
Di dalam mobilnya, Diandra langsung tersenyum kecil, senyum yang nampak begitu anggun. Senyum yang cukup lama terukir di bibirnya.
Dia membuang nafasnya dengan perlahan, puas sekali rasanya setelah mendapatkan apa yang dia mau, dengan bukti rekaman ini dan beberapa foto yang diambil oleh sang supir Diandra yakin keluarga Aditama akan berpikir dua kali untuk mempersunting gadis licik tersebut.
"Langkah gadis-gadis seperti dia memang harus segera dihentikan, jika tidak dia pasti akan jadi benalu untuk orang-orang kaya," gumam Diandra.
"Lebih cepat lagi ya pak," ucap Diandra pula pada sang supir. Ingin laju mobil mereka lebih cepat, sebelum malam menjelang Diandra ingin segera menyampaikan tentang rekaman ini pada seluruh keluarga Aditama.
Dia tidak ingin mengulur-ngulur waktu, tidak ingin wanita itu lebih dulu sampai di sana dan merusak semua rencananya.
Hingga detik ini Diandra masih yakin, jika hubungannya dengan Ryan masih bisa diperbaiki. mereka hanya perlu bertemu dan saling berbicara dari hati ke hati, Karena itulah sebelum memulai semuanya Diandra akan mengusir semua hama-hama pengganggu, seperti Alika.
Sore itu tanpa segan sedikit pun Diandra turun dari dalam mobilnya ketika sudah tiba tepat di halaman rumah keluarga Aditama. Dia memandang rumah yang sudah cukup lama tidak dia datangi.
Ada rindu yang jelas dia rasakan di dalam hatinya.
Semenjak berakhir hubungannya dengan Ryan, dia tidak pernah lagi menginjakan kaki di sini.
Tapi sekarang Diandra sungguh tidak merasa sungkan, baginya ini juga sudah seperti rumahnya juga. Mengingat bagaimana baiknya semua orang di keluarga tersebut, terutama Oma Putri.
Dia masih ingat dengan jelas ketika di hari pernikahannya Oma Putri memeluk dia dan mengatakan bahwa akan tetap menganggap Diandra sebagai anak.
Lagi-lagi ada senyum yang terukir dengan jelas di bibir wanita itu.
__ADS_1
Segera melangkahkan kaki dan menuju pintu rumah, menekan bell beberapa kali dan menunggu hingga tak butuh waktu lama akhirnya pintu itu pun terbuka.
Seorang pelayan membukakan pintu untuknya.
"Mbak Diandra, silahkan masuk mbak," ucap pelayan itu dengan ramah, dia juga membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Diandra untuk masuk.
"Terima kasih Bi," balas Diandra tak kalah ramah.
"Apa semua orang ada di rumah Bi?" tanya Diandra pula.
"Maaf Mbak, tidak ada siapa-siapa di rumah. Pak Reza dan ibu Ajeng sedang pergi untuk periksa kandungan, Sean dan adiknya juga ikut. Kakek Agung menemani Oma Putri untuk mengurus pernikahan om Ryan, kak Rilly belum pulang dari kantor. Kalau om Ryan sendiri dia sudah tidak tinggal di rumah ini lagi," jelas pelayan itu panjang lebar.
Sebuah penjelasan yang membuat senyum Diandra jadi hilang, karena rencananya jadi terulur.
Diandra lantas melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, saat itu waktu sudah menunjukkan jam 5 sore kurang 15 menit.
"Bi, aku sudah tidak punya nomor ponsel Oma Putri, apa aku boleh memintanya?" tanya Diandra.
Pelayan itu pun langsung menganggukkan kepalanya tadi setuju, sikap Diandra yang begitu sopan membuatnya tak segan untuk memberikan nomor ponsel Oma Putri pada wanita itu.
Dia yakin Oma Putri pun akan setuju.
Dan setelah mendapatkan nomor ponsel oma Putri barulah Diandra pergi dari sana.
__ADS_1
Tapi seperti takdir sedang berpihak padanya, ketika Diandra keluar dari rumah itu tiba-tiba dia melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumah ini. Berhenti tepat di belakang mobilnya, lalu turun lah Oma Putri dan kakek Agung.
Deg! Jantung Diandra berdegup, senang dan rindu yang jadi satu.
Diandra bahkan langsung berlari menghampiri Oma Putri.
"Oma," panggil Diandra dengan lembut, Diandra bahkan langsung memeluk Oma Putri erat-erat.
Sementara kakek Agung yang melihat itu langsung mengerutkan dahi, firasatnya tidak enak. Bagaimanapun Diandra adalah mantan kekasih anaknya, dan Diandra datang ke rumah ini disaat mereka sedang mempersiapkan pernikahan Ryan dan Alika.
"Ayo masuk," ajak Oma Putri lagi, dan Diandra langsung mengangguk dengan antusias.
Mereka saling tukar kabar, sampai akhirnya sama-sama duduk di ruang tengah.
"Di, kakek langsung masuk ya, kakek sudah lelah sekali," pamit kakek Agung, dia memang lelah, terlebih merasa tak nyaman ada Diandra disini.
"Tunggu sebentar Kek, ada yang ingin aku katakan, ini penting," cegah Diandra. Mendadak jadi sangat egois. Tak peduli meski kakek Agung lelah, tapi dia tetap menahannya.
Terpaksa kakek Agung menuruti.
Dan setelah itu Diandra pun segera memutar rekaman yang dia punya. Sebuah rekaman tentang suara Alika yang terdengar begitu sombong bahwa bisa mendapatkan harta lebih setelah menikah dengan Ryan.
Deg! Oma Putri dan kakek Agung tentu sangat terkejut, mereka bahkan langsung saling pandang.
__ADS_1
Sementara Diandra langsung tersenyum lebar.
Habis riwayat mu Alika, batin Diandra.