Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 34 - Sengaja Mengintimidasi


__ADS_3

Cukup lama pembicaraan diantara Ryan dan Oma Putri hingga akhirnya terputus.


Ada rasa lega di hati Ryan saat mendapatkan dukungan dari Oma Putri tentang hubungannya dengan Alika.


Jadi kalau gadis itu marah, dia bisa langsung meminta bantuan Oma Putri untuk maju.


Hampir jam 11 siang akhirnya operasi yang dijalani oleh Alika berakhir.


Lampu merah tanda operasi sedang berlangsung kini sudah berubah jadi hijau, tanda jika operasi itu telah selesai.


Ryan yang sejak tadi memperhatikan lampu tersebut pun sontak bangkit dari duduknya. Berdiri dengan gelisah menunggu sang kekasih keluar dari ruangan tersebut.


Alika bukan lagi duduk di kursi roda, namun kini dia telah tertidur di atas ranjang dorong.


Dia langsung ikut menggenggam tangan Alika seiring ranjang dorong tersebut di bawa ke ruang rawat Alika.


Saat itu Alika masih dalam keadaan sadar, dia bahkan membalas genggaman tangan Erlan.


Tiba di ruang rawat, dokter Aresha baru mengatakan hasil operasi tersebut.


"Semuanya lancar, nanti malam kita bisa buka perban di mata Alika," ucap dokter Aresha.


Ryan langsung tersenyum lebar, belum apa-apa dia sudah tidak sabar menunggu malam datang.


"Terima kasih Dok," jawab Ryan.

__ADS_1


Setelahnya dokter Aresha menjelaskan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh Alika pasca operasi mata tersebut.


Ryan mendengarkan dengan seksama, menghapalkannya baik-baik.


Entah sudah berapa kali dia menganggukkan kepala mengiyakan ucapan sang dokter.


Andai Alika bisa melihat itu akan jadi pemandangan yang lucu di matanya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi pamit pergi," ucap dokter Aresha setelah dirasa tugasnya sudah cukup menangani Alika.


Dia juga menggenggam tangan Alika sebelum benar-benar keluar dari ruangan ini, memberikan dukungan pada sang pasien.


Kini di dalam ruangan itu hanya Alika dan Ryan saja.


Bi Santi rencananya nanti akan datang dengan membawa makan siang untuk mereka berdua.


"Hem, sekarang jam berapa?" tanya Alika.


"Jam 11, kita hanya tinggal menunggu 9 jam untuk membuka perban mata mu," jawab Ryan.


"Terima kasih Er."


"Kenapa tiba-tiba bilang terima kasih?"


Alika tersenyum kecil.

__ADS_1


"Di dalam ruangan operasi tadi aku pikir kamu tidak akan menunggu ku."


"Bodoh, kenapa berpikir seperti itu?"


Alika tersenyum lagi, jujur saja dia selalu takut jika Erlan pergi.


"Sebenarnya aku selalu takut, kalau aku sembuh kamu tiba-tiba menghilang, tiba-tiba pergi tanpa penjelasan," terang Alika, tapi saat mengatakan kalimat itu bibirnya tersenyum.


Senyum untuk menyembunyikan ketakutan yang ada di dalam hatinya.


Meskipun mereka berdua sudah saling mengucapkan kata cinta, tapi tetap saja rasa takut tentang Erlan yang tiba-tiba pergi selalu mengganggu hati Alika.


Entahlah, selalu terpikir tentang hal itu.


"Pikiranmu terlalu jauh, Apa kamu tidak percaya padaku?" balas Ryan, menjawab dengan sebuah pertanyaan dan suara terdengar dingin.


Dan Alika bisa merasakan itu, Erlan jelas merasa tak suka dengan semua tuduhannya.


"Maaf Er, buka maksudku seperti itu."


"Cukup, sekarang berjanji lah satu hal padaku. Bahwa apapun yang terjadi nanti setelah kamu bisa melihat, kita akan segera menikah," balas Ryan.


Dia memang sengaja mengintimidasi Alika lebih dulu, membuat Alika lebih dulu merasa bersalah hingga tidak akan bisa menolak apa permintaannya kali ini.


"Iya," balas Alika pasrah.

__ADS_1


Dan saat itu juga Ryan langsung bersorak di dalam hatinya.


__ADS_2