
Sudah sepakat untuk segera menikah setelah Alika sembuh, membuat Ryan jadi tidak sabar membuka perban di kedua mata sang kekasih.
Waktu sebenarnya berjalan dengan normal, tapi bagi pria itu rasanya lama sekali.
Setelah makan siang bersama, Alika merasa sangat mengantuk.
"Er," panggil Alika, di sana juga sudah ada bi Santi.
"Kenapa sayang? ini masih jam 2," jawab Ryan, hanya tentang waktu lah yang memenuhi isi kepalanya.
"Aku ngantuk," balas Alika.
"Tidurlah," jawab Ryan, dia duduk di kursi pinggir ranjang dan segera menggenggam erat tangan Alika.
Sesekali mencium punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang.
Bi Santi yang melihatnya kadang malu sendiri. Lebih baik pura-pura tidak melihat.
Tidak butuh waktu lama, Alika pun terlelap, tangannya digenggam erat begini terasa begitu nyaman baginya.
Entahlah, semakin hari dia selalu merasa cintanya pada Erlan semakin besar saja.
Apalagi ketika membicarakan tentang pernikahan, Alika selalu tidak sabar untuk mewujudkannya.
Bahkan kini di alam mimpinya pun, dia sedang menggelar acara pernikahan dengan seorang pria, pria yang wajahnya nampak buram.
__ADS_1
Tapi seperti itu saja Alika sudah tersenyum.
Senyum yang bahkan mampu dilihat oleh Ryan yang duduk di sampingnya.
"Mimpi apa kamu? sampai tersenyum-senyum seperti itu?" gumam Ryan, dia tersenyum merasa lucu dengan tingkah Alika itu.
Deru nafasnya terdengar teratur menandakan bahwa dia telah tidur, tapi Alika malah tersenyum.
"Alika pasti mimpi bisa bertemu dengan kamu secara langsung," ucap bi Santi. dia mendengar gumaman sang majikan.
Dan mendengar itu Ryan pun tersenyum kikuk. Bingung mau senang atau bagaimana.
"Kira-kira bagaimana ya bi tanggapan Alika?" tanya Ryan, mendadak takut dan ragu.
Sementara waktu semakin mendekati angka jam 8 malam.
Dan waktu pun benar-benar bergulir.
Ketika jam 8 malam akhirnya tiba, Semua orang merasakan kegugupan yang sama.
Alika jadi sangat takut untuk membuka matanya, takut ketika mata itu sudah terbuka dan ternyata hanya gelap yang kembali Dia lihat.
jantungnya berdegup tidak karuan, sungguh dia tidak ingin mengecewakan Erlan.
Menghancurkan semua rencana-rencana yang sudah mereka buat.
__ADS_1
Sementara Ryan, hanya bisa pasrah dengan semuanya.
Sekarang ini dia berdiri di sini bukan lagi sebagai seorang pelayan yang bernama Erlan, melainkan sebagai kekasih Alika dengan jati dirinya yang sesungguhnya, Ryan.
"Kita buka perbannya ya? Alika tenang, jangan gugup," ucap dokter Aresha. Di sampingnya ada 2 perawat yang mendampingi.
Dengan bantuan gunting akhirnya dokter Aresha mulai meninggalkan perban tersebut.
Perlahan-lahan sampai akhirnya kedua mata Alika benar-benar terlepas dari peran itu.
Tapi Alika masih memejamkan mata, belum berani untuk membukanya.
"Oke, sekarang coba bukanlah mata mu Alika, pelan-pelan saja," titah sang dokter.
Ya Allah. Batin Alika, dulu dia paling membenci ketika menyebut nama Tuhan. Namun kini dia selalu menemukan ketenangan di dalam hatinya tiap kali menyebut-Nya.
Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, akhirnya Alika perlahan membuka kedua mata itu.
Pelan-pelan sampai akhirnya dia bisa melihat bias cahaya lampu di ruangan tersebut.
Deg! jantung Alika makin berdegup, rasanya bahagia sekali.
Orang pertama yang ingin dia lihat adalah Erlan.
Namun siapa sangka, yang dia lihat malah pak Ryan.
__ADS_1
Deg!