu lihat?"


"Buram, sakit," jawab Alika akhirnya. kata Erlan dia harus menceritakan semua yang dia rasa agar pengobatan ini bisa berjalan dengan baik.


"Baiklah, tidak apa-apa, semuanya baik," terang Aresha kemudian.

__ADS_1


Dia lantas menatap ke arah Ryan, meminta petunjuk apakah hasilnya bisa diutarakan disini saja atau dibelakang Alika.


Mengingat kondisi mental Alika yang begitu lemah saat keluar dari rumah sakit beberapa waktu lalu.


Namun Ryan menganggukkan kepalanya kecil, tak apa dikatakan disini. Dia sangat yakin Alika pun telah siap.


Dan melihat pergerakan kepala Ryan itu, dokter Aresha pun setuju.


Di awal dokter Aresha menjelaskan kondisi mata Alika yang telah rusak, tapi kebutaaan yang dialami oleh Alika karena cidera, bukan kebutaan permanen, jadi masih bisa diobati dengan jalan operasi.


Dan Alika yang mendengar semua itu seketika membuang nafasnya dengan lega. Dia kira kebutaan ini akan dialaminya seumur hidup, untunglah ternyata masih ada jalan.


"Kamu harus mejalani operasi mata Al, tapi belum bisa kita pastikan kapan, aku akan koordinasikan dulu dengan Bank Mata, jika di sana ada maka operasinya bisa dilaksanakan lebih cepat," terang dokter Aresha.


Semua itu dalam kendali Bank Mata kemudian berkoordinasi dengan pihak rumah sakit.


Cukup lama mereka berada di sana untuk membahas tentang operasi tersebut. Jika Bank Mata yang ada di sini kosong, maka Ryan bisa mencarinya di bank Mata negara lain. Atau terus menunggu sampai ada kornea yang bisa di donorkan pada Alika.


Banyak solusi jadi Alika tidak perlu khawatir.

__ADS_1


Terlebih Erlan terus memberinya kekuatan, melalui genggaman tangan yang erat, elusan lembut di punggung dan terus melakukan sentuhan yang membuatnya merasa tidak sendiri.


Jam 11 siang baru mereka keluar dari ruangan dokter Aresha.


Senyum di bibir Alika makin terukir lebar, seperti banyak angin segar yang menerpa wajahnya.


Jadi lebih berseri-seri.


Alika bahkan tanpa sadar memeluk lengan Erlan dengan kuat, seraya berjalan beriringan.


Tongkat Alika tadi kini Ryan yang bawa.


Dan sekarang malah jadi Ryan yang bingung sendiri, bagaimana menjelaskan pada Alika nanti bahwa dia bukanlah Erlan melainkan Ryan.


"Er, kenapa diam saja? kamu takut ketahuan ya?" tanya Alika, bicara dengan bibir yang masih setia tersenyum.


"Ketahuan apa?" balas Ryan pula, wajahnya nampak cemas.


"Ketahuan kalau ternyata kamu jelek."

__ADS_1


"His! aku sangat tampan!" kesal Ryan.


Alika terkekeh.


__ADS_2